Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang.
Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan 
pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu 
Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di Indonesia 
bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar di Stanford, 
UC Berkeley, dlsb. He he he he.
---Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air 
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua 
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.
....Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak 
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah 
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.
....

Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia

Selasa 24 April 2018 13:50 WIB

Red: Ratna Puspita

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor Dr Ali 
Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.

Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar negeri.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 
menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di kampus-kampus di 
Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan mengundang profesor kelas 
dunia.





Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian program 
World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor kelas dunia,” 
kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron 
Mukti di Jakarta, Selasa. 

Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen asing 
yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang Indonesia pun 
bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di universitas di luar negeri 
dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata dia..





Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air 
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua 
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.





"Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah ada 
70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang profesor," 
katanya.





Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan 
penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata Ghufron, 
para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada dosen-dosen di 
Tanah Air.





Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. Kemenristekdikti 
membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak 4.000 dolar Amerika 
Serikat atau Rp 52 juta.





"Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat," 
cetus dia.





Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal 
bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada tahun 
ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor kelas dunia ke 
Tanah Air.





Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak 
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah 
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.





Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, Malaysia 
dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab Saudi. 





“Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias pada 
program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada beberapa 
lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua namanya," kata 
Ghufron.


Sumber : Antara




Kirim email ke