Bung Djie, tugas seorang professor itu bukan hanya mengajar, pada umumnya mengajar berkisar 40% kemudian research juga 40% dan lagi services 20%. Tetapi pembagian ini tidak clear cut bisa bervariasi tergantung universitas atau fakultas masing2. Academic year lamanya 9 bulan dan umum juga gaji diberikan selama academic year (9 bulan) itu tetapi ada juga universitas yg membagi gaji dalam 12 bulan walaupun tetap saja academic year 9 bulan. Tentang pertanyaan "Kalau sambil vakantie, sambil ngajar, dapat sedikit gaji, masih lumayan ?" itu saya rasa relatif tiap orang, contoh yg saya beri dibawah dosen asal Indonesia sambil pulang kampung nyambi. Mungkin selain tambahan pendapatan yg kecil itu ada juga rasa bangga telah ikut berkontribusi memajukan pendidikan dinegara asal, suatu hal yg agak sukar penilaiannya.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote : Apa benar, guru besar di Amerika itu, gajinya hanya di bulan2 waktu mengajar saja ?Jadi banyak yang buat kursus2 waktu musim panas, untuk dapat gaji tambahan ?Kalau sambil vakantie, sambil ngajar, dapat sedikit gaji, masih lumayan ? 2018-04-27 20:37 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected]>: Progam yang sudah berjalan saya lihat diwebsite dikti tempo hari para dosen asing itu hanya mengajar sekitar 1 bulan dan sifatnya adalah program kerja sama, saya kira dosen asing itu masih berstatus dosen di negara asal dan tetap menerima gaji dari universitas asal sedang duit yg dari Indonesia cuman sekedar tambahan ala kadarnya. Di US gaji seorang professor berkisar 150-200 ribu pertahun, dan dalam setahun mengajar 9 bulan, ini yg saya katakan typical. Jadi ada sekitar 3 bulan tidak mengajar yg biasanya utk research atau bisa juga vacation. Kalau bekerja di Indonesia selama 3 bulan window itu saya kira masih masuk akal-lah hitung2 liburan pulang kampung (kalau asal dari Indonesia). Tidak tahu bagaimana jadinya bila dijadikan permanen selama 2 tahun, agak tidak masuk akal bila dosen itu keluar dari universitas asal yg terkenal dan fasilitas research memadai dengan gaji yg ber-lipat2 dibandingkan yg ditawarkan Indonesia dan fasilitas reseach ala kadarnya/butut. On Tuesday, April 24, 2018, 4:41:38 PM PDT, Karma, I Nengah [PT. BI-POS] <inengahk@...> wrote: Supaya tidak sia-sia, sebaiknya perlu dievaluasi kegiatan yang sudah berjalan ini. Kira-kira seberapa efektifnya dosen-dosen asing ini mengajar didalam negeri. Jika tidak ada pengaruhnya mungkin perlu menyekolah dosen-dosen ke luar negeri. Yan paling diperlukan saat ini yaitu dosen-dosen asing perlu membimbing para dosen didalam negeri untuk penelitian terutama dibidang teknologi dan pertanian. (Mesin, elektro, robot, teknologi pertanian, rekayasa genetika pada tanaman dll) From: [email protected] [mailto:GELORA45@yahoogroups. com] Sent: Wednesday, April 25, 2018 7:28 AM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang. Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di Indonesia bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar di Stanford, UC Berkeley, dlsb. He he he he. --- Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. .... Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini. .... Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia Selasa 24 April 2018 13:50 WIB Red: Ratna Puspita Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor Dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar negeri. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di kampus-kampus di Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan mengundang profesor kelas dunia. Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian program World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor kelas dunia,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Selasa. Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen asing yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang Indonesia pun bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di universitas di luar negeri dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata dia.. Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. "Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah ada 70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang profesor," katanya. Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata Ghufron, para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada dosen-dosen di Tanah Air. Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. Kemenristekdikti membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak 4.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 52 juta. "Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat," cetus dia. Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada tahun ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor kelas dunia ke Tanah Air. Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini. Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, Malaysia dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab Saudi. “Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias pada program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada beberapa lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua namanya," kata Ghufron. Sumber : Antara
