He,...he itulah ideologi orang revisionis!!! bayangin, bicara soal kekuatan 
rakyat, dia membandingkannya seperti bayi yang baru merangkak!!!! 

    On Thursday, August 30, 2018 6:44 PM, "ajeg [email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:
 

     Barangkali Anda harus pikirkan cara lain untuk meyakinkan orang 
bahwa kaum lemah (miskin?) hanya boleh tunduk, tercucuk, 
tak berkutik, di hadapan si kuat (kaya?). Sebab, terus-menerus 
mengumpamakan masyarakat lemah (miskin?) sebagai bayi yang 
baru bisa merangkak cukup menggelikan. Terlebih masyarakat itu 
sudah memasuki usia 73 tahun.
Kurangi atau buang saja semangat menyalahkan orang banyak 
atas kegagalan Anda meyakinkan mereka. Kalau menjual ide 
sendiri saja Anda gagal bagaimana bisa menjual ide idola Anda?
Btw, kalau tahun 2014 Anda mencoblos Jokowi, apa 2019 tetap 
coblos itu lagi?
   --- SADAR@... wrote:
Aaachhh, ... ternyata anda TIDAK BERHASIL menangkap makna yang saya selalu 
nyatakan, bahwa setiap orang berjuang sesuai kemampuan saja! Saat masih bayi 
baru bisa merangkak, yaa majulah dengan  merangkak! Jangan paksakan diri untuk 
berdiri melangkah maju, ... bisa terjungkel dan berakibat fatal tidak bisa 
bangun lagi! Kekuatan rakyat yang masih sangat lemah, tentu saja BELUM 
berkemampuan mengubah sistem yg jelek diberlakukan sekarang ini! Kita hanya 
bisa mengikuti gerak kemajuan reformasi-demokrasi yang sedang bergulir, 
berusaha mencapai apa yang masih mungkin bisa dicapai saja dahulu, untuk maju 
sedikit saja lebih baik.  Itulah yang saya bilang, berusahalah mencapai 
kemajuan sedikit, sekalipun maju merayap! 
  Yaitu, jangan biarkan capres terjelek berhasil berkuasa, ... agar keadaan 
tidak lebih jelek! TIDAK ada hubungan dengan coblos idola, ... kecuali hanya 
berharap situasi bisa maju sedikit saja lebih baik kalau Jokowi bisa meneruskan 
jabatan Presiden 5 tahun kedepan, jangan sampai terjadi sebaliknya! Kalau 
capres terjelek berkuasa tentu keadaan menjadi lebih jelek dan lebih menderita 
bagi rakyat banyak! Itu saja! Sudah cukup sampai disini saja!

ajeg 於 30/8/2018 0:58 寫道:
Yang membawa soal 'apatis' kan Anda, dan kelihatannya pemahaman 
    Anda rancu dengan 'pesimis'. Apatis itu masa bodoh, tidak peduli. 
  Makanya saya perjelas dengan fakta:         
    "Anda sendiri menyimpulkan dengan baik bahwa pemilu dalam 
  sistem UUD amandemen ini lebih jelek (dari sistem UUD'45), 
   tapi toh sistem jelek ini tetap Anda dukung/biarkan sebagai penentu 
  nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan. Apa yang tampak sebagai 
   dukungan inilah justru bentuk apatis yang sesungguhnya. Apatis, 
  masa bodoh, tak peduli. Biarpun sistemnya jelek, calon yang disediakan 
  pun jelek semua, masa bodoh amat, yang penting nyoblos salahsatunya... 
  Tunduk, tercucuk, tak berkutik!" 
  Jujur saja saya nyaris keselek kopi saking geli membaca cara Anda 
         membandingkan golput. Di era Orba "tidak ada salahnya" tetapi di era 
  pemilu yang Anda sebut jelek ini golput justru disalahkan karena 
  "tidak ada perubahaan apa pun". Betul pertanyaan Lusi, perubahan apa 
  yang sudah Anda dapatkan sejak Soeharto terjungkel (setidaknya sejak 
  pilpres 2014)? 
  
  Sekedar mengingatkan saja, Anda tidak boleh lempar kesalahan ke golput 
  atau siapa pun atas ketakutan Anda sendiri. Kalau takut idola Anda kalah 
  ya Anda coblos saja dia di pilpres, tidak usah paranoid dan lempar kesalahan 
  ke orang lain. Tidak usah juga mengajak orang untuk ikut ketakutan. Cukup 
  yakinkan saja orang dengan perobahan baik (kalau ada) yang sudah dibawa 
   idola Anda. 
  
  Semua argumen Anda soal pilpres (dan menentang golput) jadi gugur 
  karena analogi pemilu Anda dengan makanan itu kok mirip Megawati yang 
menganggap kemenangan di pilpres sebagai "buka  puasa kekuasaan"; alias 
memandang pemilu cuma untuk menang-menangan belaka. 
  --- SADAR@... wrote:
    
  Biar lebih fokus lagi kemasalah pemilu dengan pilihan GOLPUT nya, baik nya 
jangan terjebak soal apatis dan mana yang lebih apatis lagi. Betul juga 
komentar bung Lusi, perjuangan rakyat tidak sebatas dipemilu saja, jadi 
sekalipun golput tidak berarti apatis, masih ada yang lain bisa dikerjakan.    
Tapi, ... saya tetap pada pernyataan dengan GOLPUT, sadar atau tidak berarti 
membiarkan kemungkinan yang lebih jelek berkuasa. Sedang disaat ada kemungkinan 
mencapai yang sedikit saja lebih baik,  itupun harus diraih. Disitulah suara 
kita berikan, agar yang lebih jelek tidak berkuasa. Yang jelas akan lebih 
celaka dan membawa penderitaan berkepanjangan bagi rakyat banyak. Saya 
melihatada perbedaan prinsip GOLPUT diera Suharto dan diera reformasi-demokrasi 
sekarang ini. Diera Suharto sejak pemilu 1971 sampai terakhir 1997, hanya 
menjadi alat  pengesahan jenderal Suharto menjadi pemenang meneruskan kekuasaan 
saja! Tidak ada kekuatan apapun yg bisa menjadi pilihan lain, .... sebelum 
pemilu dimulai juga sudah bisa dipastikan Suharto menang, kok! Jadi, GOLPUT 
tidak ada salahnya. Beda dengan pilpres langsung sejak tahun 2004, sekalipun 
juga tidak terhindar adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi, masih ada 
kemungkinan pilihan yg diambil dari capres-capres yang  muncul itu! Dari yang 
jelek-jelek itu juga masih ada yang bisa dikategorikan lebih jelek/jahat! 
Artinya, dengan sikap GOLPUT jelas TIDAK ada tujuan yg bisa dicapai! TIDAK ada 
perubahan  perubahan apapun, bahkan secara tidak langsung membiarkan yang 
terjelek bisa berkuasa! Yang akan membuat rakyat banyak lebih menderita 
berkepanjangan, dan perjuangan rakyat akan jadi lebih  berat dan lebih sulit 
lagi, ... Kenapa tidak ikut berikan suara pada capres yg diperkirakan sedikit 
saja lebih baik dan jangan biarkan yg terjelek itu berkuasa. Bukankah sesuai  
perhitungan dengan keberhasilan yang sedikit lebih baik itu berkuasa, keadaan 
akan maju sedikit lebih baik dan tidak sejelek yg terjelek itu kalau berkuasa.
  Sama halnya, disaat kita sudah menderita kelaparan berhari-hari, satu ketika 
ada hidangan dimeja yang disuguhkan, sekalipun kita tidak suka, selama kita 
perhitungkan ada menu yang yang lebih baik untuk  kesehatan, kenapa tidak kita 
makan saja dahulu. Atau lebih ekstrim lagi, tapol didalam penjara yang kurang 
makan bergizi, kelaparan berkepanjangan juga perlu tangkap kadal, tikus atau 
apa adanya saja  untuk dimakan menambah gizi, protein, ... jangan biarkan diri 
mati percuma! Biarlah tubuh kembali cukup kuat dan berkemampuan meraih tujuan 
berikut. 
  
  ajeg 於 29/8/2018 17:35 寫道: 
       Supaya fokus membahas pemilu (dan golput), topik ini 
     dipisah dulu dari thread sebelumnya (Meiliana Tanjung Balai), 
  kasus yang muncul akibat pemerintahan yang buruk.     
     =================     
     Apa iya golput bersikap apatis dalam pemilu?            
  Jelas tidak.   
    Kalau pun ada yang pesimis, kita semua tahu apa penyebab orang jadi pesimis 
 terhadap pemilu. 
        
          Anda sendiri menyimpulkan dengan baik bahwa pemilu dalam sistem UUD 
amandemen ini lebih  jelek (dari sistem UUD'45), tapi toh sistem jelek ini 
tetap 
    Anda dukung/biarkan sebagai penentu nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan.. 
    Apa yang tampak sebagai dukungan inilah justru bentuk apatis yang 
sesungguhnya. Apatis, masa bodoh, tak peduli. Biarpun sistemnya jelek, calon 
yang disediakan pun  jelek semua, masa bodoh amat, yang penting nyoblos 
salahsatunya... 
  Tunduk, tercucuk, tak berkutik!      
         Golput tidak begitu. Sejak digulirkan pada Pemilu 1971, golput sudah  
menjadi gerakan perlawanan akibat tidak terwakilinya aspirasi Rakyat dalam 
pemilu. Dan, sejak  diberlakukannya UUD amandemen, perlawanan Rakyat melalui 
pemilu ini terpaksa menusuk lebih dalam lagi ke persoalan sistem bernegara yang 
haluannya dirobah-paksa  menjadi neoliberal – perobahan paksa yang antara lain 
menghasilkan sitem pemilu jelek ini.       
       Jadi, golput tidak apatis. Golput sangat peduli langkah bangsa ini 
menuju cita-cita  Proklamasi 17845, dan bukan hanya bicara menang-menangan di 
satu-dua pemilu belaka. 
    
    Singkatnya, perlawanan golput sekarang lebih mendasar dan meluas ke 8 
    penjuru angin. Kalau disederhanakan, golput sekarang yah gerakan  menjaga 
kewarasan.        
             Gampangnya, ibarat disodori sajian menu-menu tak sehat ketika  
kadar kolesterol sedang tinggi, jangan apatis, jangan masa bodoh. Tolak saja 
karena tubuh Anda sedang tidak butuh menu  begituan. Atau, jangan berharap 
lahirnya kucing ketika pilihan yang  disodorkan justru tikus rumah dan tikus 
got. Jangan masa bodoh, 
      periksa dulu predator apa yang disodorkan. Bisakah memenuhi  aspirasi 
akan lahirnya kucing dambaan.  
    --- SADAR@... wrote:          
  Justru akan lebih naif bersikap apatis, konkritnya memilih GOLPUT tanpa bisa 
mencapai perubahan yg dimimpikan,  sebalikinya bisa berarti membiarkan yang 
terjelek berhasil berkuasa!
  
  ajeg 於 28/8/2018 21:50 寫道:
  
    Hasil baik seperti apa yang bisa didapat dari cara / 
  sistem yang buruk? 
  Terlalu naiflah berharap tikus melahirkan kucing. 
  --- SADAR@... wrote: 
  TIDAK, ...! Tidak ada anggapan hasil kemenangan dengan 37% lebih besar dari 
63%! Saya sepenuhnya juga yakin, pilpres secara langsung yg dijalankan belasan 
tahun terakhir ini jauh lebih JELEK ketimbang  Presiden dipilih oleh MPR! Yang 
harus bertanggungjawab penuh pada MPR dengan melaksanakan GBHN yang telah 
ditentukan MPR! 
  Yang jadi masalah yang harus kita hadapi secara nyata, keputusan pilpres 
model sekarang inilah yang diberlakukan dan harus diikuti, ... kekuatan rakyat 
belum cukup kuat untuk merubah lebih baik, kecuali berusaha keras  jangan 
pasangan capres yang terjelek berhasil berkuasa saja!
  
  ajeg 於 26/8/2018 21:02 寫道: 
  Karena Anda begitu meyakini 37% lebih besar dari 63%, alias 
        yakin 37% adalah suara mayoritas, maka saya yakin di antara kita 
       pasti ada yang kurang sehat. 
       
    Hehe...          
        --- SADAR@... wrote:     Apakah bung yakin dengan GOLPUT mencapai lebih 
51%, misalnya, AKAL-SEHAT itu bisa dicapai? Bukankah seandainya hendak mencapai 
PEMILU yang lebih SEHAT, yang dinamakan kekuatan rakyat itu harus mengajukan 
dan memperjuangkan sekuat tenaga ide/pemikiran mekanisasi dan 
ketentuan-ketentuan PEMILU yang dianggap  lebih ADIL, lebih SEHAT, lebih 
menjamin keluarkan pemimpin yg berkualitas, ...! PERJUANGKAN itu, ... syukur 
bisa diterima dan itulah yang dijalankan. ajeg 於 25/8/2018 23:36 寫道: 
    Memang, perlu pemikiran segar untuk paham apa itu akal sehat. 
      Jelasnya, Jokowi yang cuma mengumpulkan 37% suara dukungan 
      tapi diberi hak untuk berkuasa atas 100%. Di mana demokratisnya?     Di 
mana akal sehatnya? 
      
      Itulah yang hendak dicapai dengan bergolput, mengembalikan dulu 
      akal sehat ke tempatnya. 
  --- sadar@... wrote: 
  Tapi bung Ajeg, ... dari tulisan yang Fw. kan saya baca ulang juga TIDAK 
menjelaskan apa yang hendak dicapai dengan GOLPUT. Kalau yang bung maksudkan, 
mencapai golput mayoritas, jangankan golput bisa mencapai  99%, sampai sekarang 
ini juga BELUM pernah mencapai 51%! Tapi, sekalipun diambil contoh ekstrim, 
golput bisa tercapai 99%, juga TIDAK MERUBAH hasil pemilu yang dimenangkan 
segelintir orang itu saja. Lalu, apa yang  bisa dicapai deengan golput? Karena 
memang spt bung katakan pemilu kurangajar saja!  Sedang untuk 
merubah/memperbaiki saya yakin juga TIDAK akan tercapai dengan golput itu! 
Justru dengan makin banyak yg golput, keadaan akan terus lebih memburuk, 
apalagi dengan berhasilnya capres  terjelek/terjahat yang berkuasa! Bukankah 
dengan demikian rakyat banyak jadi makin menderita berkepanjangan, ... Salam, 
ChanCT
  
 ajeg 於 25/8/2018 15:25 寫道: 
            Apa yang hendak dicapai dengan bergolput sudah saya tulis  
        belasan tahun di berbagai milis termasuk di sini. Yang terbaru, 
  belum Anda tanggapi,
                              kontes idola      (kembalikan akal sehat ke 
tempat yang benar)     
        
|  | 
   |   
Yahoo! Groups
  |

    
         --- SADAR@... wrote:
  Lho, ... bukankah dalam setiap langkah perjuangan HARUS memperhitungkan 
setiap perubahan perkembangan yang terjadi untuk pertahankan prinsip TETAP BISA 
MAJU lebih baik atau setidaknya mengurangi penderitaan rakyat banyak, .... 
sekalipun sedikit saja! Jadi, tidak main seruduk dengan main mutlak-mutlakan 
dan absulut-absolutan saja, yang dengan kata lain RADIKALIS!          Disinilah 
perbedaan realistis dan radikalis, ... bisa tidak menemukan taktik-perjuangan 
agar gerak kemajuan yang MASIH BISA dicapai sesuai kondisi subjektif dan 
oebjektif yang dihadapi atau mengambil sikap apatis, persetan dengan kedua 
capres-cawapres yang sama-sama jelek dan jahat itu, dengan sikap GOLPUT 
membiarkan yang lebih jelek dan jahat itu berkuasa! Bahwa disekitar Jokowi 
masih tidak sedikit pejabat korup, pelanggar HAM tentu TIDAK ada yang 
menyangkal, itulah kenyatan yang memang harus dihadapi, ... dan harus terus 
diperbaiki dan diperjuangkan lebih baik sesuai perkembangan kekuatan rakyat 
yang ada. Sebaliknya kalau dibiarkan Prabowo yang berkuasa, apa keadaan bisa 
jadi lebih baik??? 
  Atau coba kalian kasih argumentasi yang meyakinkan apa yang hendak kalian 
capai dengan GOLPUT itu??? Bisakah dengan alternatif lain mencapai tujuan 
mengurangi penderitaan rakyat banyak?
   
  
   Tatiana Lukman 於 25/8/2018 0:49 寫道:  
    Ha...ha...emangnya baru tahu kalau si Chan itu orangnya sangat oportunis!!! 
Saya dituduh mendukung Prabowo karena saya nyatakan kritik si kader itu sesuai 
dengan kenyataan dan prakteknya Jokowi. Setelah ada berita tentang si calon 
wakilnya Jokowi, langsung bilang, sekarang lain lagi situasinya, harus 
dipertimbangkan pilih yang kurang jahat, dengan insinuasi , pilih Prabowo. Eh, 
sekarang balik lagi ke Jokowi!! Kebingungan dia nggak tahu yang mana yang 
kurang jahat!! Karena sebetulnya dua-duanya SAMA JAHATNYA KEPADA RAKYAT!!! 
Soalnya si Chan itu ingin menunjukkan, apapun dan bagaimanapun cara dan 
argumentasinya,   supaya orang tidak Golput! Sama seperti dalam soal Tiongkok, 
si Chan ingin menegakkan benang basah!!! Ya mana bisa!!! 
 
      On Friday, August 24, 2018 4:44 PM, Jonathan Goeij wrote:  
    Sebenarnya lebih mengherankan lagi itu anda bung Chan, sudah tahu seperti 
yg anda uraikan dibawah, juga sudah tahu peranan Ma'ruf Amin dalam membakar 
massa dengan memberi label penista agama dalam fatwanya bahkan menjadi 
penggerak berbagai aksi akbar itu, sudah tahu si Jokowi tidak becus dan tidak 
mampu menjalankan fungsinya sebagai negara melindungi rakyatnya sendiri dengan 
berkedok "tidak akan membela" memerintahkan polisi secara tidak langsung 
memroses tuduhan dakocan seperti itu, eh kok bisa2nya masih menyuruh orang2 
mendukung tanpa reserve kedua orang itu yang merupakan Pontius Pilatus dan Imam 
Besar Kayafas dengan men-nakut2i mencegah yang jahat berkuasa. 

    #yiv1944860469 #yiv1944860469 -- #yiv1944860469ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-mkp #yiv1944860469hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mkp #yiv1944860469ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mkp .yiv1944860469ad 
{padding:0 0;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mkp .yiv1944860469ad p 
{margin:0;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mkp .yiv1944860469ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-sponsor 
#yiv1944860469ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-sponsor #yiv1944860469ygrp-lc #yiv1944860469hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-sponsor #yiv1944860469ygrp-lc .yiv1944860469ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1944860469 #yiv1944860469actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1944860469
 #yiv1944860469activity span {font-weight:700;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1944860469 #yiv1944860469activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1944860469 #yiv1944860469activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1944860469 #yiv1944860469activity span 
.yiv1944860469underline {text-decoration:underline;}#yiv1944860469 
.yiv1944860469attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1944860469 .yiv1944860469attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1944860469 .yiv1944860469attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1944860469 .yiv1944860469attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1944860469 .yiv1944860469attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1944860469 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1944860469 .yiv1944860469bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1944860469 
.yiv1944860469bold a {text-decoration:none;}#yiv1944860469 dd.yiv1944860469last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1944860469 dd.yiv1944860469last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1944860469 
dd.yiv1944860469last p span.yiv1944860469yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1944860469 div.yiv1944860469attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1944860469 div.yiv1944860469attach-table 
{width:400px;}#yiv1944860469 div.yiv1944860469file-title a, #yiv1944860469 
div.yiv1944860469file-title a:active, #yiv1944860469 
div.yiv1944860469file-title a:hover, #yiv1944860469 div.yiv1944860469file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1944860469 div.yiv1944860469photo-title a, 
#yiv1944860469 div.yiv1944860469photo-title a:active, #yiv1944860469 
div.yiv1944860469photo-title a:hover, #yiv1944860469 
div.yiv1944860469photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1944860469 
div#yiv1944860469ygrp-mlmsg #yiv1944860469ygrp-msg p a 
span.yiv1944860469yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1944860469 
.yiv1944860469green {color:#628c2a;}#yiv1944860469 .yiv1944860469MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1944860469 o {font-size:0;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469photos div {float:left;width:72px;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1944860469
 #yiv1944860469reco-category {font-size:77%;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469reco-desc {font-size:77%;}#yiv1944860469 .yiv1944860469replbq 
{margin:4px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-mlmsg select, #yiv1944860469 input, #yiv1944860469 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-mlmsg pre, #yiv1944860469 code {font:115% 
monospace;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-mlmsg #yiv1944860469logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-msg 
p#yiv1944860469attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-reco #yiv1944860469reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-sponsor 
#yiv1944860469ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-sponsor #yiv1944860469ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-sponsor #yiv1944860469ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1944860469 #yiv1944860469ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1944860469 
#yiv1944860469ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1944860469 

   

Kirim email ke