Anda betul. Kemampuan penguasa Indonesia sekarang memang sangat jauh dari 
kemungkinan membawa masyarakat 
ke arah adil-makmur. Tapi, terpilihnya si penguasa sekarang 
bukan karena rendahnya tingkat kesadaran Rakyat, melainkan 
karena kemasabodohan pendukungnya. KPU menyatakan 
perolehan suara Jokowi hanya 37%. Ini justru membuktikan 
lebih banyak Rakyat yang sadar dibanding pendukungnya 
yang cuma 37% itu. Pendukung yang tidak tahu bahwa 37% 
bukanlah dukungan mayoritas. Bahkan masih jauh dari 
separuh (50%). Jadi, ya wajar kalau penguasa sekarang 
tidak bisa menjinakkan para kapitalis, lebih-lebih melawan 
kapitalisme yang mengguyurnya dengan bantuan utang.

Soal imperialisme RRC di LCS bisa tolong dijelaskan, kenapa 
Anda menganggap RRC bersikap bijaksana dengan bersengketa? Bukankah 
kebijaksanaan bersengketa dengan para tetengga itu 
justru mengundang campurtangan pihak lain?
--- SADAR@... wrote:
Nah, ... kalau sudah ada kesamaan pendapat, masalahnya bisa tidak pemerintah 
yang berkuasa mengendalikan dan menjinakkan kapitalis-kapitalis. Lebih lanjut 
masalahnya bagaimana yang berkuasa itu betul-betul merupakan kekuatan RAKYAT! 
  
Saya melihatnya disini, sangat tergantung dari tingkat kesadaran rakyat dan 
dalam perjuangannya lahir pemimpin yang jempolan, berkemampuan membawa rakyat 
nya membangun masyarakat adil dan makmur, ... bagi Indonesia nampaknya masih 
jauh. 
 
 
Sedang RRT yang saya lihat menempuh jalan Sosialisme Berkepribadian Tiongkok, 
dan sekarang menggencarkan jalan Sutera, OBOR didunia dengan prinsip saling 
menguntungkan, maju bersama, untung bersama dan menang bersama, ... tentunya 
merupakan jalan lain yg berlawanan dengan jalan imperialisme AS yg selama ini  
menguasai dan mengangkangi dunia. Pertarungan RRT-AS masih berlangsung sengit, 
entah bagaimana kelanjutannya, siapa bisa menangkan pertarungan ini.
 LCS tidak membuktikan jiwa imperialisme RRT utk kuasai dunia. TIDAK! Jelas 
pengakuan LCS, dengan perjanjian perairan laut 9 garis-putus tahun 1946 sesaat 
setelah PD-II itu, yg tetap dipegang RRT bahkan juga KMT-Taiwan! Itulah 
kekuasaan wilayah perairan Tiongkok yang harus dipertahankan, bukan menguasai 
atau hendak mengangkangi LCS! Sikap bijaksana RRT, sengketa yg terjadi dengan 
negara-negara bersangkutan, biarlah diselesaikan sendiri tanpa harus campur 
tangan AS! Menjadi gaduh,dan tegang hubungan kenegaraan hanya karena 
diobok-obok AS saja! Seolah-olah ancaman keamanan terjadi oleh RRT, sebaliknya 
AS yang akan  jadi pelindung mereka! Belilah senjata "MODERN" dari AS dan 
latihan militer bersama, ...!
ajeg 於 29/11/2018 21:22 寫道:
 Bisa. Penguasa bisa menertibkan para kapitalis. Harus 
  bisa. Karena memang itu tujuan dibentuknya pemerintahan 
  sejak memudarnya feodalisme di jaman kolonial, yaitu 
  untuk mengendalikan kaum kapitalis yang pada masa itu 
  terdiri dari para bangsawan yang ikut terbebas dari belenggu 
  raja/istana oleh gerakan anti-monarkhi. 
  
  Itu jawaban untuk pertanyaan bisa-tidaknya penguasa 
  menertibkan para kapitalis (subyek). Tetapi, kalau ditanya 
  bisakah penguasa / pemerintah mengendalikan kapitalisme 
  (obyek), maka jawabannya tergantung pada sang penguasa 
  dan konstitusi di negara bersangkutan, karena pada dasarnya 
  tugas pemerintah adalah mengelola kapital negara. Ada 
  pemerintahan yang sepakterjangnya seolah ia adalah negara 
  (pemilik kapital) dan ada juga negara yang menugaskan 
  pemerintahnya mengelola kapital negara untuk sebesar-besarnya 
  kemakmuran Rakyat - dengan para kapitalis di dalamnya 
  sebagai aset negara juga. 
  
  Kekuasaan jenis pertama jelas mustahil mengendalikan 
  kapitalisme. Sebab, pemerintahan jenis ini justru menjalankan 
  negara dengan prinsip-prinsip kapitalisme dalam tahapan 
  pembangunannya - sekalipun sang penguasa  bukan seorang 
  kapitalis / pengusaha. 
  
  Nah, karena tahapan tertinggi dari kapitalisme adalah imperialisme 
  maka suatu masyarakat harus betul-betul mengawasi peran 
  dan kerja pemerintahnya hanya sebagai pengelola kapital negara. 
  Jangan sampai pemerintah menyangka dirinya adalah negara 
  (pemilik kapital) lantas menempatkan manusia lebih rendah 
  dari modal! 
  Jadi, dibungkus dengan ciri apa pun, sepakterjang RRC sekarang 
  kelihatannya ada di tahap ini, sebagai negara imperialis berkembang. 
  Kalau tidak, buat apa dia repot-repot bikin persoalan dengan para 
  tetangga di LCS. Ya kan?   
   --- SADAR@... wrote:
Pertanyaannya, bisa tidak PENGUASA  menertibkan dan 
mengendalikankapitalis-kapitalis itu TIDAK mengumbar KESERAKAHAN dan 
KEKEJAMANnya itu???  Memberikan ketentuan-ketentuan yang harus  dipatuhi dalam 
persaingan di  pasar yang terjadi, TIDAK SALING  mematikan, tapi bisa maju 
bersama, untung bersama dan menang  bersama, ... dan nampaknya inilah yang 
sedang dijalankan dan  diperjuangkan oleh pemerintah  RRT, baik didalam negeri  
maupun usaha menjalankan "Jalan Sutera"  atau "OBOR" didunia! Juga dengan 
prinsip "MAJU BERSAMA, UNTUNG BERSAMA  dan MENANG BERSAMA!"   
  Ketidak seimbangan yang terjadi dalam perdagangan, sudah seharusnya bisa 
diselesaikan dalam meja perundingan! Saling mengalah dan beri konsesi untuk 
meneruskan maju bersama dan untung bersama, ... tidak secara sepihak mau menang 
 sendiri dengan mempertahankan kepentingan dan keuntungan sendiri saja! Seperti 
perang-dagang yang dilancarkan Trump, akhirnya kedua belah pihak bahkan 
berdampak negatif bagi ekonomi dunia, banyak negara dirugikan, ... Lalu,  siapa 
yang menang kalau diteruskan berkepanjangan??? Saya setuju sementara ulasan 
menyatakan, sejak awal mula dilancarkan perang-dagang ini, justru AS sudah 
berada dalam posisi yang lebih dirugikan! Rakyat AS sendiri yang kena getah 
dengan kenaikan pajak import yang membuat barang-barang Made-China jadi lebih 
MAHAAL! Begitu juga petani kedele AS sendiri tergempur dengan perang-dagang 
begitu dimulai, Dan, ... tujuan Trump menarik kembali pabrik-pabrik untuk 
berproduksi didalam negeri, KENYATAAN juga TIDAK TERCAPAI! GM sudah menyatakan 
akan meneruskan produksi  mobilnya di Tiongkok! Sebaliknya pabrik GM di AS 
sendiri akan menutup beberapa pabrik dan mem PHK lebih 18 ribu buruhnya! Nah, 
... lu! Inilah KENYATAAN yang terjadi! 
  Jadi, berbeda dengan yang dijalankan negara kapitalis maju atau imperialisme, 
yang selama ini menjadikan negara-negara sedang berkembang didunia sebagai 
koloni atau neo-koloni nya, sumber penghisapan untuk perkaya diri sendiri  dan 
tanpa peduli penderitaan kemiskinan rakyat banyak! Itulah KENYATAAN ratusan 
tahun terakhir ini yang TERJADI DIDUNIA! Begitu yang terjadi di Afrika, begitu 
juga yang terjadi di Asia, termasuk Indonesia!  
  Sekarang hadir dan muncul didunia ini kekuatan baru, kekuatan RAKYAT Tiongkok 
yg berhasil menempuh dengan jalan Sosialisme Berkepribadian Tiongkok, dengan 
prinsip "Maju bersama, Untung bersama dan menang bersama!", kemajuan  kehidupan 
rakyat dibeberapa negara Afrika yg puluhan tahun terakhir ini menerima BANTUAN 
RRT menjadi kenyataan. Dan itulah sebab sejak belasan tahun terakhir ini 
pengaruh kekuatan AS terdesak dan, ... diteriakkanlah jebakan  HUTANG RRT yg 
akan menjadikan negara-negara itu koloni Tiongkok, tidak mampu bayar hutang. 
Begitu juga kemudian di Asia, yang 10 tahun terakhir ini pengaruh AS terdesak 
dengan kemajuan RRT. Kembali diobok-obok AS, dibikin  keruh dan tegang, ... 
memutar-balikkan kenyataan yang terjadi sesungguhnya untuk menghujat dan 
menghitamkan BANTUAN RRT, ... 
  Mencari KEBENARAN dari KENYATAAN, ... perjalanan 40 tahun PKT membawa maju 
1,3 milyar rakyat Tiongkok adalah KENYATAAN yang tidak terbantahkan! Kemajuan 
yang dicapai dan kemakmuran masyarakat yang NYATA terjadi  adalah BUKTI 
KEBENARAN! Sedang KEADILAN yg lebih baik masih terus diperjuangkan dan telah 
menjadi TITIK berat tugas PKT, mengentaskan lebih 30 juta kemiskinan yg tersisa 
dan targetnya selesai ditahun 2020 nanti. Hampir 1,4 milyar RAKYAT yang hidup 
didunia ini lolos dan bebas dari kemiskinan! Inilah sumbangan besar jalan 
Sosialisme Berkepribadian Tiongkok pada umat manusia didunia! Adalah KENYATAAN 
yang tak terbantahkan, ...
  
  ajeg 於 29/11/2018 0:55 寫道: 
  Kejamnya si raja tega. 
  --- djiekh@... wrote: 
  Hopeng ciak kuping.........
  Telinganya dimakan teman baiknya.......
  Serakah..... 
  Pada tanggal Rab, 28 Nov 2018 pukul 05.37 ajeg menulis:
Resiko sudah merupakan konsekuensi dari berusaha. Itu sebabnya pengusaha / 
kapitalis akan berusaha
  habis-habisan untuk lolos dari resiko dan memenangkan 
  konsekuensi. Kapitalis kecil berusaha jadi kapitalis besar,
  kapitalis besar berusaha jadi monopoli dst.
  
  Jangankan makan teman, makan saudara sendiri pun 
  sering terjadi dalam "rantai makanan" di dunia usaha ini. 
 --- SADAR@... wrote:
Bung Sunny, ... untuk menjadi kapitalis berhasil disamping harus ada MODAL, 
duit yg cukup, juga mutlak harus ada jiwa usaha, keahlian entrepreneur! Sedang 
kedua unsur itu TIDAK ada pada diri saya! Apalagi terjun dibidang usaha  itu 
seringkali harus menerjang resiko, ... bagi orang model saya yg memang tidak 
berjiwa dagang, apalagi sudah lansia lebih dbaik tidak menerjang resiko! 
Biarlah hidup biasa-biasa dengan segala kesederhanaan saja, cukup untuk  makan 
3X/hari saja, ... TIDAK perlu berambisa hidup bermewah-mewah! Yang lebih 
PENTING hidup sehat-sehat saja, ... sampai ajal tiba!   
    Sunny ambon 於 28/11/2018 7:57 寫道:
Setiap menit yang dimiliki adalah waktu untuk menjadi kaya atau lebih manis  
istilahnya "kapitalis", jadi tidak terlambat. Jadi jangan anggap enteng 
kemampuan Bung Chan.hehehehehe
 

Kirim email ke