Sebagai negara, bangsa ini sedang kehilangan arah. 
Akibatnya, hilang percaya diri, hilang jatidiri, bahkan 
hilang harga diri. 

Kira-kira kenapa revolusi itu tidak dimulai?
--- iqbalsantoso@... wrote:
Sy tidak tahu bagaimana utk propinsi lain dan keadaan sekarang ini, tetapi 
mungkin tetap sama. 
Untuk DKI di jaman Ahok setiap kelurahan menyediakan berbagai jenis pelatihan 
vocational yang diberikan secara gratis plus fasilitas gratis lainnya. Mau 
belajar reparasi mobil dan motor bisa. Mau belajar komputer bisa. Yg wanita mau 
belajar menjahit juga bisa. Ada berbagai macam ketrampilan. Pengumuman ada 
dimana-mana. Tetapi tetap saja yg berminat sedikit. Malah beberapa kelas harus 
ditunda karena kurang peminat. Harus ngumpulin siswa dulu. 
Belum lagi siswa yg karena satu dan sebab lainnya berhenti sebelum selesai.
Jokowi pernah berkata bahwa yang diperlukan adalah revolusi mental. Pernyataan 
ini, meskipun terkesan di generalisir dan ada 1001 pertanyaan tentang 
implementasinya, kayanya benar.

--- jonathangoeij@... wrote :

Kali ini mau tidak mau saya setuju dengan brainchild (pemikiran) Chan ini, 
brilliant!
Untuk awalnya bisa dengan mengalihkan dana pendidikan yang dipakai untuk 
pendidikan agama dibawah kementrian agama dialihkan ke vocational education 
dibawah kementrian tenaga kerja, kemudian meningkatkan pendidikan politeknik 
menjadi setara dengan pendidikan di universitas yg lain.
Kutipan:Kalau saja PEMERINTAH yang sangat  MISKIN ini berani dan bisa KURANGI 
50% anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa dialihkan untuk kemeenterian 
Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi mengejar keahlian diberbagai 
bidang, tentu saja sangat baik!

--- SADAR@... wrote:
Seringkali dalam benak saya timbul pertanyaan, apakah tak ada jalan TENGAH yang 
masih bisa dijalankan untuk maju lebih BAIK??? Jadi tidak mengambil pilihan 
salah satu antara yg ektrim kanan maupun ekstrim kiri, dalam situasi atau 
kondisi konkrit Indonesia sekarang ini, ... dimana Pemerintah masih belum 
sepenuhnya ditangan RAKYAT dan masih kere! Apa yg masih bisa diperbuat lebih 
baik untuk RAKYAT banyak? Katakanlah SEDIKIT saja MAJU selangkah untuk meringan 
penderitaan kemiskinan yg selama ini diderita rakyat banyak! Salah satu SEBAB, 
bukan satu-satunya, adalah kekurangan  MODAL untuk meningkatkan kemampuan SDM 
ini. Kalau saja PEMERINTAH yang sangat  MISKIN ini berani dan bisa KURANGI 50% 
anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa dialihkan untuk kemeenterian 
Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi mengejar keahlian diberbagai 
bidang, tentu saja sangat baik! Tapi, kenyataan perjuangan ini tidaklah mudah 
menghadapi tantangan keras dari kelompok Islam radikalis yg nampak sangat kuat. 
Jalan termudah, menteri Tenaga Kerja menyerukan agar pengusaha bisa investasi 
SDM, mengasuh dan mendidik pegawai/buruh nya agar menguasai keahlian lebih baik 
dan mereka deengan sendirinya akan berkemampuan menyelesaikan TUGAS dengan 
lebih sempurna! Jalan pemikiran yang logis saja, Pengusaha lebih diuntungkan 
dengan jaminan mutu produksi lebih tinggi, sebaliknya tingkat keahlian manusia 
ditingkatkan deengan baik akan memudahkan orang mendapat KERJA dengan upah 
lebih baik pula, ...! Satu KONTRADIKSI baru tentunya terjadi, begitu seseorang 
kwalitasnya meningkat, tentu berhak menuntut imbalan lebih baik, ... kalau saja 
karyawan tsb. menganggap pengusaha setelah mendapat keuntungan lebih besar 
tidak mengembalikan sebagaimana harapannya, dan tidak memuaskan, tentu bisa 
saja akan memudahkan karyawan tsb loncat keperusahaan yang siap memberikan upah 
lebih BESAR! 
  Itulah PERSAINGAN yang terjadi dipasar kerja kapitalis, ... dan dengan 
berlangsung persaingan yg terjadi ini justru mendorong maju perkembangan 
masyarakat lebih CEPAT! Jadi, TIDAK PERLU dihindari, tapi biarkan saja 
berlangsung persaingan itu secara sehat, diikuti saja dengan jalankan 
kebijaksanaan, mengambil jalan tengah sebagai keseimbangan yang lebih baik. 
Menerima BANTUAN DANA darimanapun datangnya, dgn perhitungan sesuai kemampuan 
sendiri utk membayar utang saja! Jangan ambil kebijakan ekstrim kanan mengambil 
utang dengan bunga diatas 20%/th yg akhirnya sangat memberatkan orang membayar 
utang selepas  pendidikan itu, ... Sebaliknya juga jangan jalankan kebijakan 
ekstrim kiri, menolak gunakan kucuran dana hanya karena datang dari Bank Dunia 
untuk meningkatkan SDM.
 ajeg 於 24/6/2018 23:25 寫道: Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan 
  belakangan gencar dikampanyekan pemerintah 
  bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31)
  melainkan lantaran sabda Bank Dunia: 
   
     Investasi SDM 
  .. untuk kelangsungan hidup industri PMA, 
  hehe...  
 
          --- roeslan12@... wrote: Refleksi : Betul Pemerintah harus 
mengutamakan pembangunan manusia-manusianya!!!    Kepada rezim Jokowi dan para 
ekonomnya harus menyadari bahwa Rakyatlah yang barus kita bangun, bukan teori 
ekonomi neoliberalnya, demikian juga kepada kaum teknolog rezim Jokowi, harus 
juga sadar bahwa Rakyatlatlah yang harus kira bangun bukan teknologinya untuk 
menciptakan Gamor-glamor teknologi. Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa 
strategi mega-infrastruktur  rezim Jokowi yang didasarkan pada pembangunan 
jenis-jenis industri, seperti misalnya : Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan 
laut dan Lapangan terbang.,dll; yang tentu saya padat modal, akan dapat membawa 
Indonesia kearah pembangunan ekonomi yang adil untuk seluruh Rakyat Indonesia. 
Selain itu saya juga juga tidak yakin bahwa akumulasi human capital yang 
bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat meluas secara 
effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi.   Pesimisme ini 
didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia tiadak sudi melakukan 
reformasi social yang mendasar, yang merupakan prasyarat mutlak bagi 
emansipasai sosial yang massif.. Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung 
selama 20 Tahun lamanya ini; Pada dasarnya adalah: anti  Pasal 33 UUD 45, anti 
Pancasila 1 Juni 1945 dan anti ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah:  
kebanyakan struktur-struktur sosial ekonomi kita dan tenoknologinya berakar 
pada sistem kapitalis neoliberal, yang pada dasarnya didominasi oleh : 
Neoloberalisme, Feodalisme, Imperialisme, Patriarki, dan rasisme. Yang ita 
saksikan adalah Unit–unit ekonomi yang pada dasarnya adalah mengutamakan 
kegiatan pencarian dan penumpukan nilai lebih (rente ekonomi), yang  intensitas 
cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita, sehingga tidak dapat 
dirangsang untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu. Mengapa ini 
tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah :  Karena keberhasilan unit-unit 
ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada pemanfaatkan human capital dengan 
bayaran murah  (buruh kasar).    Kesimpulaan akhir: Untuk meningkatkan 
akumulasi human capital yang bermutu yang juga melandasi strategi 
industrialisasi ini sehingga dapat meluas secara  effektif, sehingga dapat 
menimbulkan kelebihan dalam ekonomi, maka rezim Jokowi haraus meninggalkan 
politik pencitraan,yang mengutamakan gensi melalui menciptakan glamor-glamor 
teknologi pembangunan-pembangunan, jalan Tol, penyelenggaraan pabrik-pabik 
untuk investor asing dll; Tetapi rezim Jokowi harus:   1. Memilih Urgensi bukan 
gengsi, artinya bukan memilih High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; 
tapi memilih  Urgensi yaitu membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang 
berarti menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan 
kemampuan pikiran dan kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang 
penuh dengan  minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita 
bangun tapi Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus 
kita bangun. 2.  Harus memilih Program penghematan bukan program utang 
luarnegeri, karena utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI sebagai 
Negara jajahan model baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah menggelobal 
(IMF, Bank Dunia, Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan generasi bangsa 
kita dinasa depan. 3-  Harus memilih program Kekenesan ekonomi (ekonomi 
kerakyatan, dan ramah lingkungan), bukan memilih ekonomi yang munafik (ekonomi 
neoliberal), yang merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang 
eksploitatif, yang menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan 
diseluruh nusantara. 4. Harus memilih program kedaulatan rakyat, bukan memilih 
program kedaulatan pasar, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka 
besar bagi kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program 
kenaikan harga BBM). Harus siap, back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> 
mengutamakan kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes. 5.  Harus 
memilih program menjunjung tinggi pri-kemanusiaan atau HAM, seperti yang 
tercantum dalam sila ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi BK,  bukan memilih 
pelanggaran HAM, seperti yang dilakukan oleh rezim orde baru, dan 
antek-anteknya dalam bentuk penghilangan  (penculikan) aktivis sampai 
pembunuhan aktivis dll. Mungkin ada yang mau menambahkan.    Roeslan.
  
 
  Von: ChanCT 
  Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia
 Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47 
http://sp..beritasatu.com/home/perusahaan-harus-investasi-sumber-daya-manusia/124647
    

Kirim email ke