Lha makanya, sudah pada kakek-nenek kok disamakan seperti 
bayi yang baru merangkak. Orang uzur kan biasanya disamakan 
seperti anak kecil yang hidupnya bergelimang keingintahuan. 
Bedanya, berkat asam-garam, orang uzur (mestinya) tidak lagi 
gampang dibohongi. 

Tetapi sebagai bangsa, Indonesia yang barusan berultah ke 73
adalah ibarat si uzur yang berjiwa remaja; pemberontak yang 
penuh gairah meraih kejujuran & cinta. Bukan penurut yang tulus, 
eheh....
--- SADAR@... wrote:
Lalu, ... kekuatan rakyat dimata nenek yang satu ini sudah cukup kuat dan bisa 
memenangkan segala mimpinya? Dasar nenek dalam tempurung yg hidup dalam mimpi 
saja! Hehehee, ...
  
 Tatiana Lukman 於 31/8/2018 0:49 寫道:
He,...he itulah ideologi orang revisionis!!! bayangin, bicara soal kekuatan 
rakyat, dia membandingkannya seperti bayi yang baru merangkak!!!!

On Thursday, August 30, 2018 6:44 PM, ajeg wrote:
Barangkali Anda harus pikirkan cara lain untuk meyakinkan orang  
    bahwa kaum lemah (miskin?) hanya boleh tunduk,  tercucuk, 
   tak berkutik, di hadapan si kuat (kaya?). Sebab, terus-menerus 
   mengumpamakan masyarakat lemah (miskin?) sebagai bayi yang 
   baru bisa merangkak cukup menggelikan. Terlebih masyarakat itu 
  sudah memasuki usia 73 tahun.         
   Kurangi atau buang saja semangat menyalahkan orang banyak 
   atas kegagalan Anda meyakinkan mereka. Kalau menjual ide 
   sendiri saja Anda gagal bagaimana bisa menjual ide idola  Anda?  
   Btw, kalau tahun 2014 Anda mencoblos Jokowi, apa 2019 tetap 
  coblos itu lagi?      
   --- SADAR@... wrote: 
  Aaachhh, ... ternyata anda TIDAK BERHASIL menangkap makna yang saya selalu 
nyatakan, bahwa setiap orang  berjuang sesuai kemampuan saja! Saat masih bayi 
baru bisa merangkak, yaa majulah dengan merangkak! Jangan paksakan diri untuk 
berdiri  melangkah maju, ... bisa terjungkel dan berakibat fatal tidak bisa 
bangun  lagi!  Kekuatan rakyat yang masih sangat  lemah, tentu saja BELUM 
berkemampuan  mengubah sistem yg jelek  diberlakukan sekarang ini! Kita hanya 
bisa  mengikuti gerak kemajuan reformasi-demokrasi yang sedang bergulir,  
berusaha mencapai apa yang masih  mungkin bisa dicapai saja  dahulu, untuk maju 
sedikit saja lebih baik.  Itulah yang saya bilang, berusahalah mencapai 
kemajuan  sedikit, sekalipun maju merayap! 
  Yaitu, jangan biarkan capres terjelek  berhasil berkuasa, ... agar keadaan  
tidak lebih jelek! TIDAK ada  hubungan dengan coblos idola, ... kecuali  hanya 
berharap situasi bisa  maju sedikit saja lebih baik kalau Jokowi  bisa 
meneruskan jabatan Presiden 5 tahun kedepan, jangan sampai terjadi  sebaliknya! 
Kalau capres terjelek  berkuasa tentu keadaan menjadi  lebih jelek dan lebih 
menderita bagi rakyat  banyak! Itu saja! Sudah cukup sampai disini  saja!
  
  ajeg 於 30/8/2018 0:58 寫道: 
   Yang membawa soal 'apatis' kan Anda, dan kelihatannya pemahaman 
       Anda rancu dengan 'pesimis'. Apatis itu masa bodoh, tidak peduli. 
  Makanya saya perjelas dengan fakta:            
      "Anda sendiri menyimpulkan dengan baik bahwa pemilu dalam 
  sistem UUD amandemen ini lebih jelek (dari sistem UUD'45), 
   tapi toh sistem jelek ini tetap Anda dukung/biarkan sebagai  penentu 
  nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan. Apa yang tampak sebagai 
   dukungan inilah justru bentuk apatis yang sesungguhnya. Apatis, 
  masa bodoh, tak peduli. Biarpun sistemnya jelek, calon  yang disediakan 
  pun jelek semua, masa bodoh  amat, yang penting nyoblos  salahsatunya... 
  Tunduk, tercucuk, tak berkutik!" 
  Jujur saja saya nyaris keselek kopi saking geli membaca cara Anda 
            membandingkan golput. Di era Orba "tidak ada salahnya" tetapi di 
era 
    pemilu yang Anda sebut jelek ini golput justru disalahkan karena 
    "tidak ada perubahaan apa pun". Betul pertanyaan Lusi,  perubahan apa 
    yang sudah Anda dapatkan sejak Soeharto terjungkel (setidaknya  sejak 
    pilpres 2014)? 
    
    Sekedar mengingatkan saja, Anda tidak boleh lempar kesalahan ke golput 
    atau siapa pun atas ketakutan Anda sendiri. Kalau takut idola Anda kalah 
    ya Anda coblos saja dia di pilpres, tidak usah paranoid dan lempar 
kesalahan 
    ke orang lain. Tidak usah juga mengajak orang untuk ikut ketakutan. Cukup 
    yakinkan saja orang dengan perobahan baik (kalau ada) yang sudah dibawa 
      idola Anda. 
    
    Semua argumen Anda soal pilpres (dan menentang golput) jadi gugur 
    karena analogi pemilu Anda dengan makanan itu kok mirip Megawati yang 
menganggap kemenangan di  pilpres sebagai "buka puasa  kekuasaan"; alias  
memandang pemilu cuma untuk  menang-menangan belaka. 
  --- SADAR@.... wrote:
Biar lebih fokus lagi kemasalah  pemilu dengan pilihan GOLPUT nya, baik nya 
jangan terjebak soal  apatis dan mana yang lebih apatis  lagi. 


  

Kirim email ke