Kira2 50 tahun yang lalu, ada Dr.Ir. Liem Kong Hwa dari Jerman yang pernah beri kuliah beberapa jam tentang teknik pembuatan metanol dari gas alam dan cracking batubara atau minyak bumi perusahaan tempat dia membangun pabrik2 di berbagai negeri. Tetapi bukan untuk terima bayaran, tetapi karena diminta beberapa teman lama yang jadi docent di ITB, Sebagai timbal baliknya, dia diundang lihat pabrik urea di Palembang, dan pabrik kertas Leces. Liem Kong Hwa meninggal, kecelakaan pesawat terbang antara Palembang dan Singapore. Lalu ada Ir. Koo Swan Djien, ex kepala lab. microbiologi dan docent di ITB. Tiap liburan di Belanda, pulang ke Indonesia, niliki ibunya. Selalu mampir ke temannya seorang professor dari IPB (Institut Pertanian Bogor), untuk memberi artikel2 dan memberitahu perkembangan2 terbaru di bidang mikrobiologi. Ir. Koo Swan Djien meninggal di usia lanjut.
2018-04-25 1:28 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]>: > > > Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang. > > Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan > pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu > Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di > Indonesia bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar > di Stanford, UC Berkeley, dlsb. He he he he. > > --- > Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air > maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga > dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. > ... > Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak > berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang > sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada > program ini. > ... > > Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia > <http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/24/p7ogcl428-kemenristekdikti-bukan-dosen-asing-tetapi-profesor-dunia> > > Selasa 24 April 2018 13:50 WIB > > Red: Ratna Puspita > [image: Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti > Profesor Dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.] > > Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor Dr > Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. > > *Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar > negeri.* > > REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan > Tinggi menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di > kampus-kampus di Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan > mengundang profesor kelas dunia. > > Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian > program World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor > kelas dunia,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti > Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Selasa. > > Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen > asing yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang > Indonesia pun bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di > universitas di luar negeri dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata > dia. > > Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air > maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga > dua tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan. > > "Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah > ada 70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang > profesor," katanya. > > Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan > penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata > Ghufron, para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada > dosen-dosen di Tanah Air. > > Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. > Kemenristekdikti membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak > 4.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 52 juta. > > "Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat," > cetus dia. > > Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal > bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada > tahun ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor > kelas dunia ke Tanah Air. > > Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak > berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang > sudah meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada > program ini. > > Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, > Malaysia dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab > Saudi. > > “Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias > pada program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada > beberapa lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua > namanya," kata Ghufron. > > Sumber : Antara > > > > > > >
