Silakan periksa semua pemberitaan tentang investasi SDM ini 
yangsekonyong-konyong bikin kalangkabut pemerintah, 
dijamin bolak-balik akan ditemukan pernyataanpemerintah 
semacam ini:
“Untuk itu mulai 2019 Presiden Jokowi menambahkan 
anggaran untuk pelatihan vokasi di Kemnaker," kata Hanif.
Kata kuncinya adalah meminta perusahaan menambah investasi 
pelatihan vokasi untuk kementerian tenaga kerja, bukan untuk 
kementerian agama apalagi kementerian pendidikan.
Apa artinya ini dalam konteks jor-jorannya pemerintah mengundang 
investasi infrastruktur, manufaktur dll, silakan dibeberdi sini.--- 
ilmesengero@... wrote:
Apa yang membuat rezim berkuasa mengharuskan perusahaan menginvestasi pada SDM? 

hanya pentingkan ilmu gurun pasir masa silam ketika dunia berada dalam

2018-06-24 17:25 GMT+02:00 ajeg :Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan 
belakangan gencar dikampanyekan pemerintah 
bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31)
melainkan lantaran sabda Bank Dunia: 

InvestasiSDM
... untuk kelangsungan hidup industri PMA, 
hehe... 

  --- roeslan12@... wrote:Refleksi : Betul Pemerintah harus mengutamakan 
pembangunan manusia-manusianya!!!  Kepada rezim Jokowi dan para ekonomnya harus 
menyadari bahwa Rakyatlah yang barus kita bangun, bukan teori ekonomi 
neoliberalnya, demikian juga kepada kaum teknolog rezim Jokowi, harus juga 
sadar bahwa Rakyatlatlah yang harus kira bangun bukan teknologinya untuk 
menciptakan Gamor-glamor teknologi.Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa 
strategi mega-infrastruktur  rezim Jokowi yang didasarkan pada pembangunan 
jenis-jenis industri, seperti misalnya : Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan 
laut dan Lapangan terbang.,dll; yang tentu saya padat modal, akan dapat membawa 
Indonesia kearah pembangunan ekonomi yang adil untuk seluruh Rakyat Indonesia. 
Selain itu saya juga juga tidak yakin bahwa akumulasi human capital yang 
bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat meluas secara 
effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi. Pesimisme ini 
didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia tiadak sudi melakukan 
reformasi social yang mendasar, yang merupakan prasyarat mutlak bagi 
emansipasai sosial yang massif...Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung 
selama 20 Tahun lamanya ini; Pada dasarnya adalah: anti  Pasal 33 UUD 45, anti 
Pancasila 1 Juni 1945 dan anti ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah:  
kebanyakan struktur-struktur sosial ekonomi kita dan tenoknologinya berakar 
pada sistem kapitalis neoliberal, yang pada dasarnya didominasi oleh : 
Neoloberalisme, Feodalisme, Imperialisme, Patriarki, dan rasisme. Yang ita 
saksikan adalah Unit–unit ekonomi yang pada dasarnya adalah mengutamakan 
kegiatan pencarian dan penumpukan nilai lebih (rente ekonomi), yang  intensitas 
cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita, sehingga tidak dapat 
dirangsang untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu. Mengapa ini 
tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah :  Karena keberhasilan unit-unit 
ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada pemanfaatkan human capital dengan 
bayaran murah (buruh kasar).  Kesimpulaan akhir: Untuk meningkatkan akumulasi 
human capital yang bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini 
sehingga dapat meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan 
dalam ekonomi, maka rezim Jokowi haraus meninggalkan politik pencitraan,yang 
mengutamakan gensi melalui menciptakan glamor-glamor teknologi 
pembangunan-pembangunan, jalan Tol, penyelenggaraan pabrik-pabik untuk investor 
asing dll; Tetapi rezim Jokowi harus: 1. Memilih Urgensi bukan gengsi, artinya 
bukan memilih High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; tapi memilih  
Urgensi yaitu membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang berarti menaikkan 
derajat kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan kemampuan pikiran 
dan kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang penuh dengan  
minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita bangun tapi 
Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus kita bangun.2. 
 Harus memilih Program penghematan bukan prog ram utang luarnegeri, karena 
utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI sebagai Negara jajahan model 
baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah menggelobal (IMF, Bank Dunia, 
Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan generasi bangsa kita dinasa 
depan.3-  Harus memilih program Kekenesan ekonomi ( ekonomi kerakyatan, dan 
ramah lingkungan), bukan memilih eko nomi yang munafik (ekonomi neoliberal), 
yang merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang eksploitatif, yang 
menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan diseluruh nusantara.4. 
Harus memilih program kedaulatan rakyat, bukan memilih program kedaulatan 
pasar, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi 
kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan 
harga BBM). Harus siap, back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> mengutamakan 
kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes.5.  Harus memilih program 
menjunjung tinggi pri-kemanusiaan atau HAM, seperti yang tercantum dalam sila 
ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi BK,  bukan memilih pelanggaran HAM, 
seperti yang dilakukan oleh rezim orde baru, dan antek-anteknya dalam bentuk 
penghilangan (penculikan) aktivis sampai pembunuhan aktivis dll. Mungkin ada 
yang mau menambahkan. Roeslan.


Von: ChanCT
Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia
Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47http://sp.beritasatu.com/home/ 
perusahaan-harus-investasi- sumber-daya-manusia/124647
Hanif Dhakiri. [beritasatu] Berita Terkait§  SDM Maritim Banyak Bekerja Di Luar 
Negeri





























[JAKARTA] Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri meminta seluruh 
perusahaan di Indonesia melakukan investasi sumber daya manusia (SDM) untuk 
memperkuat bisnis perusahaan.Selama ini, kebanyakan perusahaan masih menganggap 
investasi SDM sebagai beban padahal investasi SDM merupakan kunci utama untuk 
keberlangsungan dan kemajuan bisnis perusahaan."Investasi SDM dan pengembangan 
industri harus berjalan paralel.. Investasi SDM harus kita genjot dan ekosistem 
ketenagakerjaan kita harus diperbaiki sehingga memungkinan orang bekerja dan 
perusahaan berkembang," kata Hanif dalam acara Halal Bihalal dengan Gerakan 
Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) di Jakarta, Jumat (22/6) sebagaimana dalam 
siaran persnya, Sabtu (23/6).Menurut Hanif, di negara-negara Eropa, sekitar 70% 
investasi SDM dilakukan oleh dunia usaha. Investasi SDM harus dipimpin oleh 
dunia usaha, seperti negara-negara maju di Eropa. "Investasi SDM tidak bisa 
sepenuhnya hanya diserahkan kepada pemerintah. Di Eropa peran swasta dalam 
investasi SDM sangat besar. Pemerintah hanya memimpin dan mengawal," kata 
Hanif.Dikatakan Hanif, SDM harus menjadi tumpuan bangsa Indonesia untuk maju, 
berkembang, dan menjadi negara makmur dan berkeadilan. “Kita tidak bisa terus 
menerus mengandalkan SDA karena SDA akan habis dan bisa menimbulkan 
ketidakadilan antargenerasi. "Investasi SDM adalah kunci supaya negara dapat 
berkembang dengan pesat dan mampu bersaing," ungkap Hanif.Ia mengatakan, 
pemerintah berkomitmen untuk melakukan investasi SDM mulai tahun 2018 dan 
seterusnya. “Untuk itu mulai 2019 Presiden Jokowi menambahkan anggaran untuk 
pelatihan vokasi di Kemnaker," kata Hanif.Salah satu cara cepat investasi SDM, 
kata Hanif, adalah melalui pendidikan vokasi dan pemagangan. Pelatihan vokasi 
bisa menjadi terobosan agar kompetensi yang dilatih bisa menyesuaikan perubahan 
karakter industri.. "Dan pemagangan merupakan investasi yang jauh lebih murah 
daripada merekrut pekerja baru yang kurang berpengalaman," tutur Hanif.Oleh 
karena itu, lanjutnya, SDM dan dunia usaha harus berjalan secara berimbang dan 
saling mendukung. Apalagi, tegas Hanif, di era yang berubah dengan sangat cepat 
seperti saat ini, SDM harus disiapkan secara matang untuk menghadapi 
perubahan.. "Inovasi sangat penting dilakukan, sehingga para pekerja bisa 
mengikuti perkembangan zaman," kata Hanif.Sehingga, tambahnya, partisipasi 
dunia usaha sangat penting untuk menyiapkan SDM yang siap terhadap perubahan 
zaman. "Saya berterima kasih kepada praktisi SDM yang bersedia mengambil peran 
tambahan menggenjot perbaikan kualitas SDM Indonesia melalui Gerakan Nasional 
Indonesia Kompeten," kata Hanif.Menurut Hanif, GNIK menjadi sesuatu yang sangat 
baik untuk menciptakan kesadaran bagi dunia usaha bagaimana pemagangan 
diterapkan. Untuk diketahui, GNIK merupakan sebuah organisasi dengan anggota 
para praktisi SDM di berbagai perusahaan di Indonesia.Ketua GNIK, Yunus 
Triyonggo, mengatakan pihaknya akan melakukan sertifikasi terhadap 2.000 
praktisi SDM pada tahun 2019 untuk mendukung program pemerintah. "Para praktisi 
SDM yang sudah tersertifikasi tersebut diharapkan akan menyelenggarakan 
pemagangan nasional di perusahaan masing-masing," kata Yunus. [E-8]
 

  

Kirim email ke