Kaum elite komprador sekaligus peng-peng dan corongnya pasti tidak
senang dengan suksesnya Susi Pudjiastuti dalam mempertahankan hak-milik
dan kekayaan rakyat Indonesia. Mereka berusaha membimbang-bimbangkan
dan membujuk-bujuk siapa saja yang mulai bangkit semangat anti
neoliberalismenya.

Perubahan kwalitatif dalam fikiran dan keyakinan para pemilih dimulai
dengan berkali-kali perubahan kwantitatif. Sekali para pemilih golput
menyadari pemanipulasian terhadap hak pilihannya, mereka pasti bangkit
meningkatkan perlawanan yang sudah dimulainya dengan golput ini.
  
Definisi suara mayoritet yang tepat dalam undang-undang pemilu adalah
50% + 1 suara. Nilainya tidak sama dengan istilah 51% - pemilih.






Am Sun, 26 Aug 2018 07:51:49 +0800
schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Apakah bung yakin dengan GOLPUT mencapai lebih 51%, misalnya,
> AKAL-SEHAT itu bisa dicapai?
> 
> Bukankah seandainya hendak mencapai PEMILU yang lebih SEHAT, yang 
> dinamakan kekuatan rakyat itu harus mengajukan dan memperjuangkan
> sekuat tenaga ide/pemikiran mekanisasi dan ketentuan-ketentuan PEMILU
> yang dianggap lebih ADIL, lebih SEHAT, lebih menjamin keluarkan
> pemimpin yg berkualitas, ...! PERJUANGKAN itu, ... syukur bisa
> diterima dan itulah yang dijalankan.
> 
> 
> 
> ajeg [email protected] [GELORA45] 於 25/8/2018 23:36 寫道:
> > Memang, perlu pemikiran segar untuk paham apa itu akal sehat.
> > Jelasnya, Jokowi yang cuma mengumpulkan 37% suara dukungan
> > tapi diberi hak untuk berkuasa atas 100%. Di mana demokratisnya?
> > Di mana akal sehatnya?
> >
> > Itulah yang hendak dicapai dengan bergolput, mengembalikan dulu
> > akal sehat ke tempatnya.
> >
> > --- sadar@... wrote:
> >
> > Tapi bung Ajeg, ... dari tulisan yang Fw. kan saya baca ulang juga 
> > TIDAK menjelaskan apa yang hendak dicapai dengan GOLPUT. Kalau yang 
> > bung maksudkan, mencapai golput mayoritas, jangankan golput bisa 
> > mencapai 99%, sampai sekarang ini juga BELUM pernah mencapai 51%! 
> > Tapi, sekalipun diambil contoh ekstrim, golput bisa tercapai 99%,
> > juga TIDAK MERUBAH hasil pemilu yang dimenangkan segelintir orang
> > itu saja. Lalu, apa yang bisa dicapai deengan golput? Karena memang
> > spt bung katakan pemilu kurangajar saja!
> >
> > Sedang untuk merubah/memperbaiki saya yakin juga TIDAK akan
> > tercapai dengan golput itu! Justru dengan makin banyak yg golput,
> > keadaan akan terus lebih memburuk, apalagi dengan berhasilnya
> > capres terjelek/terjahat yang berkuasa! Bukankah dengan demikian
> > rakyat banyak jadi makin menderita berkepanjangan, ...
> >
> > Salam,
> >
> > ChanCT
> >
> >
> > ajeg 於 25/8/2018 15:25 寫道:
> >
> > Apa yang hendak dicapai dengan bergolput sudah saya tulis
> >
> > belasan tahun di berbagai milis termasuk di sini. Yang terbaru,
> >
> > belum Anda tanggapi,
> >
> > kontes idola 
> > <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/232032>
> >
> > (kembalikan akal sehat ke tempat yang benar)
> >
> >     
> >     
> >
> >
> >     Yahoo! Groups
> >
> > <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/232032>
> >
> > --- SADAR@... wrote:
> >
> > Lho, ... bukankah dalam setiap langkah perjuangan HARUS 
> > memperhitungkan setiap perubahan perkembangan yang terjadi untuk 
> > pertahankan prinsip TETAP BISA MAJU lebih baik atau setidaknya 
> > mengurangi penderitaan rakyat banyak, ... sekalipun sedikit saja! 
> > Jadi, tidak main seruduk dengan main mutlak-mutlakan dan 
> > absulut-absolutan saja, yang dengan kata lain RADIKALIS!
> >
> > Disinilah perbedaan realistis dan radikalis, ... bisa tidak
> > menemukan taktik-perjuangan agar gerak kemajuan yang MASIH BISA
> > dicapai sesuai kondisi subjektif dan oebjektif yang dihadapi atau
> > mengambil sikap apatis, persetan dengan kedua capres-cawapres yang
> > sama-sama jelek dan jahat itu, dengan sikap GOLPUT membiarkan yang
> > lebih jelek dan jahat itu berkuasa!
> >
> > Bahwa disekitar Jokowi masih tidak sedikit pejabat korup, pelanggar 
> > HAM tentu TIDAK ada yang menyangkal, itulah kenyatan yang memang
> > harus dihadapi, ... dan harus terus diperbaiki dan diperjuangkan
> > lebih baik sesuai perkembangan kekuatan rakyat yang ada. Sebaliknya
> > kalau dibiarkan Prabowo yang berkuasa, apa keadaan bisa jadi lebih
> > baik???
> >
> > Atau coba kalian kasih argumentasi yang meyakinkan apa yang hendak 
> > kalian capai dengan GOLPUT itu??? Bisakah dengan alternatif lain 
> > mencapai tujuan mengurangi penderitaan rakyat banyak?
> >
> >
> > Tatiana Lukman 於 25/8/2018 0:49 寫道:
> >
> > Ha...ha...emangnya baru tahu kalau si Chan itu orangnya sangat 
> > oportunis!!! Saya dituduh mendukung Prabowo karena saya nyatakan 
> > kritik si kader itu sesuai dengan kenyataan dan prakteknya Jokowi. 
> > Setelah ada berita tentang si calon wakilnya Jokowi, langsung
> > bilang, sekarang lain lagi situasinya, harus dipertimbangkan pilih
> > yang kurang jahat, dengan insinuasi , pilih Prabowo. Eh, sekarang
> > balik lagi ke Jokowi!! Kebingungan dia nggak tahu yang mana yang
> > kurang jahat!! Karena sebetulnya dua-duanya SAMA JAHATNYA KEPADA
> > RAKYAT!!! Soalnya si Chan itu ingin menunjukkan, apapun dan
> > bagaimanapun cara dan argumentasinya,
> > supaya orang tidak Golput! Sama seperti dalam soal Tiongkok, si
> > Chan ingin menegakkan benang basah!!! Ya mana bisa!!!
> >
> >
> > On Friday, August 24, 2018 4:44 PM, Jonathan Goeij wrote:
> >
> > Sebenarnya lebih mengherankan lagi itu anda bung Chan, sudah tahu 
> > seperti yg anda uraikan dibawah, juga sudah tahu peranan Ma'ruf
> > Amin dalam membakar massa dengan memberi label penista agama dalam
> > fatwanya bahkan menjadi penggerak berbagai aksi akbar itu, sudah
> > tahu si Jokowi tidak becus dan tidak mampu menjalankan fungsinya
> > sebagai negara melindungi rakyatnya sendiri dengan berkedok "tidak
> > akan membela" memerintahkan polisi secara tidak langsung memroses
> > tuduhan dakocan seperti itu, eh kok bisa2nya masih menyuruh orang2
> > mendukung tanpa reserve kedua orang itu yang merupakan Pontius
> > Pilatus dan Imam Besar Kayafas dengan men-nakut2i mencegah yang
> > jahat berkuasa.
> >
> > On Thursday, August 23, 2018, 6:17:26 PM PDT, ChanCT wrote:
> >
> > Dalam pengertian dan perasaan yang berlaku umum,
> > ketentuan-ketentuan dibuat untuk menegakkan "KEADILAN", khususnya
> > melindungi kelompok lemah, minoritas dari perlakuan semena-mena
> > dari pihak yang lebih kuat dan mayoritas! Tapi nampaknya dinegeri
> > ini TERBALIK, justru kelompok ISLAM, yang jelas sudah lebih KUAT
> > dan MAYORITAS yang selalu MERASA diperlakukan tidak adil, selalu
> > dikucilkan dan merasa dilecehkan, ... akhirnya kelompok ISLAM, atau
> > yang menamakan diri ISLAM itulah menjadi PELAKU semena-mena
> > menindas kelompok LEMAH dan MINORITAS! Aneh, tapi inilah KENYATAAN
> > yang TERJADI NYATA dan menjadi TANTANGAN BERAT untuk diluruskan
> > BANGSA ini! Menjadi lebih ANEH dan sangat KONYOL, justru HUKUM
> > dinegara ini bisa MEMBENARKAN dan MENANGKAN pengertian dan perasaan
> > yang TERBALIK itu! Yang justru TIDAK ADIL dan semena-mena! Dengan
> > satu kata BRUTAL, ... TIDAK ADIL!
> >
> > Ambil saja kasus Ahok yang sangat mencolok, ... ucapan Ahok "surat 
> > Al-Maidah ayat 51 dipakai untuk membohongi warga"di Pulau Seribu
> > yang diangkat "MENISTA Agama" itu, jelas-jelas Ahok bicara TIDAK 
> > dimaksudkan menista, melecehkan Agama Islam bahkan juga tidak
> > bersifat bermusuhan atau membakar kemarahan orang, ... kenyataa
> > yang ada, TIDAK SEORANG pun pesertadipertemuan, di Pulau Seribu itu
> > yang PROTES dan marah atas pernyataan Ahok itu! Baru setelah 2
> > minggu kemudian, setelah di medsos diviralkan Video "Ahok Mernista
> > Agama" di Pulau Seribu yang lebih dahulu sudah diedit Buni Yani itu
> > lah, sekelompok yang menamakan diri Islam MARAH dan melakukan
> > aksi-aksi menyatakan Ahok menista Agama dan menuntut Ahok
> > DIPENJARAKAN, ...! Akhirnya Ahok dijatuhi HUKUMAN 2 tahun penjara
> > dan SEGERA dijebloskan dalam penjara, ...
> >
> > Sekarang mari kita perhatikan, kasus Buni Yani yang jelas
> > penghasutan yang menimbulkan KEMARAHAN BESAR, berhasil MEMBAKAR
> > kemarahan dan perasaan ISALAM dinistakan Ahok itu. Jelas-jelas
> > KEMARAHAN sekelompok umat Islam dengan aksi-aksi akbar itu muncul
> > setelah Buni Yani mengedit ucapan Ahok yang sebenarnya, dengan
> > sengaja menghilangkan kata "PAKAI" itu yang JUSTRU jadi menghasut
> > KEMARAHAN orang! Dan, ... semua sikap, tindak Buni Yani juga sudah
> > terbukti bersalah dan dijathui hukuman 18 bulan! Hanya saja
> > keputusan HAKIM juga sangat, sangat ANEH! Vonis dijatuhkan tanpa
> > ketegasan kapan dieksekusi, dan, ... kabarnua Buni Yani TETAP BEBAS
> > sampai sekarang, tidak dijebloskan dalam penjara, SEKALIPUN
> > terbukti salah dan dijatuhi hukuman 18 bulan PENJARA!
> >
> > Ucapan Ahok yang dituduh menista Agama dan menimbulkan "kemarahan" 
> > banyak orang itu, *KENYATAAN TIDAK TERBUKTI* disidang pengadilan,
> > tapi TETAP dipaksakan juga dengan jatuhkan vonis 2 tahun penjara,
> > hanya untuk meredam "KEMARAHAN MASSA!" Ahok boleh saja di-korbankan
> > mendekam dalam penjara, ... Sebaliknya Buni Yani yg *TERBUKTI*
> > hasil editan video ucapan Ahok MENISTA Agama itu yang menimbulkan
> > KEMARAHAN MASSA, dan dijatuhi hukan 18 bulan penjara, malah
> > mendapat kelonggaran tidak menjalani HUKUMAN penjara!
> >
> > Entah saya yang buta HUKUM atau memang negeri ini HUKUM BELUM tegak 
> > benar, masih saja bisa dipermainkan sekelompok orang dan untuk 
> > kepeentingan sementara orang saja???
> >
> > Salam,
> >
> > ChanCT
> >
> >
> > -------- 轉寄郵件 --------
> > 從: Jonathan Goeij
> >
> >
> >   *ICJR Samakan Kasus Meiliana di Medan dengan Kasus Ahok
> >   
> > <https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180823095837-12-324251/icjr-samakan-kasus-meiliana-di-medan-dengan-kasus-ahok>*
> >
> >
> >
> >     
> >
> >
> >     
> >
> >
> >     ICJR Samakan Kasus Meiliana di Medan dengan Kasus Ahok
> >
> > Arif Hulwan Muzayyin
> >
> > Hakim dan jaksa dinilai ICJR tidak bisa membuktikan unsur
> > kesengajaan dalam kasus Ahok dan Meilana.
> >
> > <https://www.cnnindonesia.com/nasio%0A%20nal/20180823095837-12-324251/icjr-samakan-kasus-meiliana-di-medan-dengan-kasus-ahok>
> >
> > Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Kamis, 23/08/2018 10:49 WIB
> >
> > Aksi massa menolak Ahok, di Jakarta, 2017. (ANTARA FOTO/Hafidz
> > Mubarak A)
> >
> > Jakarta, CNN Indonesia -- Institute for Criminal Justice Reform
> > (ICJR) mengatakan kasus Meiliana yang divonis bersalah akibat
> > protes volume pengeras suara masjid tak beda dengan kasus penodaan
> > agama <https://www.cnnindonesia.com/tag/penodaan-agama> yang
> > terjadi pada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
> >
> > Sebab, kasus-kasus itu terjadi akibat pemanfaatan pasal untuk 
> > menyerang minoritas tertentu, sementara unsur keseng ajaan tak bisa 
> > dibuktikan.
> >
> > "Baik penuntut umum maupun *hakim gagal membuktikan unsur 'dengan 
> > sengaja di depan umum mengeluarkan perasaan yang pada pokoknya 
> > bersifat permusuhan'*," ucap Direktur Eksekutif ICJR Anggara, dalam 
> > keterangan tertulisnya, Rabu (23/8), mengutip bunyi pasal 156a itu.
> >
> >
> >           Lihat juga:
> >
> > PBNU : Sebut Suara Azan Terlalu Keras Bukan Penodaan Agama 
> > <https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180822001107-12-324072/pbnu-sebut-suara-azan-terlalu-keras-bukan-penodaan-agama/>
> >
> > "Implementasi pasal ini cenderung digunakan dalam konteks menyerang 
> > kelompok minoritas agama tertentu, salah satunya seperti yang
> > terjadi pada kasus Ahok beberapa waktu lalu," kata Anggara.
> >
> > Menurut Anggara, pasal 156a KUHP itu tak dirumuskan dengan ketat
> > dan membuka ruang bagi minoritas untuk terus tertindas.
> >
> > "Pasal penistaan agama selalu digunakan dalam konteks terdakwa atau 
> > terpidana dianggap menista agama dalam posisi mayoritas," imbuhnya.
> >
> > Padahal, menurut Anggara, kelompok minoritas, termasuk dalam hal 
> > kemerdekaan untuk berpendapat, seharusnya dilindungi perundangan.
> >
> > Selain itu, pasa l 20 ayat (2) Kovenan Internasional tentang
> > Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang sudah diratifikasi Indonesia 
> > menyebutkan bahwa salah satu bentuk perlindungan beragama adalah 
> > pelarangan tindakan penghasutan, permusuhan dan kekerasan yang 
> > menghasilkan diskriminasi atas dasar kebangsaan, ras atau agama.
> >
> > Selain itu, dalam Komentar Umum Kovenan Internasional Hak Sipil dan 
> > Politik No. 34 diserukan pula bahwa delik penghinaan bukan
> > merupakan ranah hukum pidana dalam konteks kebebasan berpendapat
> > dan berekspresi.
> >
> >
> >           Lihat juga:
> >
> > MK Tolak Gugatan Jemaah Ahmadiyah soal Pasal Penodaan Agama 
> > <https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180723122001-12-316248/mk-tolak-gugatan-jemaah-ahmadiyah-soal-pasal-penodaan-agama/>
> >
> > Sementara, KUHP dan Rancangan KUHP tetap menampung delik penghinaan 
> > terhadap agama.
> >
> > "Hukum pidana tentang penghinaan tidak boleh digunakan untuk 
> > melindungi suatu hal yang sifatnya subjektif, abstrak dan merupakan 
> > suatu konsep seperti negara, simbol nasional, identitas nasional, 
> > kebudayaan, pemikiran, agama, ideologi dan doktrin politik," tutur 
> > Anggara.
> >
> > Meiliana divonis 18 bulan penjara karena terbukti melakuan penodaan 
> > agama karena mempermasalahkan volume suara azan di masjid
> > Al-Makhsum yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
> >
> > Diketahui, Ahok divonis berslah dalam kasus penodaan agama dalam
> > kasus Al Maidah ayat 51 saat bicara di sebuah acara Pemprov DKI
> > Jakarta, di Kepulauan Seribu, beberapa waktu lalu.
> >
> >
> >           Lihat juga:
> >
> > Jokowi, Pancasila dan Politik Identitas di Pilpres 2019 
> > <https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180816091133-20-322677/jokowi-pancasila-dan-politik-identitas-di-pilpres-2019/>
> >
> > Kasusnya mencuat setelah potongan video acara terseb ut diberi teks 
> > oleh Buni Yani dan rangkaian protes gerakan 212.
> >
> > *(sur)*
> >
> > _
> >   
> 
> 
> 
> ---
> 此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
> http://www.avg.com

Kirim email ke