Progam yang sudah berjalan saya lihat diwebsite dikti tempo hari para dosen
asing itu hanya mengajar sekitar 1 bulan dan sifatnya adalah program kerja
sama, saya kira dosen asing itu masih berstatus dosen di negara asal dan tetap
menerima gaji dari universitas asal sedang duit yg dari Indonesia cuman sekedar
tambahan ala kadarnya.
Di US gaji seorang professor berkisar 150-200 ribu pertahun, dan dalam setahun
mengajar 9 bulan, ini yg saya katakan typical. Jadi ada sekitar 3 bulan tidak
mengajar yg biasanya utk research atau bisa juga vacation. Kalau bekerja di
Indonesia selama 3 bulan window itu saya kira masih masuk akal-lah hitung2
liburan pulang kampung (kalau asal dari Indonesia).
Tidak tahu bagaimana jadinya bila dijadikan permanen selama 2 tahun, agak tidak
masuk akal bila dosen itu keluar dari universitas asal yg terkenal dan
fasilitas research memadai dengan gaji yg ber-lipat2 dibandingkan yg ditawarkan
Indonesia dan fasilitas reseach ala kadarnya/butut.
On Tuesday, April 24, 2018, 4:41:38 PM PDT, Karma, I Nengah [PT. BI-POS]
<[email protected]> wrote:
Supaya tidak sia-sia, sebaiknya perlu dievaluasi kegiatan yang sudah berjalan
ini. Kira-kira seberapa efektifnya dosen-dosen asing ini mengajar didalam
negeri. Jika tidak ada pengaruhnya mungkin perlu menyekolah dosen-dosen ke luar
negeri.
Yan paling diperlukan saat ini yaitu dosen-dosen asing perlu membimbing para
dosen didalam negeri untuk penelitian terutama dibidang teknologi dan pertanian.
(Mesin, elektro, robot, teknologi pertanian, rekayasa genetika pada tanaman dll)
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, April 25, 2018 7:28 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi
Profesor Dunia
Ohhh... kirain dosen tetap atau jangka panjang.
Kangthow buat orang Indonesia yg jadi professor diluar negeri bisa liburan
pulang ke Indonesia ngajar sementara, lumayan juga ngajar 3-4 bulan waktu
Summer misalnya, penghasilan tambahan. Sementara pihak Universitas di Indonesia
bisa dengan bangga mengatakan punya dosen/profesor yg juga ngajar di Stanford,
UC Berkeley, dlsb. He he he he.
---
Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.
....
Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.
....
Kemenristekdikti: Bukan Dosen Asing, Tetapi Profesor Dunia
Selasa 24 April 2018 13:50 WIB
Red: Ratna Puspita
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Profesor Dr Ali
Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.
Orang Indonesia bisa mengikuti program ini asalkan mengajar di luar negeri.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
menegaskan, tidak mengundang dosen asing untuk mengajar di kampus-kampus di
Tanah Air. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan mengundang profesor kelas
dunia.
Profesor kelas dunia tersebut didatangkan ke Tanah Air dalam rangkaian program
World Class Professor (WCP). "Bukan dosen asing, tetapi profesor kelas dunia,”
kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron
Mukti di Jakarta, Selasa.
Ghufron membantah pernyataan banyak pihak yang menyebutkan bahwa dosen asing
yang didatangkan tersebut murni berkewarganegaraan asing. “Orang Indonesia pun
bisa mengikuti program ini, asalkan dia mengajar di universitas di luar negeri
dan mempunyai koneksi dengan peraih Nobel," kata dia..
Pada tahun sebelumnya, para profesor tersebut hanya berada di Tanah Air
maksimal satu bulan. Mulai tahun ini, keberadaan mereka diperpanjang hingga dua
tahun, tergantung permintaan perguruan tinggi yang mengajukan.
"Perguruan tinggi yang mengajukan minimal akreditasinya B. Saat ini sudah ada
70 perguruan tinggi yang mengajukan keinginan untuk mengundang profesor,"
katanya.
Para profesor tersebut akan membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan
penelitiannya dan juga menulis jurnal internasional. Selain itu, kata Ghufron,
para profesor itu diminta untuk mentransfer pengetahuan kepada dosen-dosen di
Tanah Air.
Untuk gaji, kata Ghufron, tergantung pada pengajuan kampus. Kemenristekdikti
membatasi maksimal gaji para profesor tersebut sebanyak 4.000 dolar Amerika
Serikat atau Rp 52 juta.
"Gajinya bisa mulai dari nol hingga maksimal 4.000 dolar Amerika Serikat,"
cetus dia.
Keberadaan profesor kelas dunia tersebut harus bisa menghasilkan jurnal
bereputasi internasional serta dana internasional untuk penelitian. Pada tahun
ini, Kemristekdikti berencana mendatangkan sebanyak 200 profesor kelas dunia ke
Tanah Air.
Pada tahun sebelumnya, profesor kelas dunia yang hadir ke Indonesia banyak
berasal dari Jepang. Menariknya, sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang sudah
meniti karier akademik di luar negeri juga ikut ambil bagian pada program ini.
Tahun lalu, terdapat 26 dosen asal Jepang, disusul Amerika, Australia, Malaysia
dan Prancis. Ada juga dua dari Tiongkok dan dua orang dari Arab Saudi.
“Saya juga mengapresiasi para ilmuwan diaspora kita yang sangat antusias pada
program ini, seperti Saudara Hadi Susanto dan Saudara Oki Muraza, ada beberapa
lagi, serta nama perempuan Indonesia tetapi tidak hafal semua namanya," kata
Ghufron.
Sumber : Antara