Apa benar, guru besar di Amerika itu, gajinya hanya di bulan2 waktu mengajar saja ? Jadi banyak yang buat kursus2 waktu musim panas, untuk dapat gaji tambahan ? Kalau sambil vakantie, sambil ngajar, dapat sedikit gaji, masih lumayan ?
2018-04-27 20:37 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]>: > > > Progam yang sudah berjalan saya lihat diwebsite dikti tempo hari para > dosen asing itu hanya mengajar sekitar 1 bulan dan sifatnya adalah program > kerja sama, saya kira dosen asing itu masih berstatus dosen di negara asal > dan tetap menerima gaji dari universitas asal sedang duit yg dari Indonesia > cuman sekedar tambahan ala kadarnya. > > Di US gaji seorang professor berkisar 150-200 ribu pertahun, dan dalam > setahun mengajar 9 bulan, ini yg saya katakan typical. Jadi ada sekitar 3 > bulan tidak mengajar yg biasanya utk research atau bisa juga vacation. > Kalau bekerja di Indonesia selama 3 bulan window itu saya kira masih masuk > akal-lah hitung2 liburan pulang kampung (kalau asal dari Indonesia). > > Tidak tahu bagaimana jadinya bila dijadikan permanen selama 2 tahun, agak > tidak masuk akal bila dosen itu keluar dari universitas asal yg terkenal > dan fasilitas research memadai dengan gaji yg ber-lipat2 dibandingkan yg > ditawarkan Indonesia dan fasilitas reseach ala kadarnya/butut. > > > > > On Tuesday, April 24, 2018, 4:41:38 PM PDT, Karma, I Nengah [PT. BI-POS] < > [email protected]> wrote: > > > Supaya tidak sia-sia, sebaiknya perlu dievaluasi kegiatan yang sudah > berjalan ini. Kira-kira seberapa efektifnya dosen-dosen asing ini mengajar > didalam negeri. Jika tidak ada pengaruhnya mungkin perlu menyekolah > dosen-dosen ke luar negeri. > > Yan paling diperlukan saat ini yaitu dosen-dosen asing perlu membimbing > para dosen didalam negeri untuk penelitian terutama dibidang teknologi dan > pertanian. > > (Mesin, elektro, robot, teknologi pertanian, rekayasa genetika pada > tanaman dll) > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] > *Sent:* Wednesday, April 25, 2018 7:28 AM > *To:* Yahoogroups <[email protected]> > *Subject:* [**EXTERNAL**] [GELORA45] Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, > Tetapi Profesor Dunia > > > > > > Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang. > > > > Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan > pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu > Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di > Indonesia bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar > di Stanford, UC Berkeley, dlsb. He he he he. > > > > --- > > Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air > maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga > dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. > > ... > > Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak > berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang > sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada > program ini. > > ... > > > Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia > <http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/24/p7ogcl428-kemenristekdikti-bukan-dosen-asing-tetapi-profesor-dunia> > > Selasa 24 April 2018 13:50 WIB > > Red: Ratna Puspita > > [image: Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti > Profesor Dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.] > > *Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor > Dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.* > > > > *Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar > negeri.* > > REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan > Tinggi menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di > kampus-kampus di Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan > mengundang profesor kelas dunia. > > Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian > program World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor > kelas dunia,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti > Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Selasa. > > Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen > asing yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang > Indonesia pun bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di > universitas di luar negeri dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata > dia. > > Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air > maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga > dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. > > "Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah > ada 70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang > profesor," katanya. > > Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan > penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata > Ghufron, para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada > dosen-dosen di Tanah Air. > > Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. > Kemenristekdikti membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak > 4.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 52 juta. > > "Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat," > cetus dia. > > Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal > bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada > tahun ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor > kelas dunia ke Tanah Air. > > Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak > berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang > sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada > program ini. > > Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, > Malaysia dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab > Saudi. > > “Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias > pada program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada > beberapa lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua > namanya," kata Ghufron. > > Sumber : Antara > > > > > > > > > > > > >
