Lagi-lagi masalah pokoknya adalah keberpihakan. Semua pandangan, pikiran,
pendapat, konsep bertolak dari kepada siapa kita berpihak: kepada rakyat
jelata, buruh dan tani, atau penjilat para penguasa, mendukung penghisapan dan
penindasan dari para penguasa. Chan sudah membelejeti dirinya sendiri sebagai
penjilat para penguasa revisionis-kapitalis Tkk. Dalam pergerakan rakyat,
serikat buruh kuning adalah SB yang dalam konflik antara majikan dan buruh,
selalu berpihak kepada majikan. Di Indonesia, kita semua kenal dengan SBnya
Suharto, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (nama buruh disingkirkan dan diganti
dengan pekerja) yang ketika itu merupakan satu-satunya SB di Indonesia. Itulah
yang kita sebut SB kuning. Di Tkk, hanya ada satu SB, yaitu yang resmi diakui
pemerintah. Karena watak kelas pemerintahan dan sistim ekonomipun sudah
berganti, sifat dan peran Serikat Buruh juga berubah, bukannya membela
kepentingan kaum buruh yang hak-hak demokratisnya sudah dihapus, tapi berpihak
kepada kaum majikan. Pernah saya postingkan wawancara dengan pejabat komunis
yang menjawab pertanyaan mengapa SB selalu berpihak kepada majikan; jawabnya
karena jumlah kaum kapitalis sedikit maka perlu dibela, sedangkan buruh
jumlahnya banyak sekali. Aktivis yang membela kaum buruh, bahkan yang juga
anggota PKT, bukannya didukung tapi malah ditangkap. Beberapa tahun yang lalu
pernah saya postingkan kasus seperti ini yang sempat menggoncangkan Tkk.
Aktivis buruh yang istrinya kemudian sakit dan meninggal, tidak dibolehkan
menjenguk dan menghadiri pemakamannya.
Buat orang yang mengerti arti SB kuning, pasti akan mengkategorisasi SB Tkk
yang resmi adalah SB kuning, karena tidak berpihak kepada buruhnya. Apakah
tidak logis kalau sekarang semakin kuat tuntutan untuk membangun SB
independen?? Seperti juga dulu ketika di Indonesia hanya ada SPSI??? Karena
Chan berpihak kepada yang berkuasa, sudah tentu SB atau organisasi yang melawan
penguasa baik di Hongkong ataupun di Tkk daratan, otomatis dia lihat sebagai SB
kuning dan organisasi yang didukung kekuatan asing atau imperialis. ATKI dan
Eni Lestari juga pernah dia tuduh sebagai antek imperialis Inggris!!! Pendeknya
semua organisasi atau gerakan yang melawan statusquo atau tatanan yang sudah
mapan, bagi Chan remo, semuanya kuning dan antek asing!!! Nggak
tanggung-tanggung tuduhannya!!
Nah, sekarang buruh Tkk semakin sadar dan menuntut SB independen yang
sungguh-sungguh membela kepentingannya. Tidak heran reaksi Chan revisionis, pro
penguasa!! Semua buruh itu antek asing, semua siswa yang bersimpati dan
berdampingan dengan buruh, Maois gadungan!! Ha...ha.. Ya logislah semua
penilaian itu datang dari seorang revisionis sejati. Kaisar Xi jin ping itu
apa??? Dia mendukung penghisapan dan mempraktekkan imperialisme, komunis
sejati atau gadungan???
On Saturday, November 24, 2018, 4:52:44 AM GMT+1, ajeg
<[email protected]> wrote:
Kalau begitu bagaimana dengan di Indonesia,
apa juga ada yang gadungan?
Maksudnya, Soekarnois gadungan?
--- SADAR@... wrote:
Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung BENAR-BENAR sudah kehilangan nalar
sehat! TIDAK lagi bisa membedakan mana gerakan BURUH yang betul-betul mewakili
RAKYAT dan mana yang ditunggangi sementara kekuatan, atau dulu biasa disebut
BURUH-KUNING yang hakekatnya justru membela kepentingan KAPITALIS!TERBALIK,
...! Sadar atau tidak bahwa aksi-aksi yg menamakan diri Maois (saya yakin Maois
GADUNGAN!) dan gunakan gerakan buruh Jia-Shi (Jasic Technology) kali ini,
ternyata dibelakang mereka Kekuatan buruh-KUNING di HK??? ADALAH "MAOIS" yang
didukung Partai DEMOKRAT di HK yg jelas dibentuk dan jadi begundal koloni
Inggris itu! Dan oleh karenanya, beberapa tokoh JiaShi yang dicekal/ditangkap
jelas sudah ada hubungan erat dengan buruh-Kuning HK itu! Begitulah dengan
getolnya buruh-Kuning HK itu tampil dengan aksi-aksi di HK menuntut mereka
dibebaskan!
Yang ditengah (ke-4 dari kiri) itu Ketua BURUH KUNING-HK! Antek imperialisme
AS-Inggris yg bertugas menjegal Pemerintah HK sekarang ini, ...
Dahulu dimasa Mao, ratusan ribu kader/anggota beda pendapat dijebloskan dalam
kamp konsentrasi kerja, untuk cuci-otak merubah pendapat yang dituduh kanan,
penempuh jalan kapitalis, ... sekarang kamp konsentrasi kerja itu sudah di
BUBARKAN karena dianggap TIDAK MANUSIAWI, dan kenyataan sudah membuat begitu
banyak orang MENDERITA bahkan MATI dengan ngenes! Banyak diantara kader-kader
yg dijebloskan dalam kamp konsentrasi kerja itu hanya karena "keturunan", entah
anak tokoh/jenderal KMT, tuantanah, kapitalis, ... bahkan hanya untuk memenuhi
JATAH saja! Ingat, nyaris semua kader yg dijebloskan dalam kamp konsentrasi
kerja itu TIDAK melalui proses HUKUM yang ADIL dan Sah! Dan, ... TIDAK
sedikitpun diberi kesempatan untuk membela diri, orang diperlakukan
bertahun-tahun bahkan puluhan tahun TANPA KEADILAN dan sikap manusiawi!
Apa yang dibilang Da Ming, Da Fang, Da ZiBao dan Da Bian Lun TANPA KENDALI yang
terjadi dimasa RBKP, tidak lain demokrasi kebablasan yg TIDAK BEDA dengan
populisasi seperti sekarang ini yang sedang dikobarkan AS juga! Mengambil
bentuk-bentuk Revolusi-warna, Revolusi-Payung di HK ... Atas nama rakyat
menggempur rakyat dan kerusakan dan kerugian bahkan mencelakakan rakyat banyak
sendiri! KEBENARAN lahir dari PRAKTEK PERJUANGAN! Demokrasi dan KEBEBASAN harus
TETAP dijalankan dalam batas-batas ketentuan HUKUM, tidak diumbar secara
kebablasan menjadi liberalisme yang merusak dan sangat MENCELAKAKAN seperti yg
terjadi dimasa RBKP begitu! Beruntung PKT ditahun 1978 telah BERHASIL membuat
KESIMPULAN dengan tandas menyatakan kesalahan-kesalahan yang terjadi dimasa
RBKP, ...! Bagi RAKYAT Tiongkok sudah dianggap selesai, ...!
Dan juga dengan DEMOKRASI yang dijalankan sekarang ini, dirasakan jauh, jauh
lebih DEMOKRASI ketimbang masa Mao! Setiap warga diperkenankan bicara, berpikir
dan berpendapat, ... selama dia TIDAK lakukan tindak provokasi apalagi
berhubungan dengan ASING! Berapa banyak aksi-aksi buruh, tani juga tetap saja
berjalan dan terjadi di Tiongkok. TIDAK ada larangan, dan boleh-boleh saja
ajukan pendapat dengan aksi-aksi, ... tapi, jangan sampai merusak dan
mencelakakan sekelompok orang lain! Ketertiban dan kemanan tentu MUTLAK HARUS
dijaga, jangan sampai aksi-aksi itu DITUNGGANGI ASING untuk merusak ketertiban
dan keamanan masyarakat!
Itu saja masalahnya, ...!
Tatiana Lukman 於 23/11/2018 5:40 寫道:Kalau orang tak menerima dibilang remo,
harusnya dia buktikan kesetiaannya pada ajaran guru-guru besar Marxisme. Bahkan
Bung Karno menganjurkan Marxisme sebagai pisau untuk menganalisa
masalah-masalah sosial. Misalnya bicara tentang demokrasi, tidak bisa kita
lepaskan dari sistim ekonomi, sosial dan politik yang berdominasi dalam
masyarakat. Dipandang dari segi kelas, hanya ada demokrasi rakyat/proletar dan
demokrasi borjuis. Si Chan remo menganggap demokrasi di Tkk kapitalis lebih
besar dari pada demokrasi pada jaman sosialis Mao. Orang yang tahu sedikit
Marxisme sudah tentu akan tertawa terbahak-bahak mendengar igauan di tengah
hari bolong! Ya betul. Deng telah memberi demokrasi/kebebasan kepada
segelintir minoritas untuk menjadi kaya raya melalui penghisapan, bebas untuk
menangkap mereka yang dianggap membahayakan sistimnya, bahkan memberi kebebasan
kepada aparat polisinya untuk menganiaya bahkan membunuh orang yang dianggap
berbahaya bagi sistim. Sedangkan hak-hak demokratis kaum buruh dan kaum tani
dihapus. Jaman Mao buruh punya hak untuk mogok. Jelas hak itu dihapus dalam
reform kapitalisnya Deng. Jaman Mao rakyat pekerja punya si da (4 besar), Da
Ming (Bebas Bicara), Da Fang (Bebas Mengajukan Pendapat) , Da Zi Bao (Bebas
Menulis Poster Berhuruf Besar), Da Bian Lun (Bebas Mengadakan
diskusi/perdebatan).. Itu adalah kenyataan! Dan ingat juga kata-kata Mao,
setiap tindakan, setiap pikiran, ide, dll punya stempel kelas orang yang
melakukannya. Sebenarnya perlawanan buruh dan tani Tkk sudah lama berjalan.
Hanya tidak semuanya mendapat pemberitaan sampai keluar Tkk. Sudah tentu mereka
yang berpihak kepada para penguasa, melemparkan tuduhan macam-macam kepada
mereka yang berlawan. Yang paling mudah adalah dengan menuduhnya seolah-olah
semua itu karena hasutan dari luar... Jelas, kalau tidak mengakui bahwa
penghisapan di Tkk itu begitu brutal, pastilah tidak akan mengerti dan mengakui
adanya perlawanan yang semakin besar dari rakyat pekerja...Sederhana saja
masalahnya...Kepada siapa anda berpihak?? Kepada rakyat pekerja atau menjilat
pantat penguasa!! By Jenny Chan
Last month students and recent graduates from more than a dozen mainland
Chinese universities turned out to provide solidarity support for workers of
Jasic Technology.
The activists included students from Peking University, Tsinghua University,
Nanjing University, and Sun Yat-sen University. They wore T-shirts with the
slogan “unity is power” printed in bold red.
Nanjing University students supporting Jasic Technology workers. Photo: RFA..
They produced videos of speeches and peaceful demonstrations in front of the
Jasic factory in the Pingshan District of Shenzhen City, a key node of
globalized production in South China. They tweeted open letters and blogs and
photos via social media.
In response, the management of Jasic, a private company listed on the Shenzhen
stock exchange, retaliated against workers who have been trying to establish a
democratic trade union since May, and refused immediate reinstatement of
dismissed workers, triggering waves of protests and campaigns.
At the time of writing, 14 workers were still being detained by local
authorities, and last week police raided a guesthouse where about 50 student
supporters had been staying, crushing the worker-student coalition.
The conflicts between workers and management over punitive fines, wage
deductions, and non-payment of social security benefits at Jasic are not an
isolated case. Facing infringement of rights and harsh treatment, aggrieved
workers have resisted in numerous individual and collective forms.
In 1982 China removed the right to strike from its constitution and the only
official union organization is the All-China Federation of Trade Unions, an
integral part of the government. With no leadership from the union, workers in
places like Jasic have taken independent actions to defend their legal rights
and interests.
Jasic Technologyworkers protesting outside a Shenzhen police office. Photo:
Screenshot.
Government statistics indicate that, in 1996, 48,121 labour disputes (including
individual and collective cases) were accepted for arbitration, involving
189,120 people nationwide. The incidence of arbitrated labour disputes, along
with mounting protests, has been growing rapidly.
In the global economic crisis of 2008, when millions of workers were laid off,
the number of cases skyrocketed to 693,465 – nearly double that of the previous
year – involving more than 1.2 million workers across the country.
Following a brief decline, labour dispute cases have shot up annually, reaching
an unprecedented 813,859 cases in 2015, according to the China Labour
Statistical Yearbook.
In addition to filing cases through dispute resolution mechanisms, workers have
sought to strengthen their associational power to better protect themselves.
Jasic workers had submitted their written intent to form a union in accordance
with China’s Trade Union Law. They had prepared to engage in dialogue with
management.
On August 1, under mounting pressure, Jasic executives quickly set up a union
preparatory committee. From 2005 when the company was founded, Jasic, like many
other companies, had refused to recognize workers’ fundamental rights to
unionize.
On August 20, Jasic called the first meeting to “elect” nine union committee
members. How were the elections run? Who were the union chair and committee
members? Apparently the Jasic management has taken over organizing at the
workplace level.
For nearly two months now, a core group of university students, along with tens
of thousands of fellow students from all over the country, have been supporting
Jasic workers in their struggles.
This young cohort was born in the 1990s and early 2000s, when China accelerated
its opening to the world and privatized its industries to enhance “flexibility”
of work and employment in the market.
In and through self-organized study groups, internships, and waged work, the
student activists understand the need for more progressive legal reforms and a
fairer share of economic gains for those who produce them.
The effective use of digital media to present a united worker-student voice,
despite removal and blockage of the content by Chinese authorities, has drawn
attention from academics and the wider public at home and abroad.
Hong Kong protesters supporting Jasic Technology workers. Photo: inmediahk.net
In recent years, a young generation of migrant factory workers at Foxconn
(Shenzhen), Honda (Foshan), and Yue Yuen (Dongguan) have staged numerous
strikes and protests in a bid to democratize their respective company unions.
The workers’ demand for higher wages and better benefits are among the top
priorities. As capital moves from coastal Guangdong to interior provinces to
tap into cheaper labour and more abundant land, conflicts over unpaid wages and
arbitrary dismissals may well increase.
University students share concerns about fair labour in an age of contracting
and temporary work. The battle for social and economic justice from the bottom
up at Jasic and other workplaces has written a new page in contemporary Chinese
society.
Jenny Chan is an Assistant Professor in the Department of Applied Social
Sciences, The Hong Kong Polytechnic University 深圳佳士科技工人筹建工会被抓被打,到派出所抗议
Mereka memprotes penganiayaan yang dilakukan aparat kepolisian kepada
rekan-rekan buruh mereka. Liu Penghua, dipukul dan ditembak. Mi Jiuping diseret
oleh 4-5 penjaga keamanan dan dilempar keluar pabrik. Buruh bersiap untuk
membentuk serikat buruhnya sendiri, tapi mereka menemukan penindasan dari
aparat polisi, pemecatan dari perusahaan. Bukan penjahat yang ditangkap polisi,
melainkan wakil-wakil buruh dan buruh yang mundukung mereka.
(Boxun comprehensive report) Shenzhen Jiashi Technology employees, because the
establishment of trade unions by the factory to retaliate, threatening
intimidation. An open letter from the workers revealed that Liu Penghua, who
was working normally in the factory, was beaten by two unidentified outsiders
and fired on the grounds of fighting. Mi Jiuping, on the 18th of this month,
was directly dragged by 4 or 5 security guards and thrown out of the factory
on the grounds of disobeying arrangements. On the 20th, they went to work
normally, and were pushed by more than a dozen security guards. Outside of the
factory, one colleague was directly knocked down by the security guard.
Afterwards, resting at the factory gate, but was asked to be taken away by a
group of police officers. When they said that the factory was illegal and said
that this was a labor dispute, the police started, three or four to deal with
one, and the workers were knocked down by them. They were dragged into the
Yanziling police station and the workers were beaten and hurt to varying
degrees.
Online comment: Workers prepare to form a trade union, and they are
transferred, beaten and fired by the company. The police do not arrest the
criminals, but they arrest the workers' representatives, and then arrest the
workers who support the workers. The right of the workers to voluntarily
organize and join the trade unions in the trade union law has become a piece of
paper. The reality is that the unions are not established, or the "boss unions"
have been established with the acquiescence and help of the local federations.
On the morning of the 20th, six workers were taken to the police station. More
than 20 workers who went to support at noon were also arrested. After 24 hours,
they were released and some of them were injured. On the 22nd, dozens of
workers went to the police station to ask for their arguments. They shouted and
severely punished the murderers. The protests continued until the evening of
the 22nd, after the situation, please pay attention to all.Ada beberapa reaksi
orang setelah nonton video diatas.Di bawah ini orang yang menceritakan
pengalamannya sebagai pekerja di Shenzhen yang tidak memiliki ijin tinggal.
Yang menarik, dia menyebut Partai Komunis sebagai bandit!! Ha...ha... Tidak
salah!!! Kemudian, dia bilang, sejarah perkembangan Tkk, perkembangan Shenzhen,
perkembangan ijin tinggal sementara adalah air mata dan darah rakyat Hubei dan
Tkk..Partai Komunis, Xi jinping melumurkan darah dan air mata rakyat Tkk ke
seluruh dunia, alih-alih membayar hutangnya kepada rakyat. Perkembangn
Tiongkok ditukar (dibayar) dengan air mata dan darah rakyat Tkk, dengan
pengorbanan lingkungan... Vaksin, Air, makanan yang beracun, sistim orang makan
orang, sekali lagi membuat Tiongkok menjadi orang yang sakit di Tkk
Timur...Sejak jaman dulu, tirani akan mati!!!When we first went to Shenzhen, we
went to work in the factory in 2002. We did not apply for a residence permit.
The government increased income in order to generate income, and arrested
people everywhere. If you live in your own country, you must temporarily live
with a permit. Even if you are traveling, you can take care of it and take it
to Changping to work hard. One night, I was found, but I met a good person in
the security team. He saw my label. At that time, I was 22 years old and I was
very scared. The members of the security team saw my work permit and wrote:
Assistant engineer, he let me go. Perhaps not all Chinese political corrupt
people are bad people, but the Communist Party is definitely a bandit. I still
remember that the newspaper at the time reported that a girl from Hubei went to
work in Zhuhai. She was arrested at the Guangzhou Railway Station and was
arrested and raped. At the same time, a young man from Huazhong University of
Science and Technology, borrowed from a Hubei province in Shenzhen, was killed
by a security officer because of a temporary residence permit. Later, he was
alarmed by the central government and cancelled the temporary residence permit.
The history of China's development, the history of Shenzhen's development, and
the history of Shenzhen's temporary residence permit are the bloody tears of
the bloody Hubei people and the bloody tears of the bloody Chinese. However,
the Communist Party, Xi Jinping put the Chinese people's blood and tears all
over the world, instead of paying debts and the people. The development of
China has been exchanged for the blood and tears of the Chinese people. It has
been exchanged for the sacrifice of the environment, and it has never been
exchanged by the leadership of the Communist Party. The toxic vaccine, the
poisonous water, the poisonous food, the system of people eating people, the
side control of the public security, once again let the Chinese become sick
people in East Asia! If you don’t say a word well, you can’t control the
country. Since ancient times, tyranny will die! Ada lagi yang menulis "Rakyat
sedang bangkit"
The people are awakening
Aneh kok Partai komunis menindas Serikat Buruh. Saya tidak tahu siapa
detasemen terdepan dari kaum proeltariat? It is interesting for the Communist
Party to suppress the union. I don't know who is the proletarian vanguard?
Mengapa dilecehkan oleh orang asing merupakan sesuautu yang memalukan, apakah
dilecehkan oleh bangsa sendiri (maksudnya Tkk) bukan sesuautu yang memalukan?
Adakah bedanya dipukuli oleh Jepang? Why is it a shame to be bullied by
foreigners, is it not a shame to be bullied by the Chinese? Is it different
from being beaten by the Japanese?
Jangan adu argumentasi dengan bandit, jaga dan lindungi dirimu sendiri.
jangan pukul batu dengan 10 ribu telur. Kalau anda rasa tidak bisa lagi
menahan, bangun partai di bawah tanah! Don't argue with the bandits. protect
yourself. Don't touch a stone with 10,000 eggs. If you feel that you can't
stand it, develop an underground party.
Rakyat akan bebas dan hidup dengan baik hanya dengan menggulingkan Partai
Komunis, menggulingkan sistim otokrasi yang otoriter... Tak ada gunanya bicaraa
tentang kebenaran dengan bandit! Only by overthrowing the Communist Party,
completely overthrowing the system of authoritarian autocracy, establishing a
democratic and free system, and having a classless society, the people have
the freedom to have a good life. It is useless to preach the truth with the
bandits.