Pengalaman saya waktu di Indonesia dokter2 disana seakan "pintar sekali",
semua penyakit apapun ditangani sendiri, cuman pake stetoskop sudah tahu sakit
yg diderita, bahkan dokter umum ikut mengobati kanker, tidak tahu kenapa tetapi
rasanya gengsinya besar sekali kalau ada pasien yg minta second opinion
kedokter lain sepertinya marah tersinggung. Begitulah pokoknya serba bisa.
Sedangkan di US ini dokternya serba "gak bisa apa2" kalau ke primary care
provider juga dokternya kayak bloon nggak tahu apa2 sebentar2 disuruh dulu ke
lab periksa darah ini itu segala macam di ronsen dlsb macem2 banget, setelah
itu baru dokternya telpon kasih tahu hasil pemeriksaan lab negatif dus orangnya
sehat2 tidak sakit seperti yg dikira. Seandainya ada gejala langsung saja di
refer ke specialist yg memeriksa lebih lanjut.
Pasien Indonesia sering2 ngedumel ke dokter kok nggak di-apa2in kok gak
disuntik gak dibukain resep gak kayak di Indonesia ya katanya, bahkan
seringkali cuman disuruh beli obat di counter gak pake resep, ngapain kedokter
katanya. Ha ha ha begitulah kurang lebih perbedaannya.
On Tuesday, January 23, 2018, 1:56:29 AM PST, [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> wrote:
Ikut nimbrung. Benar bahwa dulu pada waktu jaman Belanda pendidikan di
Indonesia tidak banyak bedanya dgn pendidikan di Belanda atau di luar negeri
lain. Tetapi sesudahnya, perkembangan science dan technology berkembang terus
dan sangat cepat sedari 30 tahun yg lalu. Dan perkembangan ini tidak bisa di
ikuti oleh Indonesia dan ini antara lain karena riset di Indonesia tidak
berkembang. Di bidang yg saya pelajari, saya belum pernah melihat publikasi
dari Indonesia dimajalah internasional atau luar negeri/LN. Padahal saya pernah
melihat publikasi dari Thailand, Singapore, Korea Selatan, Malaysia.. Tentunya
yg paling banyak dari Asia adalah dari Jepang dan Tiongkok. Selain kemacetan
ilmu, juga kemacetan dalam praktisnya. Contoh: dulu kalau orang sakit di obati
di Indonesia atau di LN, ya tidak banyak bedanya.Tetapi sekarang lain,
misalnya, sampai sekarang operasi transplansi jantung, hati, pankreas, jantung
dan paru2 sekali gus belum ada di Indonesia. Juga radiosurgery, Gamma-knife
radiation, "operasi janin yg masih dalam kandungan" dan banyak prosedur lain yg
tidak bisa dilakukan di Indonesia. Padahal prosedur 2 tsb diatas sudah prosedur
rutin di banyak negara di LN. Masih ingat Prof. Barnard dari Afrika Selatan,
sudah melakukan tranplantasi jantung kira2 40 tahun yg lalu! Transplansi
jantung sudah rutin di negara2 maju. Sebetulnya perdebatan titel Dr versus PhD
dll dari berbagai negara tidak sepenting seperti apa yg bisa dilakukan di
negara yg bersangkutan secara praktis.