Recana Ali Ghufron sudah baik (in the right direction) utk. menarik profesor 
kelas dunia (bukan asal Indonesia) utk. mengajar di Indonesia. Tetapi 
logistic-nya harus baik, antara lain,: 

 * Pembayaran USD $5,000 sebulan tidak cukup utk. menarik mereka. Paling 
sedikit antara USD$15,000-20,000 sebulannya. Kalau profesor dari Amerika di 
bayar cuma USD $5,000, dia cuma terima bersih kira2 USD $3,500 (mesti bayar 
pajar ke IRS/Kanor Pajak Amerika walaupun bekerja di LN). Misalnya, tukang 
ledeng/plumber atau tukang listrik di AS, bisa mendapat lebih dari USD$ 5,000 
sebulannya (At the national level, plumbers make an average of a little over 
$55,000 per year).
 

 * Harus ada infrastructure yg. hebat utk. menarik profesor kelas dunia 
(termasuk Nobel Prize winner) seperti Singapore waktu membuat project 
"Biopolis" pd. tahun 2003. Pemerintah Singapore membangun komplex utk. project 
Biopolis seharga USD $500,000,000 pd. tahun 2003. Tiongkok juga berbuat seperti 
Singapore. Malahan diberitakan Tsinghua University di Beijing, telah 
mengalahkan MIT di Boston (yg. dulunya nomor 1/uno di dunia).
 

 * Peraturan pekerja asing harus belajar bhs. Indonesia (untungnya sudah di 
cabut adalah in the right direction) adalah peraturan yg. menunjukan 
"nasionalistis yg. kebablasan" di lihat dari segi utk. kemajuan negara. Di 
tingkat/suasana perguruan/tinggi bukan profesor nya harus bisa bhs. Indonesia 
tetapi student2-nya yg. harus bisa bhs. Inggris. Kuliah kalau bisa harus dalam 
bhs. Inggris sebab banyak istilah2 ilmiah yg. tidak ada dalam bhs. Indonesia.
 

 China bisa maju juga karena tidak menjalankan peraturan yg. nasionalistis 
kebablasan dan tidak ada inferiority complex. Misal, Guangdong Province 
https://en.wikipedia.org/wiki/Guangdong_Province has started requiring all 
students to take the English speaking exam for the National College Entrance 
Examination as of 2010. 

 

 * Faktor utk. keluarga dll, juga mesti ada seperti International School dlm. 
bhs. Inggris utk. anak2 mereka. Saya tahu di Jakarta sudah ada International 
School.
 

 BH Jo
 

 
---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :

 Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang.
 

 Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan 
pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu 
Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di Indonesia 
bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar di Stanford, 
UC Berkeley, dlsb. He he he he.
 

 ---
 Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air 
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua 
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.

 ...
 Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak 
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah 
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.

 ...
 

 Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia 
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/24/p7ogcl428-kemenristekdikti-bukan-dosen-asing-tetapi-profesor-dunia
 Selasa 24 April 2018 13:50 WIB

 Red: Ratna Puspita

 
 Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor Dr Ali 
Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.




 Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar negeri.
 
 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 
menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di kampus-kampus di 
Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan mengundang profesor kelas 
dunia.
 
 
 Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian program 
World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor kelas dunia,” 
kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron 
Mukti di Jakarta, Selasa. 
 Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen asing 
yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang Indonesia pun 
bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di universitas di luar negeri 
dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata dia.
 
 
 Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air 
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua 
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.
 
 
 "Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah ada 
70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang profesor," 
katanya.
 
 
 Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan 
penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata Ghufron, 
para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada dosen-dosen di 
Tanah Air.
 
 
 Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. Kemenristekdikti 
membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak 4.000 dolar Amerika 
Serikat atau Rp 52 juta.
 
 
 "Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat," 
cetus dia.
 
 
 Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal 
bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada tahun 
ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor kelas dunia ke 
Tanah Air.
 
 
 Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak 
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah 
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.
 
 
 Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, 
Malaysia dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab Saudi. 
 
 
 “Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias pada 
program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada beberapa 
lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua namanya," kata 
Ghufron.
 
 
 


 Sumber : Antara


 

 

 

 





Kirim email ke