Ikut nimbrung. Benar bahwa dulu pada waktu jaman Belanda pendidikan di 
Indonesia tidak banyak bedanya dgn pendidikan di Belanda atau di luar negeri 
lain. Tetapi sesudahnya, perkembangan science dan technology berkembang terus 
dan sangat cepat sedari 30 tahun yg lalu. Dan perkembangan ini tidak bisa di 
ikuti oleh Indonesia dan ini antara lain karena riset di Indonesia tidak 
berkembang. Di bidang yg saya pelajari, saya belum pernah melihat publikasi 
dari Indonesia dimajalah internasional atau luar negeri/LN. Padahal saya pernah 
melihat publikasi dari Thailand, Singapore, Korea Selatan, Malaysia. Tentunya 
yg paling banyak dari Asia adalah dari Jepang dan Tiongkok. Selain kemacetan 
ilmu, juga kemacetan dalam praktisnya. Contoh: dulu kalau orang sakit di obati 
di Indonesia atau di LN, ya tidak banyak bedanya.Tetapi sekarang lain, 
misalnya, sampai sekarang operasi transplansi jantung, hati, pankreas, jantung 
dan paru2 sekali gus belum ada di Indonesia. Juga radiosurgery, Gamma-knife 
radiation, "operasi janin yg masih dalam kandungan" dan banyak prosedur lain yg 
tidak bisa dilakukan di Indonesia. Padahal prosedur 2 tsb diatas sudah prosedur 
rutin di banyak negara di LN. Masih ingat Prof. Barnard dari Afrika Selatan, 
sudah melakukan tranplantasi jantung  kira2 40 tahun yg lalu! Transplansi 
jantung sudah rutin di negara2 maju. Sebetulnya perdebatan titel Dr versus PhD 
dll  dari berbagai negara tidak sepenting seperti apa yg bisa dilakukan di 
negara yg bersangkutan secara praktis. 

Kirim email ke