Salah besar kalau menyangka perjuangan golput hanya untuk 
satu kali pemilu / pilpres. Golput itu bentuk perlawanan Rakyat 
secara konstitusional. Tanpa organisasi, tanpa penggalangan, 
tapi setiapkali pemilu bermunculan di berbagai tempat sekaligus. 
Spontanitas yang digerakkan kesamaan "nasib" yaitu, aspirasi 
yang tidak tertampung dalam pemilu. Itu kesamaan mendasarnya. 
Selebihnya, golput sama-sama memperjuangkan pemilu supaya 
betul-betul menjadi gerbang berdaulatnya Rakyat, bukan gerbangnya 
daulat neoliberalisme.
Menghadapi kekuatan neolib memang butuh ketabahan. Khususnya 
dari iming-iming materi. Semakin bertahan, godaan akan semakin 
mereka perbesar. Karena itu, untuk meruntuhkan kekuasaan oligarki 
tidak selesai hanya dengan bergolput di satu kali pemilu. Tidak cukup. 
Kalau mau yang sekali tepuk begitu pakailah cara yang inkonstitusional.Tetapi 
dari pengalaman 2 kali mengganti kekuasaan secara paksa
(1965 & 1998, ditambah kudeta 2001) bangsa ini belajar bahwa tanpa 
berdaulatnya Rakyat maka kekuatan-kekuatan neolib juga yang akhirnya 
bergiliran menduduki kekuasaan. Melalui pemilu, Rakyat hanya 
dijadikan alas kaki untuk mengantar para neolib itu duduk di sana. 
Syukurlah sejauh ini semakin banyak pemilih yang sadar diperalat 
jadi alas kaki penguasa. Akal sehatnya menang, dan mereka pun
bergolput menyuarakan kedaulatannya sebagai pemilik suara. 
Kemenangan akal sehat ini ditandai dengan terus bertambahnya 
jumlah golput dari pemilu ke pemilu, dan selalu lebih banyak dari 
suara "pemenang" pilkada. Apa sejelas ini masih tidak dilihat 
sebagai hasil perjuangan / perlawanan Rakyat?
--- SADAR@... wrote:
Yaaa, ... boleh dan bisa saja GOLPUT digunakan sebagai bentuk perjuangan. Yang 
jadi masalah apa kiranya yg bisa dicapai dengan GOLPUT itu? Bukankah keadaan 
menjadi lebih jelek kalau berakibat capres terjelek berhasil berkuasa? 

 Jonathan Goeij 於 1/9/2018 3:39 寫道:
Sebenarnya GOLPUT juga suatu bentuk perlawanan, menunjukkan ketidak setujuan 
atas calon2 yang ada sehingga tidak memilih. Sebaliknya, kalau hanya manut 
bongkokan terus hanya akan tidak diperhitungkan keberadaannya secara politik, 
suaranya tidak akan dianggap karena bagaimanapun toh manut terus. 
  
   On Thursday, August 30, 2018, 5:02:31 PM PDT, ChanCT wrote:
Lho, setiap warga diusia dewasa berhak ikut mencoblos, 17 tahun, tentu saja 
mempunyai pemikirannya sendiri untuk menentukan pilihannya! Dan dalam era 
demokrasi, sudah seharusnya tidak diintervensi apalagi ada sedikit pemaksaan 
untuk memilih salah satu capres, ... biarlah mereka gunakan hak nya untuk 
mencoblos sesuai pemikirannya. Dan sebaiknya tidak golput saja! Syukur, syukur 
bisa lebih banyak yang sepemikiran dengan saya, pilih pasangan Jokowi! Jangan 
biarkan yang terjelak berhasil berkuasa, ...!
 Inilah menurut saya bentuk PERLAWANAN yang masih bisa dilakukan sekarang ini! 
Agar keadaan bisa tetap maju sedikit lebih baik, dan tidak menjadi lebih jelek, 
... sedikit saja mengurangi penderitaan rakyat banyak dan tidak sebaliknya! 
Sedang GOLPUT tidak akan membawa perubahaan apa-apa, kecuali kemungkinan 
membiarkan yang terjelek berhasil berkuasa.


Jonathan Goeij 於 31/8/2018 3:28 寫道:
Sudah 20 tahun, sejak 3 tahun lalu sudah boleh nyoblos. 
  Argumen utama Chan adalah jangan sampai orang paling jahat jadi presiden 
padahal yang dimaksud ya coblos aja Jokowi-Ma'ruf, lha bagi generasi milenial 
yg usianya 30th kebawah sebenarnya siapakah yang paling jahat antara kedua 
pasangan
 
  --- lusi_d@... wrote :
 
  Si jabang bayi lahir ketika Harto kejungkel! Lah sekarang umur jabang
 bayi itu sudah berapa tahun? Belum juga dianggap dewasa dan
 masih dianggap normal kalau belum berlawan? 



  

Kirim email ke