Ada baiknya kita kutip pidato Bung Karno  Lahirnya Pancasila sebagai acuan.

KUTIPAN:

"Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang
verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah
menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang
kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari
pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuanan yang berbudi
pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.
Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara
Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Disinilah, dalam pangkuan azas yang kelima inilah, saudara- saudara,
segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang
sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!"

Dari kutipan pidato Bung Karno tersebut sudah jelas dan gambelang bagaimana
seharusnya kita bersikap dan bertindak.


Salam,


AA




Pada tanggal Sel, 25 Des 2018 pukul 04.22 Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> Untuk melakukan prediksi para analis akan melihat historical data, selama
> ini sekian puluh tahun Ma'ruf Amin baik sebagai Ketua MUI maupun Rais Aam
> PBNU tidak pernah secara publik mengucapkan selamat natal, bahkan melarang.
> Sekarang ada ucapan natal, sebenarnya data yg merupakan perkecualian alias
> distorsi karena kampanye jadi cawapres, seharusnya distorsi seperti ini
> diabaikan.
>
> Lucunya banyak sekali orang2 naive yg menelan begitu saja. Konyol banget.
>
>
> On Monday, December 24, 2018, 3:58:04 PM PST, ChanCT <[email protected]>
> wrote:
>
>
> Masalahnya, ... "orang akan melihat sejauhmana kita konsisten dengan semua
> itu." Setiap orang boleh-boleh saja BERUBAAAH pemikiran dan sikap, dahulu
> melarang sekarang justru ucapkan SELAMAT NATAL! Yang penting, harus jernih
> dahulu itu tercetus dari pemikiran SALAAAH dan sekarang inilah pemikiran
> yang BENAAAR! Bisa memberi TOLERANSI, menerima dan menghormati perbedaan
> yang nyata ada, ... termasuk perbedaan AGAMA!
>
> Jadi, perubahan pemikiran dan sikap demikian bukan semata untuk kampanye
> pilpres saja, ... dan, juga tentunya itu tidak perlu buru-buru
> beraprasangka, marilah kita saksikan bersama bagaimana kemudian Maruf Amin
> melewati sisa hidupnya, selama 5 tahun berikut, khususnya kalau berhasil
> menjabat wapres bersama Jokowi!
>
>
>
> [email protected] [GELORA45] 於 24/12/2018 23:57 寫道:
>
>
>
>
>
> Baru! Kiai Ma’ruf Ucapkan ‘Selamat Natal’, Kiai Nur: Risiko Merebut
> Jabatan Politik
> <https://duta.co/baru-kiai-maruf-ucapkan-selamat-natal-kiai-nur-risiko-merebut-jabatan-politik/>
> 24 Desember 2018
>
>
> SURABAYA | duta.co – Calon Wakil Presiden pasangan Joko Widodo, KH Ma’ruf
> Amin mengucapkan selamat natal melalui video pendek. Tidak ada yang salah,
> sesungguhnya, tetapi bagi warganet yang muslim, ini baru (mendengar)
> pertama kalinya.
>
> “Saudara-saudara kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat hari
> natal dan tahun baru, semoga berbahagia,” demikian Kiai Ma’ruf.
>
> KH Nur Maymoun, Pengasuh Yayasan Miftahul Ulum, Tembaagung Ares, Ambunten,
> Sumenep, ikut kaget menyaksikan video tersebut. Sebab, meski ucapan itu
> kontroversi, tetapi, banyak yang kemudian memburu jejak digitalnya.
>
> “Memang kontroversi. Ada yang mengharamkan, memakruhkan sampai
> membolehkan.  Masalahnya adalah, orang akan melihat sejauhmana kita
> konsisten dengan semua itu. Jangan dulunya melarang, sekarang membolehkan,
> atau malah menganjurkan seperti yang dilakukan kader-kader PSI (Partai
> Solidaritas Indonesia red.),” demikian Kiai Nur Maymoun kepada *duta..co* 
> Senin
> (24/12/2018).
>
>
> KH Nur Maymoun, Pengasuh Yayasan Miftahul Ulum, Tembaagung Ares, Ambunten,
> Sumenep. (FT/IST)
>
> Jejak digital Kiai Ma’ruf memang sempat ditulis *Tempo.co*,  edisi Sabtu,
> 11 Agustus 2018. Kiai Ma’ruf dinilai kerap menjadi sorotan karena
> pernyataannya. Berikut pandangan-pandangan Ma’ruf Amin yang sempat
> mengundang perdebatan:
>
>    1. Melarang mengucapkan natal
>
> Majelis Ulama Indonesia menyarankan umat Islam tidak mengucapkan selamat
> Natal kepada pemeluk agama Nasrani. “Itu jadi perdebatan, sebaiknya enggak
> usah sajalah,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Ma’ruf Amin di Jakarta, Rabu, 19
> Desember 2012. 
> *https://pilpres.tempo.co/read/1115995/menolak-ucapan-selamat-natal-ini-lima-kontroversi-maruf-amin?page_num=5
> <https://pilpres.tempo.co/read/1115995/menolak-ucapan-selamat-natal-ini-lima-kontroversi-maruf-amin?page_num=5>*
>
> Meskipun melarang, Maruf meminta umat Islam menjaga kerukunan dan
> toleransi. Dia menyatakan ada fatwa MUI yang melarang untuk mengikuti
> ritual Natal. Dia menegaskan, mengikuti ritual Natal adalah haram. “Karena
> itu ibadah (umat lain),” kata dia.
>
>    1. Melarang Ahmadiyah
>
> Kiai Ma’ruf menyatakan kecewa terhadap sikap Badan Koordinasi Pengkajian
> Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) yang tidak melarang aliran
> Ahmadiyah. MUI akan segera melayangkan keberatan secara tertulis dan
> meminta Bakor Pakem menarik kembali keputusannya.
>
> “MUI kecewa terhadap toleransi Bakor Pakem. MUI menganggap Ahmadiyah tidak
> akan berubah dan kembali ke ajaran Islam. Bagi MUI, Ahmadiyah tetap sesat,”
> kata Ma’ruf saat dihubungi Tempo, Rabu, 17 Januari 2008.
>
>    1. Mendukung pembatasan tempat ibadah.
>
> Kiai Ma’ruf mengatakan, Peraturan Bersama Menteri (PBM) yang mengatur
> pendirian rumah ibadah tidak bisa direvisi oleh pemerintah. ”PBM itu dibuat
> oleh majelis-majelis agama (di Indonesia) dia merupakan piagam kesepakatan,
> pemerintah hanya meregulasikan,” katanya di sela-sela kunjungan kerjanya di
> Bandung, Kamis, 23 September 2017.
>
>    1. Mendukung pidana LGBT
>
> Majelis Ulama Indonesia (MUI) beserta sejumlah pemimpin organisasi
> masyarakat Islam menanggapi munculnya fenomena lesbian, gay, biseksual, dan
> transgender (LGBT) yang belakangan ini menyita perhatian. “Atas sejumlah
> pertimbangan, kami menolak keberadaan LGBT ataupun dukungan terkait dengan
> aktivitasnya,” ujar Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin di Gedung MUI, Menteng,
> Jakarta Pusat, pada Rabu, 17 Februari 2016.
>
>    1. Mengharuskan Sertifikat Halal untuk semua produk
>
> Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak agar dilibatkan dalam kegiatan
> jaminan produk halal dan ditegaskan dalam Rancangan Undang-Undang Jaminan
> Produk Halal. “Secara historis, penilaian dan pelabelan produk halal telah
> dilakukan oleh MUI selama puluhan tahun,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa,
> Ma’ruf Amin, dalam acara Sosialisasi RUU Jaminan Produk Halal di Kantornya
> Sabtu, 14 April 2012.
>
> Lima catatan *Tempo.co* ini menjadi perhatian publik. Soal *pertama* sudah
> terjawab. Jangan-jangan berikutnya juga sama. “Sangat disayangkan kalau
> kemudian masalah hukum agama, ini harus berubah-ubah hanya karena jabatan,”
> kata Kiai Nur. (tmp,mky)
>
>
>
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> 不含病毒。www.avg.com
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> <#m_2322567738327837806_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
>
> 
>

Kirim email ke