RALAT:  Prof. Christiaan Barnard melakukan transplantasi jantung bukan kira2 40 
tahun yg. lalu tetapi 50 tahun yg. lalu yaitu pd. tahun 1967.
 

 Setahun kemudian, in 1968,  Dr. Denton Cooley melakukan transplantasi jantung 
di Amerika. Dan sekarang, transplantasi jantung, dilakukan di negara2 maju 
secara mudah/rutin. Masalahnya, cuma kekurangan jantung organ donor. Tentunya 
lebih sulit melakukan transplantasi jantung dan paru2 (heart-lung 
transplantation) sekaligus.
 

 Di Indonesia, setahu saya sudah bisa dilakukan transplantasi ginjal, tetapi 
belum bisa dilakukan transplantasi jantung yg. lebih sulit. Masalahnya, bukan 
saja teknik operasinya, tetapi masalah post-operative care (logistic-nya), 
organ rejection (Immunology) dll. Jadi Indonesia di bidang ini, paling sedikit 
sudah ketinggalan 1/ 2 abad atau 50 tahun dimana transplantasi jantung sudah 
dimulai pada tahun 1967/1968. 
 

 Kita bisa melihat prosedur2 medik yg. bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan 
di Indonesia, Penang (Malaysia), Singapur utk. perbandingan. Dan tidak perlu 
perlu melihat ke negara di Eropa atau Amerika, yg. tentunya lebih atau jauh 
lebih  maju.

 

 Jadi cuma basa-basi saja perdebatan ttg. kehebatan pendidikan kedokteran atau 
titel dokter/ di Indonesia dan Amerika. 
 

 BH Jo
 
 
---In [email protected], <bhjo@...> wrote :

 Ikut nimbrung. Benar bahwa dulu pada waktu jaman Belanda pendidikan di 
Indonesia tidak banyak bedanya dgn pendidikan di Belanda atau di luar negeri 
lain. Tetapi sesudahnya, perkembangan science dan technology berkembang terus 
dan sangat cepat sedari 30 tahun yg lalu. Dan perkembangan ini tidak bisa di 
ikuti oleh Indonesia dan ini antara lain karena riset di Indonesia tidak 
berkembang. Di bidang yg saya pelajari, saya belum pernah melihat publikasi 
dari Indonesia dimajalah internasional atau luar negeri/LN. Padahal saya pernah 
melihat publikasi dari Thailand, Singapore, Korea Selatan, Malaysia. Tentunya 
yg paling banyak dari Asia adalah dari Jepang dan Tiongkok. Selain kemacetan 
ilmu, juga kemacetan dalam praktisnya. Contoh: dulu kalau orang sakit di obati 
di Indonesia atau di LN, ya tidak banyak bedanya.Tetapi sekarang lain, 
misalnya, sampai sekarang operasi transplansi jantung, hati, pankreas, jantung 
dan paru2 sekali gus belum ada di Indonesia. Juga radiosurgery, Gamma-knife 
radiation, "operasi janin yg masih dalam kandungan" dan banyak prosedur lain yg 
tidak bisa dilakukan di Indonesia. Padahal prosedur 2 tsb diatas sudah prosedur 
rutin di banyak negara di LN. Masih ingat Prof. Barnard dari Afrika Selatan, 
sudah melakukan tranplantasi jantung kira2 40 tahun yg lalu! Transplansi 
jantung sudah rutin di negara2 maju. Sebetulnya perdebatan titel Dr versus PhD 
dll dari berbagai negara tidak sepenting seperti apa yg bisa dilakukan di 
negara yg bersangkutan secara praktis.


Kirim email ke