Apa yang membuat rezim berkuasa mengharuskan perusahaan menginvestasi pada
SDM?

hanya pentingkan ilmu gurun pasir masa silam ketika dunia berada dalam

2018-06-24 17:25 GMT+02:00 ajeg [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan
> belakangan gencar dikampanyekan pemerintah
> bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31)
> melainkan lantaran sabda Bank Dunia:
>
> *Investasi SDM
> <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/225889>*
>
> .. untuk kelangsungan hidup industri PMA,
> hehe...
>
>
> --- roeslan12@... wrote:
>
> *Refleksi : Betul Pemerintah harus mengutamakan pembangunan
> manusia-manusianya!!!*
>
> Kepada rezim Jokowi dan para ekonomnya harus menyadari bahwa Rakyatlah
> yang barus kita bangun, bukan teori ekonomi neoliberalnya, demikian juga
> kepada kaum teknolog rezim Jokowi, harus juga sadar bahwa Rakyatlatlah yang
> harus kira bangun bukan teknologinya untuk menciptakan Gamor-glamor
> teknologi.
>
> Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa strategi mega-infrastruktur  rezim
> Jokowi yang didasarkan pada pembangunan jenis-jenis industri, seperti
> misalnya : Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan laut dan Lapangan
> terbang.,dll; yang tentu saya padat modal, akan dapat membawa Indonesia
> kearah pembangunan ekonomi yang *adil untuk seluruh Rakyat Indonesia*.
> Selain itu saya juga juga tidak yakin bahwa *akumulasi human capital yang
> bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat meluas
> secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi.*
>
> Pesimisme ini didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia
> tiadak sudi melakukan reformasi social yang mendasar, yang merupakan
> prasyarat mutlak bagi *emansipasai sosial yang massif..*
>
> Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung selama 20 Tahun lamanya ini;
> Pada dasarnya adalah: anti  Pasal 33 UUD 45, anti Pancasila 1 Juni 1945 dan
> anti ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah:  kebanyakan
> struktur-struktur sosial ekonomi kita dan tenoknologinya berakar pada
> sistem kapitalis neoliberal, yang pada dasarnya didominasi oleh : 
> *Neoloberalisme,
> Feodalisme, Imperialisme, Patriarki, dan rasisme.* Yang ita saksikan
> adalah Unit–unit ekonomi yang pada dasarnya adalah mengutamakan kegiatan
> pencarian dan penumpukan *nilai lebih (rente ekonomi),* yang  intensitas
> cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita, sehingga tidak
> dapat dirangsang untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu.
> Mengapa ini tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah :  *Karena
> keberhasilan unit-unit ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada
> pemanfaatkan human capital dengan bayaran murah (buruh kasar). *
>
> *Kesimpulaan akhir:* Untuk meningkatkan akumulasi human capital yang
> bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini sehingga dapat
> meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi,
> maka rezim Jokowi haraus meninggalkan politik pencitraan,yang mengutamakan
> gensi melalui menciptakan glamor-glamor teknologi pembangunan-pembangunan,
> jalan Tol, penyelenggaraan pabrik-pabik untuk investor asing dll; Tetapi
> rezim Jokowi harus:
>
> *1.* Memilih *Urgensi* *bukan* *gengsi,* artinya bukan memilih
> High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; tapi memilih  *Urgensi* yaitu
> membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang berarti menaikkan derajat
> kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan kemampuan pikiran dan
> kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang penuh dengan
> minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita bangun tapi
> *Rakyat*-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus kita
> bangun.
>
> *2.*  Harus memilih Program *penghematan* *bukan* *program utang
> luarnegeri*, karena utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI
> sebagai Negara jajahan model baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah
> menggelobal (IMF, Bank Dunia, Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan
> generasi bangsa kita dinasa depan.
>
> *3-*  Harus memilih program *Kekenesan* *ekonomi* *(ekonomi kerakyatan,
> dan ramah lingkungan),* *bukan* memilih *ekonomi yang munafik (ekonomi
> neoliberal), *yang merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang
> eksploitatif, yang menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan
> diseluruh nusantara.
>
> *4.* Harus memilih program *kedaulatan rakyat**,* *bukan* memilih program 
> *kedaulatan
> pasar*, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi
> kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan
> harga BBM). Harus siap, *back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>>
> mengutamakan kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes.*
>
> *5.*  Harus memilih program *menjunjung tinggi* *pri-kemanusiaan atau HAM*,
> seperti yang tercantum dalam sila ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi
> BK,  *bukan* memilih pelanggaran HAM, seperti yang dilakukan oleh rezim
> orde baru, dan antek-anteknya dalam bentuk penghilangan (penculikan)
> aktivis sampai pembunuhan aktivis dll. Mungkin ada yang mau menambahkan.
>
> Roeslan.
>
>
> *Von:* ChanCT
>
> *Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia*
> Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47
>
> http://sp.beritasatu.com/home/perusahaan-harus-investasi-
> sumber-daya-manusia/124647
> [image: Hanif Dhakiri. [beritasatu]]
> Hanif Dhakiri. [beritasatu]
>
> *Berita Terkait*
>
> §  SDM Maritim Banyak Bekerja Di Luar Negeri
> <http://sp.beritasatu.com/home/sdm-maritim-banyak-bekerja-di-luar-negeri/89373>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [JAKARTA] Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri meminta
> seluruh perusahaan di Indonesia melakukan investasi sumber daya manusia
> (SDM) untuk memperkuat bisnis perusahaan.
>
> Selama ini, kebanyakan perusahaan masih menganggap investasi SDM sebagai
> beban padahal investasi SDM merupakan kunci utama untuk keberlangsungan dan
> kemajuan bisnis perusahaan.
>
> "Investasi SDM dan pengembangan industri harus berjalan paralel..
> Investasi SDM harus kita genjot dan ekosistem ketenagakerjaan kita harus
> diperbaiki sehingga memungkinan orang bekerja dan perusahaan berkembang,"
> kata Hanif dalam acara Halal Bihalal dengan Gerakan Nasional Indonesia
> Kompeten (GNIK) di Jakarta, Jumat (22/6) sebagaimana dalam siaran persnya,
> Sabtu (23/6).
>
> Menurut Hanif, di negara-negara Eropa, sekitar 70% investasi SDM dilakukan
> oleh dunia usaha. Investasi SDM harus dipimpin oleh dunia usaha, seperti
> negara-negara maju di Eropa. "Investasi SDM tidak bisa sepenuhnya hanya
> diserahkan kepada pemerintah. Di Eropa peran swasta dalam investasi SDM
> sangat besar. Pemerintah hanya memimpin dan mengawal," kata Hanif.
>
> Dikatakan Hanif, SDM harus menjadi tumpuan bangsa Indonesia untuk maju,
> berkembang, dan menjadi negara makmur dan berkeadilan. “Kita tidak bisa
> terus menerus mengandalkan SDA karena SDA akan habis dan bisa menimbulkan
> ketidakadilan antargenerasi. "Investasi SDM adalah kunci supaya negara
> dapat berkembang dengan pesat dan mampu bersaing," ungkap Hanif.
>
> Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk melakukan investasi SDM mulai
> tahun 2018 dan seterusnya. “Untuk itu mulai 2019 Presiden Jokowi
> menambahkan anggaran untuk pelatihan vokasi di Kemnaker," kata Hanif.
>
> Salah satu cara cepat investasi SDM, kata Hanif, adalah melalui pendidikan
> vokasi dan pemagangan. Pelatihan vokasi bisa menjadi terobosan agar
> kompetensi yang dilatih bisa menyesuaikan perubahan karakter industri. "Dan
> pemagangan merupakan investasi yang jauh lebih murah daripada merekrut
> pekerja baru yang kurang berpengalaman," tutur Hanif.
>
> Oleh karena itu, lanjutnya, SDM dan dunia usaha harus berjalan secara
> berimbang dan saling mendukung. Apalagi, tegas Hanif, di era yang berubah
> dengan sangat cepat seperti saat ini, SDM harus disiapkan secara matang
> untuk menghadapi perubahan.. "Inovasi sangat penting dilakukan, sehingga
> para pekerja bisa mengikuti perkembangan zaman," kata Hanif.
>
> Sehingga, tambahnya, partisipasi dunia usaha sangat penting untuk
> menyiapkan SDM yang siap terhadap perubahan zaman. "Saya berterima kasih
> kepada praktisi SDM yang bersedia mengambil peran tambahan menggenjot
> perbaikan kualitas SDM Indonesia melalui Gerakan Nasional Indonesia
> Kompeten," kata Hanif.
>
> Menurut Hanif, GNIK menjadi sesuatu yang sangat baik untuk menciptakan
> kesadaran bagi dunia usaha bagaimana pemagangan diterapkan. Untuk
> diketahui, GNIK merupakan sebuah organisasi dengan anggota para praktisi
> SDM di berbagai perusahaan di Indonesia.
> Ketua GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan pihaknya akan melakukan
> sertifikasi terhadap 2.000 praktisi SDM pada tahun 2019 untuk mendukung
> program pemerintah. "Para praktisi SDM yang sudah tersertifikasi tersebut
> diharapkan akan menyelenggarakan pemagangan nasional di perusahaan
> masing-masing," kata Yunus. [E-8]
>
>
> 
>

Kirim email ke