Kaum tani banyumas menolak IMF-Worldbank, dan mengecam tindakan intimidatif 
aparat terhadap massa yang menyampaikan pendapat


Foto Dukungan AGRA Banyumas terhadap People’ Global Converence di bali, dan 
mununtut pemerintah menghentikan tindakan intimidatif aparaturnya
Banyumas, 12 Oktober 2018. Dalam 1 minggu terakhir di Provinsi Bali, GRM IMF-WB 
(Gerakan Rakyat Menentang IMF dan World Bank) menggelar forum tandingan dan 
aksi menentang IMF dan Bank Dunia. IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga keuangan 
dunia selama ini telah terbukti memiskinkan, menyengsarakan dan menjajah 
negeri-negeri melalui hutang dan investasi asing. Akan tetapi, Gerakan tersebut 
mengalami tindakan represif serta teror dan intimidasi yang dilakukan oleh 
aparat kepolisian dan berbagai aparat negara lainnya. Hal ini jelas merupakan 
bukti nyata bahwa rezim Jokowi-JK mengabdi pada IMF dan Bank Dunia.Ditengah 
situasi ini, kami dari AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria) Cabang Banyumas 
bersama dengan berbagai macam organisasi yang tergabung di FPR (Front 
Perjuangan Rakyat), telah menyatakan sikap kami secara tegas menolak pertemuan 
IMF dan Bank Dunia karena kedua lembaga tersebut jelas merupakan akar masalah 
di dunia, termasuk di Indonesia.​Berbagai program IMF dan Bank Dunia terbukti 
menjerat rakyat Indonesia dengan hutang. IMF dan Bank Dunia terbukti memuluskan 
skema perampasan tanah dengan bungkus pembanngunann infrastruktur. IMF dan Bank 
Dunia telah memaksakan program privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi sektor 
ekonomi Indonesia. Sehingga kini kekayaan alam kita dikuasai oleh 
pengusaha-pengusaha besar dunia.. Di Banyumas sendiri, investasi asing mulai 
muncul seperti dibangunnya PT.SAE, perusahaan panas bumi yang saat ini sedang 
berupaya merampas tanah dan mata air rakyat di kawasan lereng gunung Slamet.​​​
​Bank Dunia juga terus memfasilitasi perampasan tanah melalui skema sertifikasi 
tanah. Tak tanggung-tanggung, Bank Dunia memberikan pinjaman sebesar USD 200 
agar Jokowi-JK bisa menjalankan skema perampasan tanah secara halus ini. Di 
sisi lain, skema monopoli tanah terus dipertahankan pemerintah Jokowi-JK untuk 
memenuhi permintaan barang mentah bagi para pengusaha dunia. Sementara kaum 
tani dan rakyat lainnya harus hidup kesulitan di kawasan perkebunan dan 
kehutanan. Skema perdagangan ini juga merupakan resep yang diberikan oleh IMF 
dan Bank Dunia. Monopoli tanah untuk perkebunan sawit, kehutanan dan taman 
nasional terus dilanggengkan walaupun terbukti monopoli tanah ini 
menyengsarakan rakyat. Di pulau jawa sendiri, Perhutani menguasai 20% tanah 
yang tersedia. 2,4 juta ini dikuasai perhutani dan mayoritas diperuntukkan 
untuk tanaman industri (pinus,damar, jati dsb). Seluruhnya diperuntukkan bagi 
eksport, untuk memenuhi kebutuhan negara-negara kapitalis. Sementara di sisi 
lain, 70% kemiskinan di pulau jawa terletak di kawasan pinggiran hutan yang 
dikuasai Perhutani. Ditengah situasi ini, Jokowi-JK justru membuat program 
Perhutanan Sosial, sebuah skema untuk mempekerjakan kaum tani untuk kepentingan 
imperialis. Tidak ada niatan dari pemerintah untuk memberikan tanah ini kepada 
rakyat. Program ini juga sejatinya adalah resep IMF dan Bank Dunia bagi 
Indonesia. Dan jelas bagi kita bahwa resep ini memiskinkan rakyat, khususnya di 
Jawa.Selain itu, IMF dan Bank Dunia telah terbukti sebagai dalang pemangkasan 
subsidi-subsidi di Indonesia dengan alasan “penghematan anggaran”. Pemangkasan 
anggaran ini jelas makin menyengsarakan kehidupan kaum tani, khususnya tani 
miskin dan buruh tani. Penghasilan dari tani miskin yang rata-rata sebesar Rp 
500.000 hingga Rp 1.000.000 tentu akan kesulitan membayar berbagai kebutuhan 
kesehatan, listrik, gas, biaya sekolah anak, dan perawatan pertaniannya, sebab 
kini pemerintah terus memmangkas subsidi seluruh sektor tersebut.Misal dari 1 
keluarga ada 6 anggota keluarga yang terpaksa harus membayar BPJS kelas rendah, 
yaitu sebesar 25 ribu per orang. Total yang akan di bayar seorang petani di 
atas adalah 150 ribu/bulan. Belum untuk membeli LPG sebesar 25 ribu selama 2 
minggu sekali. Sehingga, selama 1 bulan, pengeluarannya sebesar 50 ribu/bulan. 
Biaya listrik rata-rata minimal membayar 50 ribu/bulan. Belum lagi biaya BBM 
untuk transportasi hilir mudik barang pertanian minimal mengeluarkan biaya 80 
ribu/bulan. Jadi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti itu saja sudah 
mengeluarkan 330 ribu per bulan. Jumlah tersebut belum termasuk biaya untuk 
makan 6 orang dan biaya pendidikan anak-anaknya. Jumlah tersebut juga belum 
biaya beli pupuk dan berbagai obat dan alat untuk pertanian yang saat ini terus 
dipotong subsidinya. Seluruh skema pemangkasan subsidi ini jelas menambah sulit 
kehidupan petani. Dan seluruh skema pemotongan subsidi ini adalah resep dari 
IMF dan Bank Dunia yang terus dipaksakan ke seluruh negeri.Kami menyampaikan 
kepada pemerintah yang berkuasa agar jangan lagi membuat rakyat semakin 
menderita. Jangan menjadi peliharaan IMF-Worldbank yang jelas-jelas menjajah 
negeri kita, melanggengkan skema monopoli tanah, melancarkan perampasan tanah, 
dan mempermudah jalan bagi investasi asing untuk menguasai negeri ini.Kepada 
rezim Jokowi-JK, jangan bungkam suara rakyat ketika ingin menyampaikan pendapat 
di muka umum. Jangan bungkam hak kita. Jika pemerintah masih saja melakukan 
tindakan-tindakan tersebut maka jangan salahkan rakyat, jika rakyat benci dan 
mengambil jalan keluar sendiri terhadap situasi pemerintah dan aparat yang ada 
di negeri ini. Maka dari itu kami kaum tani yang tergabung dalam ALIANSI 
GERAKAN REFORMA AGRARIA (AGRA) BANYUMAS menyampaikan dan menuntut :1. Cabut 
Surat Pemberitahuan Polda Bali No.B/8012/IX/YAN.2.12/2018/Dit Intelkam. Aturan 
yang memberangus demokrasi dan kebebasan rakyat.2. Hentikan seluruh bentuk 
intimidasi, provokasi dan berbagai upaya menggagalkan aktifitas rakyat dalam 
merespon Annual Meeting IMF-WB.3. Berikan jaminan kebebasan terhadap rakyat 
dalam berjuang dan menyatakan tuntutannya dalam berbagai bentuk.4. Laksanakan 
Reforma Agraria Sejati dan Industrialisasi Nasional.
Junk IMF!Junk World Bank!

Kirim email ke