Ya ente kan pendukung golput dan jelas argument ente mendukung golput. Jadi yg 
positif2nya golput saja yg ente tulis kan? Perlawanan rakyat, anti neolib, anti 
oligarki, akal sehat krn pemilih sadar dll. Ya baguslah krn sejalan dengan 
semangat arief budiman dll ketika keluar dari satyawacana salatiga..

 

Tapi ente pernah nulis enggak negatif2nya golput.

Ya jangan dilewati donk sisi lain dari golput/absenteeism ini!

 

Moso’ orang pinter seperti ente hanya melihat 1 sisi dari satu masalah? Mau 
menang aja ente ini!

 

Beda donk sama seorang analis/akademis yg selalu melihat kedua sisinya. Jelas 
ente ini bukan ditengah yg bisa melihat kedua sisi. Makanya ente suka teriak2 
jokowi loyalis dst nya.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Saturday, September 1, 2018 2:24 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] golput dan apatisnya pendukung idola

 

  

Salah besar kalau menyangka perjuangan golput hanya untuk 

satu kali pemilu / pilpres. Golput itu bentuk perlawanan Rakyat 

secara konstitusional. Tanpa organisasi, tanpa penggalangan, 

tapi setiapkali pemilu bermunculan di berbagai tempat sekaligus. 

Spontanitas yang digerakkan kesamaan "nasib" yaitu, aspirasi 

yang tidak tertampung dalam pemilu. Itu kesamaan mendasarnya. 

Selebihnya, golput sama-sama memperjuangkan pemilu supaya 

betul-betul menjadi gerbang berdaulatnya Rakyat, bukan gerbangnya 

daulat neoliberalisme.

 

Menghadapi kekuatan neolib memang butuh ketabahan. Khususnya 

dari iming-iming materi. Semakin bertahan, godaan akan semakin 

mereka perbesar. Karena itu, untuk meruntuhkan kekuasaan oligarki 

tidak selesai hanya dengan bergolput di satu kali pemilu. Tidak cukup. 

Kalau mau yang sekali tepuk begitu pakailah cara yang inkonstitusional.

Tetapi dari pengalaman 2 kali mengganti kekuasaan secara paksa

(1965 & 1998, ditambah kudeta 2001) bangsa ini belajar bahwa tanpa 

berdaulatnya Rakyat maka kekuatan-kekuatan neolib juga yang akhirnya 

bergiliran menduduki kekuasaan. Melalui pemilu, Rakyat hanya 

dijadikan alas kaki untuk mengantar para neolib itu duduk di sana. 

 

Syukurlah sejauh ini semakin banyak pemilih yang sadar diperalat 

jadi alas kaki penguasa. Akal sehatnya menang, dan mereka pun

bergolput menyuarakan kedaulatannya sebagai pemilik suara. 

Kemenangan akal sehat ini ditandai dengan terus bertambahnya 

jumlah golput dari pemilu ke pemilu, dan selalu lebih banyak dari 

suara "pemenang" pilkada. Apa sejelas ini masih tidak dilihat 

sebagai hasil perjuangan / perlawanan Rakyat?

 

--- SADAR@... wrote:

 

Yaaa, ... boleh dan bisa saja GOLPUT digunakan sebagai bentuk perjuangan. Yang 
jadi masalah apa kiranya yg bisa dicapai dengan GOLPUT itu? Bukankah keadaan 
menjadi lebih jelek kalau berakibat capres terjelek berhasil berkuasa?

 

 

Jonathan Goeij 於 1/9/2018 3:39 寫道:

 

Sebenarnya GOLPUT juga suatu bentuk perlawanan, menunjukkan ketidak setujuan 
atas calon2 yang ada sehingga tidak memilih. Sebaliknya, kalau hanya manut 
bongkokan terus hanya akan tidak diperhitungkan keberadaannya secara politik, 
suaranya tidak akan dianggap karena bagaimanapun toh manut terus.

 

 

On Thursday, August 30, 2018, 5:02:31 PM PDT, ChanCT wrote:

 

Lho, setiap warga diusia dewasa berhak ikut mencoblos, 17 tahun, tentu saja 
mempunyai pemikirannya sendiri untuk menentukan pilihannya! Dan dalam era 
demokrasi, sudah seharusnya tidak diintervensi apalagi ada sedikit pemaksaan 
untuk memilih salah satu capres, ... biarlah mereka gunakan hak nya untuk 
mencoblos sesuai pemikirannya. Dan sebaiknya tidak golput saja! Syukur, syukur 
bisa lebih banyak yang sepemikiran dengan saya, pilih pasangan Jokowi! Jangan 
biarkan yang terjelak berhasil berkuasa, ...!

 

Inilah menurut saya bentuk PERLAWANAN yang masih bisa dilakukan sekarang ini! 
Agar keadaan bisa tetap maju sedikit lebih baik, dan tidak menjadi lebih jelek, 
... sedikit saja mengurangi penderitaan rakyat banyak dan tidak sebaliknya! 
Sedang GOLPUT tidak akan membawa perubahaan apa-apa, kecuali kemungkinan 
membiarkan yang terjelek berhasil berkuasa.

 

 

Jonathan Goeij 於 31/8/2018 3:28 寫道:

 

Sudah 20 tahun, sejak 3 tahun lalu sudah boleh nyoblos.

 

Argumen utama Chan adalah jangan sampai orang paling jahat jadi presiden 
padahal yang dimaksud ya coblos aja Jokowi-Ma'ruf, lha bagi generasi milenial 
yg usianya 30th kebawah sebenarnya siapakah yang paling jahat antara kedua 
pasangan

 

 

--- lusi_d@... wrote :

Si jabang bayi lahir ketika Harto kejungkel! Lah sekarang umur jabang
bayi itu sudah berapa tahun? Belum juga dianggap dewasa dan
masih dianggap normal kalau belum berlawan? 

 

 

 



Kirim email ke