Di desa, penghasilan orang kecil kalau daerahnya tanahnya tidak subur. Penghasilan seminggu kalah dengan penghasilan orang sehari kerja di kota. Prof. Yusuo Zhang kirim masterstudentennya memberikan bantuan untuk memajukan petanian di desa. Mahasiswanya tinggal 2 tahun di desa dari 1000 orang. Pengiriman penyuluh pertanian dari kota yang tidak tinggal bersama petani, ternyata tidak effektif. Anak2 muda meninggalkan desanya. Yang menggarap tanah hanya orang2 tua. Sekolah2 dasar banyak yang hampir tutup atau sudah tutup. Anak2 dibawa orang tuanya ke kota. Sekarang dengan naiknya penghasilan orang di kota2 kecil, banyak buruh milih kerja di kota kecil dekat desanya, yang sewa tempat tinggalnya tidak semahal di Beijing dan Shanghai. Orang muda yang berpengalaman kerja suatu bidang, cari pekerjaan sebagai TKA, banyak ke Indonesia. Mereka mengejar pendapatan sebanyak-banyaknya, dengan banyak kerja lembur berhari-hari, seperti milik sendiri.
2018-04-28 8:45 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Kalau alasannya karena buruh-buruh kasar Cina sehebat itu, > > lalu kenapa dikirim ke Indonesia? Bukankah sering dikabarkan > > pemerintah RRC sedang giat membangun pedesaan untuk > > mencapai kemakmuran pada tahun 2020? Tentu buruh-buruh > > super itu dibutuhkanlah untuk membangun negerinya 5x lebih > > bagus dan 5x lebih cepat, > > > Logika buruh lokal mah sederhana: kenapa cuma investor Cina > > yang bawa-bawa buruh kasar? > > --- bhjo@... wrote : > > Alasan yg logis: Barangkali efisiensi, kebagusan dan kecepatan bekerjanya > TKA adalah 5x atau lebih dari pada bekerja lokal, jadi biarpun memberi gaji > 3-4× lebih tinggi tetap masih untung. > > > >
