Menyeblos salah satu dari yang buruk sama saja dengan: "pililah yang buruk". hehehehehehehe
On Thu, Aug 30, 2018 at 2:59 AM ChanCT [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote: > > > Aaachhh, ... ternyata anda *TIDAK BERHASIL* menangkap makna yang saya > selalu nyatakan, bahwa setiap orang berjuang sesuai kemampuan saja! Saat > masih bayi baru bisa merangkak, yaa majulah dengan merangkak! Jangan > paksakan diri untuk berdiri melangkah maju, ... bisa terjungkel dan > berakibat fatal tidak bisa bangun lagi! > > Kekuatan rakyat yang masih sangat lemah, tentu saja BELUM berkemampuan > mengubah sistem yg jelek diberlakukan sekarang ini! Kita hanya bisa > mengikuti gerak kemajuan reformasi-demokrasi yang sedang bergulir, berusaha > mencapai apa yang masih mungkin bisa dicapai saja dahulu, untuk maju > sedikit saja lebih baik. Itulah yang saya bilang, berusahalah mencapai > kemajuan sedikit, sekalipun maju merayap! > > Yaitu, jangan biarkan capres terjelek berhasil berkuasa, ... agar keadaan > tidak lebih jelek! TIDAK ada hubungan dengan coblos idola, ... kecuali > hanya berharap situasi bisa maju sedikit saja lebih baik kalau Jokowi bisa > meneruskan jabatan Presiden 5 tahun kedepan, jangan sampai terjadi > sebaliknya! Kalau capres terjelek berkuasa tentu keadaan menjadi lebih > jelek dan lebih menderita bagi rakyat banyak! > > Itu saja! Sudah cukup sampai disini saja! > > > > ajeg 於 30/8/2018 0:58 寫道: > > Yang membawa soal 'apatis' kan Anda, dan kelihatannya pemahaman > Anda rancu dengan 'pesimis'. Apatis itu masa bodoh, tidak peduli. > Makanya saya perjelas dengan fakta: > > "Anda sendiri menyimpulkan dengan baik bahwa pemilu dalam > sistem UUD amandemen ini lebih jelek (dari sistem UUD'45), > tapi toh sistem jelek ini tetap Anda dukung/biarkan sebagai penentu > nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan. Apa yang tampak sebagai > dukungan inilah justru bentuk apatis yang sesungguhnya. Apatis, > masa bodoh, tak peduli. Biarpun sistemnya jelek, calon yang disediakan > pun jelek semua, masa bodoh amat, yang penting nyoblos salahsatunya... > Tunduk, tercucuk, tak berkutik!" > > Jujur saja saya nyaris keselek kopi saking geli membaca cara Anda > membandingkan golput. Di era Orba "tidak ada salahnya" tetapi di era > pemilu yang Anda sebut jelek ini golput justru disalahkan karena > "tidak ada perubahaan apa pun". Betul pertanyaan Lusi, perubahan apa > yang sudah Anda dapatkan sejak Soeharto terjungkel (setidaknya sejak > pilpres 2014)? > > Sekedar mengingatkan saja, Anda tidak boleh lempar kesalahan ke golput > atau siapa pun atas ketakutan Anda sendiri. Kalau takut idola Anda kalah > ya Anda coblos saja dia di pilpres, tidak usah paranoid dan lempar > kesalahan > ke orang lain. Tidak usah juga mengajak orang untuk ikut ketakutan. Cukup > yakinkan saja orang dengan perobahan baik (kalau ada) yang sudah dibawa > idola Anda. > > Semua argumen Anda soal pilpres (dan menentang golput) jadi gugur > karena analogi pemilu Anda dengan makanan itu kok mirip Megawati yang > menganggap kemenangan di pilpres sebagai "buka puasa kekuasaan"; alias > memandang pemilu cuma untuk menang-menangan belaka. > > --- SADAR@... wrote: > > Biar lebih fokus lagi kemasalah pemilu dengan pilihan GOLPUT nya, baik nya > jangan terjebak soal apatis dan mana yang lebih apatis lagi. Betul juga > komentar bung Lusi, perjuangan rakyat tidak sebatas dipemilu saja, jadi > sekalipun golput tidak berarti apatis, masih ada yang lain bisa dikerjakan. > > Tapi, ... saya tetap pada pernyataan dengan GOLPUT, sadar atau tidak > berarti membiarkan kemungkinan yang lebih jelek berkuasa. Sedang disaat ada > kemungkinan mencapai yang sedikit saja lebih baik, itupun harus diraih. > Disitulah suara kita berikan, agar yang lebih jelek tidak berkuasa. Yang > jelas akan lebih celaka dan membawa penderitaan berkepanjangan bagi rakyat > banyak. > > Saya melihatada perbedaan prinsip GOLPUT diera Suharto dan diera > reformasi-demokrasi sekarang ini. Diera Suharto sejak pemilu 1971 sampai > terakhir 1997, hanya menjadi alat pengesahan jenderal Suharto menjadi > pemenang meneruskan kekuasaan saja! Tidak ada kekuatan apapun yg bisa > menjadi pilihan lain, ... sebelum pemilu dimulai juga sudah bisa dipastikan > Suharto menang, kok! Jadi, GOLPUT tidak ada salahnya. > > Beda dengan pilpres langsung sejak tahun 2004, sekalipun juga tidak > terhindar adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi, masih ada kemungkinan > pilihan yg diambil dari capres-capres yang muncul itu! Dari yang > jelek-jelek itu juga masih ada yang bisa dikategorikan lebih jelek/jahat! > Artinya, dengan sikap GOLPUT jelas TIDAK ada tujuan yg bisa dicapai! TIDAK > ada perubahan perubahan apapun, bahkan secara tidak langsung membiarkan > yang terjelek bisa berkuasa! Yang akan membuat rakyat banyak lebih > menderita berkepanjangan, dan perjuangan rakyat akan jadi lebih berat dan > lebih sulit lagi, ... Kenapa tidak ikut berikan suara pada capres yg > diperkirakan sedikit saja lebih baik dan jangan biarkan yg terjelek itu > berkuasa. Bukankah sesuai perhitungan dengan keberhasilan yang sedikit > lebih baik itu berkuasa, keadaan akan maju sedikit lebih baik dan tidak > sejelek yg terjelek itu kalau berkuasa. > > Sama halnya, disaat kita sudah menderita kelaparan berhari-hari, satu > ketika ada hidangan dimeja yang disuguhkan, sekalipun kita tidak suka, > selama kita perhitungkan ada menu yang yang lebih baik untuk kesehatan, > kenapa tidak kita makan saja dahulu. Atau lebih ekstrim lagi, tapol didalam > penjara yang kurang makan bergizi, kelaparan berkepanjangan juga perlu > tangkap kadal, tikus atau apa adanya saja untuk dimakan menambah gizi, > protein, ... jangan biarkan diri mati percuma! Biarlah tubuh kembali cukup > kuat dan berkemampuan meraih tujuan berikut. > > ajeg 於 29/8/2018 17:35 寫道: > > Supaya fokus membahas pemilu (dan golput), topik ini > > dipisah dulu dari thread sebelumnya (Meiliana Tanjung Balai), > > kasus yang muncul akibat pemerintahan yang buruk. > > > ================= > > > Apa iya golput bersikap apatis dalam pemilu? > > > Jelas tidak. > > Kalau pun ada yang pesimis, kita semua tahu apa penyebab orang jadi > pesimis terhadap pemilu. > > > Anda sendiri menyimpulkan dengan baik bahwa pemilu dalam sistem UUD > amandemen ini lebih jelek (dari sistem UUD'45), tapi toh sistem jelek ini > tetap > > Anda dukung/biarkan sebagai penentu nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan. > > Apa yang tampak sebagai dukungan inilah justru bentuk apatis yang > sesungguhnya. Apatis, masa bodoh, tak peduli. Biarpun sistemnya jelek, > calon yang disediakan pun jelek semua, masa bodoh amat, yang penting > nyoblos salahsatunya... > > Tunduk, tercucuk, tak berkutik! > > > Golput tidak begitu. Sejak digulirkan pada Pemilu 1971, golput sudah > menjadi gerakan perlawanan akibat tidak terwakilinya aspirasi Rakyat dalam > pemilu. Dan, sejak diberlakukannya UUD amandemen, perlawanan Rakyat melalui > pemilu ini terpaksa menusuk lebih dalam lagi ke persoalan sistem bernegara > yang haluannya dirobah-paksa menjadi neoliberal – perobahan paksa yang > antara lain menghasilkan sitem pemilu jelek ini. > > > Jadi, golput tidak apatis. Golput sangat peduli langkah bangsa ini menuju > cita-cita Proklamasi 17845, dan bukan hanya bicara menang-menangan di > satu-dua pemilu belaka. > > > Singkatnya, perlawanan golput sekarang lebih mendasar dan meluas ke 8 > > penjuru angin. Kalau disederhanakan, golput sekarang yah gerakan menjaga > kewarasan. > > > Gampangnya, ibarat disodori sajian menu-menu tak sehat ketika kadar > kolesterol sedang tinggi, jangan apatis, jangan masa bodoh. Tolak saja > karena tubuh Anda sedang tidak butuh menu begituan. Atau, jangan berharap > lahirnya kucing ketika pilihan yang disodorkan justru tikus rumah dan tikus > got. Jangan masa bodoh, > > periksa dulu predator apa yang disodorkan. Bisakah memenuhi aspirasi akan > lahirnya kucing dambaan. > > --- SADAR@... wrote: > > Justru akan lebih naif bersikap apatis, konkritnya memilih GOLPUT tanpa > bisa mencapai perubahan yg dimimpikan, sebalikinya bisa berarti membiarkan > yang terjelek berhasil berkuasa! > > ajeg 於 28/8/2018 21:50 寫道: > > Hasil baik seperti apa yang bisa didapat dari cara / > sistem yang buruk? > > Terlalu naiflah berharap tikus melahirkan kucing. > > --- SADAR@... wrote: > > TIDAK, ...! Tidak ada anggapan hasil kemenangan dengan 37% lebih besar > dari 63%! Saya sepenuhnya juga yakin, pilpres secara langsung yg dijalankan > belasan tahun terakhir ini jauh lebih JELEK ketimbang Presiden dipilih oleh > MPR! Yang harus bertanggungjawab penuh pada MPR dengan melaksanakan GBHN > yang telah ditentukan MPR! > > Yang jadi masalah yang harus kita hadapi secara nyata, keputusan pilpres > model sekarang inilah yang diberlakukan dan harus diikuti, ... kekuatan > rakyat belum cukup kuat untuk merubah lebih baik, kecuali berusaha keras > jangan pasangan capres yang terjelek berhasil berkuasa saja! > > ajeg 於 26/8/2018 21:02 寫道: > > Karena Anda begitu meyakini 37% lebih besar dari 63%, alias > > yakin 37% adalah suara mayoritas, maka saya yakin di antara kita > > pasti ada yang kurang sehat. > > > Hehe... > > > --- SADAR@... wrote: > > Apakah bung yakin dengan GOLPUT mencapai lebih 51%, misalnya, AKAL-SEHAT > itu bisa dicapai? > > Bukankah seandainya hendak mencapai PEMILU yang lebih SEHAT, yang > dinamakan kekuatan rakyat itu harus mengajukan dan memperjuangkan sekuat > tenaga ide/pemikiran mekanisasi dan ketentuan-ketentuan PEMILU yang > dianggap lebih ADIL, lebih SEHAT, lebih menjamin keluarkan pemimpin yg > berkualitas, ...! PERJUANGKAN itu, ... syukur bisa diterima dan itulah yang > dijalankan. > ajeg 於 25/8/2018 23:36 寫道: > > Memang, perlu pemikiran segar untuk paham apa itu akal sehat. > Jelasnya, Jokowi yang cuma mengumpulkan 37% suara dukungan > tapi diberi hak untuk berkuasa atas 100%. Di mana demokratisnya? > Di mana akal sehatnya? > > Itulah yang hendak dicapai dengan bergolput, mengembalikan dulu > akal sehat ke tempatnya. > > --- sadar@... wrote: > > Tapi bung Ajeg, ... dari tulisan yang Fw. kan saya baca ulang juga TIDAK > menjelaskan apa yang hendak dicapai dengan GOLPUT. Kalau yang bung > maksudkan, mencapai golput mayoritas, jangankan golput bisa mencapai 99%, > sampai sekarang ini juga BELUM pernah mencapai 51%! Tapi, sekalipun diambil > contoh ekstrim, golput bisa tercapai 99%, juga TIDAK MERUBAH hasil pemilu > yang dimenangkan segelintir orang itu saja. Lalu, apa yang bisa dicapai > deengan golput? Karena memang spt bung katakan pemilu kurangajar saja! > > Sedang untuk merubah/memperbaiki saya yakin juga TIDAK akan tercapai > dengan golput itu! Justru dengan makin banyak yg golput, keadaan akan terus > lebih memburuk, apalagi dengan berhasilnya capres terjelek/terjahat yang > berkuasa! Bukankah dengan demikian rakyat banyak jadi makin menderita > berkepanjangan, ... > > Salam, > > ChanCT > > ajeg 於 25/8/2018 15:25 寫道: > > Apa yang hendak dicapai dengan bergolput sudah saya tulis > > belasan tahun di berbagai milis termasuk di sini. Yang terbaru, > > belum Anda tanggapi, > > kontes idola > <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/232032> > (kembalikan akal sehat ke tempat yang benar) > > > Yahoo! Groups > <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/232032> > > --- SADAR@... wrote: > > Lho, ... bukankah dalam setiap langkah perjuangan HARUS memperhitungkan > setiap perubahan perkembangan yang terjadi untuk pertahankan prinsip TETAP > BISA MAJU lebih baik atau setidaknya mengurangi penderitaan rakyat banyak, > ... sekalipun sedikit saja! Jadi, tidak main seruduk dengan main > mutlak-mutlakan dan absulut-absolutan saja, yang dengan kata lain RADIKALIS! > > Disinilah perbedaan realistis dan radikalis, ... bisa tidak menemukan > taktik-perjuangan agar gerak kemajuan yang MASIH BISA dicapai sesuai > kondisi subjektif dan oebjektif yang dihadapi atau mengambil sikap apatis, > persetan dengan kedua capres-cawapres yang sama-sama jelek dan jahat itu, > dengan sikap GOLPUT membiarkan yang lebih jelek dan jahat itu berkuasa! > > Bahwa disekitar Jokowi masih tidak sedikit pejabat korup, pelanggar HAM > tentu TIDAK ada yang menyangkal, itulah kenyatan yang memang harus > dihadapi, ... dan harus terus diperbaiki dan diperjuangkan lebih baik > sesuai perkembangan kekuatan rakyat yang ada. Sebaliknya kalau dibiarkan > Prabowo yang berkuasa, apa keadaan bisa jadi lebih baik??? > Atau coba kalian kasih argumentasi yang meyakinkan apa yang hendak kalian > capai dengan GOLPUT itu??? Bisakah dengan alternatif lain mencapai tujuan > mengurangi penderitaan rakyat banyak? > > > Tatiana Lukman 於 25/8/2018 0:49 寫道: > > Ha...ha...emangnya baru tahu kalau si Chan itu orangnya sangat > oportunis!!! Saya dituduh mendukung Prabowo karena saya nyatakan kritik si > kader itu sesuai dengan kenyataan dan prakteknya Jokowi. Setelah ada berita > tentang si calon wakilnya Jokowi, langsung bilang, sekarang lain lagi > situasinya, harus dipertimbangkan pilih yang kurang jahat, dengan insinuasi > , pilih Prabowo. Eh, sekarang balik lagi ke Jokowi!! Kebingungan dia nggak > tahu yang mana yang kurang jahat!! Karena sebetulnya dua-duanya SAMA > JAHATNYA KEPADA RAKYAT!!! Soalnya si Chan itu ingin menunjukkan, apapun dan > bagaimanapun cara dan argumentasinya, > supaya orang tidak Golput! Sama seperti dalam soal Tiongkok, si Chan ingin > menegakkan benang basah!!! Ya mana bisa!!! > > On Friday, August 24, 2018 4:44 PM, Jonathan Goeij wrote: > > Sebenarnya lebih mengherankan lagi itu anda bung Chan, sudah tahu seperti > yg anda uraikan dibawah, juga sudah tahu peranan Ma'ruf Amin dalam membakar > massa dengan memberi label penista agama dalam fatwanya bahkan menjadi > penggerak berbagai aksi akbar itu, sudah tahu si Jokowi tidak becus dan > tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai negara melindungi rakyatnya > sendiri dengan berkedok "tidak akan membela" memerintahkan polisi secara > tidak langsung memroses tuduhan dakocan seperti itu, eh kok bisa2nya masih > menyuruh orang2 mendukung tanpa reserve kedua orang itu yang merupakan > Pontius Pilatus dan Imam Besar Kayafas dengan men-nakut2i mencegah yang > jahat berkuasa. > > > > > > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > <#m_-3865742705423108680_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > >
