Jalan tengah memang bisa menjadi jalan keluar yang baik. 
Masalahnya, dijaman neo-kolonialisme/imperialisme 
sekarang ini, "jalan-tengah" selalu mengarahke globalisasi, 
bukan menghargai internasionalisme yang tetap saling 
menghormati kedaulatan antar-nasion.
Dalam hal ini, jalan tengah investasi SDM yang diajukan 
Indonesiasebagai “si miskin” haruslah tetap berdasarkan 
kebutuhan memenuhi konsep bernegarasebagaimana 
diamanatkan UUD’45 (pasal 31). Bukan baru 'teringat' lantas 
gedabrukan lantaran diperintah “si kaya” biang globalisasi. 

klik: Investasi SDM

--- SADAR@... wrote:
Seringkali dalam benak saya timbul pertanyaan, apakah tak ada jalan TENGAH yang 
masih bisa dijalankan untuk maju lebih BAIK??? Jadi tidak mengambil pilihan 
salah satu antara yg ektrim kanan maupun ekstrim kiri, dalam situasi atau 
kondisi konkrit Indonesia sekarang ini, ... dimana Pemerintah masih belum 
sepenuhnya ditangan RAKYAT dan masih kere! Apa yg masih bisa diperbuat lebih 
baik untuk RAKYAT banyak? Katakanlah SEDIKIT saja MAJU selangkah untuk meringan 
penderitaan kemiskinan yg selama ini diderita rakyat banyak! Salah satu SEBAB, 
bukan satu-satunya, adalah kekurangan  MODAL untuk meningkatkan kemampuan SDM 
ini. Kalau saja PEMERINTAH yang sangat  MISKIN ini berani dan bisa KURANGI 50% 
anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa dialihkan untuk kemeenterian 
Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi mengejar keahlian diberbagai 
bidang, tentu saja sangat baik! Tapi, kenyataan perjuangan ini tidaklah mudah 
menghadapi tantangan keras dari kelompok Islam radikalis yg nampak sangat kuat. 
Jalan termudah, menteri Tenaga Kerja menyerukan agar pengusaha bisa investasi 
SDM, mengasuh dan mendidik pegawai/buruh nya agar menguasai keahlian lebih baik 
dan mereka deengan sendirinya akan berkemampuan menyelesaikan TUGAS dengan 
lebih sempurna! Jalan pemikiran yang logis saja, Pengusaha lebih diuntungkan 
dengan jaminan mutu produksi lebih tinggi, sebaliknya tingkat keahlian manusia 
ditingkatkan deengan baik akan memudahkan orang mendapat KERJA dengan upah 
lebih baik pula, ...! Satu KONTRADIKSI baru tentunya terjadi, begitu seseorang 
kwalitasnya meningkat, tentu berhak menuntut imbalan lebih baik, ... kalau saja 
karyawan tsb. menganggap pengusaha setelah mendapat keuntungan lebih besar 
tidak mengembalikan sebagaimana harapannya, dan tidak memuaskan, tentu bisa 
saja akan memudahkan karyawan tsb loncat keperusahaan yang siap memberikan upah 
lebih BESAR! 
  Itulah PERSAINGAN yang terjadi dipasar kerja kapitalis, ... dan dengan 
berlangsung persaingan yg terjadi ini justru mendorong maju perkembangan 
masyarakat lebih CEPAT! Jadi, TIDAK PERLU dihindari, tapi biarkan saja 
berlangsung persaingan itu secara sehat, diikuti saja dengan jalankan 
kebijaksanaan, mengambil jalan tengah sebagai keseimbangan yang lebih baik. 
Menerima BANTUAN DANA darimanapun datangnya, dgn perhitungan sesuai kemampuan 
sendiri utk membayar utang saja! Jangan ambil kebijakan ekstrim kanan mengambil 
utang dengan bunga diatas 20%/th yg akhirnya sangat memberatkan orang membayar 
utang selepas pendidikan itu, ... Sebaliknya juga jangan jalankan kebijakan 
ekstrim kiri, menolak gunakan kucuran dana hanya karena datang dari Bank Dunia 
untuk meningkatkan SDM.
 ajeg 於 24/6/2018 23:25 寫道: Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan 
  belakangan gencar dikampanyekan pemerintah 
  bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31)
  melainkan lantaran sabda Bank Dunia: 
   
     Investasi SDM 
  .. untuk kelangsungan hidup industri PMA, 
  hehe...  
 
          --- roeslan12@... wrote: Refleksi : Betul Pemerintah harus 
mengutamakan pembangunan manusia-manusianya!!!    Kepada rezim Jokowi dan para 
ekonomnya harus menyadari bahwa Rakyatlah yang barus kita bangun, bukan teori 
ekonomi neoliberalnya, demikian juga kepada kaum teknolog rezim Jokowi, harus 
juga sadar bahwa Rakyatlatlah yang harus kira bangun bukan teknologinya untuk 
menciptakan Gamor-glamor teknologi. Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa 
strategi mega-infrastruktur  rezim Jokowi yang didasarkan pada pembangunan 
jenis-jenis industri, seperti misalnya : Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan 
laut dan Lapangan terbang.,dll; yang tentu saya padat modal, akan dapat membawa 
Indonesia kearah pembangunan ekonomi yang adil untuk seluruh Rakyat Indonesia. 
Selain itu saya juga juga tidak yakin bahwa akumulasi human capital yang 
bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat meluas secara 
effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi.   Pesimisme ini 
didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia tiadak sudi melakukan 
reformasi social yang mendasar, yang merupakan prasyarat mutlak bagi 
emansipasai sosial yang massif.. Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung 
selama 20 Tahun lamanya ini; Pada dasarnya adalah: anti  Pasal 33 UUD 45, anti 
Pancasila 1 Juni 1945 dan anti ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah:  
kebanyakan struktur-struktur sosial ekonomi kita dan tenoknologinya berakar 
pada sistem kapitalis neoliberal, yang pada dasarnya didominasi oleh : 
Neoloberalisme, Feodalisme, Imperialisme, Patriarki, dan rasisme. Yang ita 
saksikan adalah Unit–unit ekonomi yang pada dasarnya adalah mengutamakan 
kegiatan pencarian dan penumpukan nilai lebih (rente ekonomi), yang  intensitas 
cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita, sehingga tidak dapat 
dirangsang untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu. Mengapa ini 
tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah :  Karena keberhasilan unit-unit 
ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada pemanfaatkan human capital dengan 
bayaran murah (buruh kasar).    Kesimpulaan akhir: Untuk meningkatkan akumulasi 
human capital yang bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini 
sehingga dapat meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan 
dalam ekonomi, maka rezim Jokowi haraus meninggalkan politik pencitraan,yang 
mengutamakan gensi melalui menciptakan glamor-glamor teknologi 
pembangunan-pembangunan, jalan Tol, penyelenggaraan pabrik-pabik untuk investor 
asing dll; Tetapi rezim Jokowi harus:   1. Memilih Urgensi bukan gengsi, 
artinya bukan memilih High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; tapi 
memilih  Urgensi yaitu membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang berarti 
menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan kemampuan 
pikiran dan kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang penuh dengan 
 minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita bangun tapi 
Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus kita bangun. 
2.  Harus memilih Program penghematan bukan program utang luarnegeri, karena 
utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI sebagai Negara jajahan model 
baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah menggelobal (IMF, Bank Dunia, 
Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan generasi bangsa kita dinasa 
depan. 3-  Harus memilih program Kekenesan ekonomi (ekonomi kerakyatan, dan 
ramah lingkungan), bukan memilih ekonomi yang munafik (ekonomi neoliberal), 
yang merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang eksploitatif, yang 
menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan diseluruh nusantara. 
4. Harus memilih program kedaulatan rakyat, bukan memilih program kedaulatan 
pasar, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi 
kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan 
harga BBM). Harus siap, back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> mengutamakan 
kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes. 5.  Harus memilih program 
menjunjung tinggi pri-kemanusiaan atau HAM, seperti yang tercantum dalam sila 
ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi BK,  bukan memilih pelanggaran HAM, 
seperti yang dilakukan oleh rezim orde baru, dan antek-anteknya dalam bentuk 
penghilangan (penculikan) aktivis sampai pembunuhan aktivis dll. Mungkin ada 
yang mau menambahkan.    Roeslan.
  
 
  Von: ChanCT 
  Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia
 Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47 
http://sp.beritasatu.com/home/perusahaan-harus-investasi-sumber-daya-manusia/124647
       Berita Terkait §  SDM Maritim Banyak Bekerja Di Luar Negeri     
 
 
 
 [JAKARTA] Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri meminta seluruh 
perusahaan di Indonesia melakukan investasi sumber daya manusia (SDM) untuk 
memperkuat bisnis perusahaan.                                Selama ini, 
kebanyakan perusahaan masih menganggap investasi SDM sebagai beban padahal 
investasi SDM merupakan kunci utama untuk keberlangsungan dan kemajuan bisnis 
perusahaan. "Investasi SDM dan pengembangan industri harus berjalan paralel.. 
Investasi SDM harus kita genjot dan ekosistem ketenagakerjaan kita harus 
diperbaiki sehingga memungkinan orang bekerja dan perusahaan berkembang," kata 
Hanif dalam acara Halal Bihalal dengan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten 
(GNIK) di Jakarta, Jumat (22/6) sebagaimana dalam siaran persnya, Sabtu (23/6). 
Menurut Hanif, di negara-negara Eropa, sekitar 70% investasi SDM dilakukan oleh 
dunia usaha. Investasi SDM harus dipimpin oleh dunia usaha, seperti 
negara-negara maju di Eropa. "Investasi SDM tidak bisa sepenuhnya hanya 
diserahkan kepada pemerintah. Di Eropa peran swasta dalam investasi SDM sangat 
besar. Pemerintah hanya memimpin dan mengawal," kata Hanif. Dikatakan Hanif, 
SDM harus menjadi tumpuan bangsa Indonesia untuk maju, berkembang, dan menjadi 
negara makmur dan berkeadilan. “Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan SDA 
karena SDA akan habis dan bisa menimbulkan ketidakadilan antargenerasi. 
"Investasi SDM adalah kunci supaya negara dapat berkembang dengan pesat dan 
mampu bersaing," ungkap Hanif. Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk 
melakukan investasi SDM mulai tahun 2018 dan seterusnya. “Untuk itu mulai 2019 
Presiden Jokowi menambahkan anggaran untuk pelatihan vokasi di Kemnaker," kata 
Hanif. Salah satu cara cepat investasi SDM, kata Hanif, adalah melalui 
pendidikan vokasi dan pemagangan. Pelatihan vokasi bisa menjadi terobosan agar 
kompetensi yang dilatih bisa menyesuaikan perubahan karakter industri. "Dan 
pemagangan merupakan investasi yang jauh lebih murah daripada merekrut pekerja 
baru yang kurang berpengalaman," tutur Hanif. Oleh karena itu, lanjutnya, SDM 
dan dunia usaha harus berjalan secara berimbang dan saling mendukung. Apalagi, 
tegas Hanif, di era yang berubah dengan sangat cepat seperti saat ini, SDM 
harus disiapkan secara matang untuk menghadapi perubahan.. "Inovasi sangat 
penting dilakukan, sehingga para pekerja bisa mengikuti perkembangan zaman," 
kata Hanif. Sehingga, tambahnya, partisipasi dunia usaha sangat penting untuk 
menyiapkan SDM yang siap terhadap perubahan zaman. "Saya berterima kasih kepada 
praktisi SDM yang bersedia mengambil peran tambahan menggenjot perbaikan 
kualitas SDM Indonesia melalui Gerakan Nasional Indonesia Kompeten," kata 
Hanif. Menurut Hanif, GNIK menjadi sesuatu yang sangat baik untuk menciptakan 
kesadaran bagi dunia usaha bagaimana pemagangan diterapkan. Untuk diketahui, 
GNIK merupakan sebuah organisasi dengan anggota para praktisi SDM di berbagai 
perusahaan di Indonesia. Ketua GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan pihaknya akan 
melakukan sertifikasi terhadap 2.000 praktisi SDM pada tahun 2019 untuk 
mendukung program pemerintah. "Para praktisi SDM yang sudah tersertifikasi 
tersebut diharapkan akan menyelenggarakan pemagangan nasional di perusahaan 
masing-masing," kata Yunus. [E-8]
 

  

Kirim email ke