Bagaimana dengan kenyataan yang palsu? 
Fatamorgana, misalnya. Keberadaannya nyata, 
toh yang tampak bukanlah hal yang sebenarnya.

Atau, pemilu. Rumusan demokrasinya kan minimal 
50%+1, tetapi nyatanya cuma didukung 37% saja 
sudah dinyatakan menang dan berhak menguasai / 
berkuasa atas 100% Rakyat. Kemenangan ini nyata, 
tapi jelas bukan demokrasi yang sebenarnya. 

--- SADAR@... wrote:
Tentu saja Kebenaran sesuai KENYATAAN yang ada, ...!  

 -------- 轉寄郵件 -------- 
從: ajeg

Seperti apa kebenaran menurut Anda? 
      --- SADAR@... wrote: 
  Lho, ... BUKANKAH setiap AGAMA yang ada didunia ini memang SULIT bahkan TIDAK 
BISA DIBUKTIKAN kebenarannya!!! Orang dituntut PERCAYA dan MEYAKINI semua itu 
BENAR saja, ... Mana ada yang bisa dibuktikan itu BENAR adanya, atau kata-kata 
yang keluar dari wahyu dan kehendak Tuhan???       
Kalau begitu, orang yang percaya pada AGAMA yang diyakini, apalagi menganggap 
KEBENARAN MUTLAK yg harus  ditelan begitu saja itu adalah orang-orang 
naif!!!??? Konyol banget?! Hehehee, ...
 Maaf lahir dan batin, ... saya tidak bermaksud melecehkan apalagi menghina 
Agama yang ada didunia ini,  hanya sekadar meneruskan jalan pemikiran yg 
meragukan kebenaran hari-jadi Yesus tgl. 25 Desember, ...
  
  jonathangoeij@.... 於 26/12/2018 3:10 寫道: 
  Tidak tahu secara pasti, yg ada perkiraan2 terkecuali ditemukan akte 
kelahiran ataupun catatan kelahiran pd catatan sipil. Seandainya ditemukanpun 
akan ada perdebatan apakah orang yg sama.  
  Para "pendiri" agama2 lainpun tgl kelahirannya merupakan perkiraan, 
terkecuali yg belum begitu lama. 
  
 --- ajegilelu@... wrote :
 
      Sebenarnya tidak masalah untuk memberi ucapan 
    selamat ulangtahun. Tinggal dilihat, betulkah 
    Yesus a.k.a Isa Al Masih lahir pada 25 Desember?   
    Kalau betul, ya bagus. "Selamat Natal!".
    Kalau tidak betul, lalu apa yang kita rayakan ini?
    
    Perlu kajian sejarah yang akurat supaya tidak 
    konyol banget naifnya.
  
  --- jonathangoeij@... wrote: 
  Untuk melakukan prediksi para analis akan melihat historical data, selama ini 
 sekian puluh tahun Ma'ruf Amin baik sebagai Ketua MUI maupun Rais Aam PBNU 
tidak pernah secara publik mengucapkan selamat natal,  bahkan melarang. 
Sekarang ada ucapan natal, sebenarnya data yg merupakan perkecualian alias 
distorsi karena kampanye jadi cawapres, seharusnya distorsi  seperti ini 
diabaikan.        
  Lucunya banyak sekali orang2 naive  yg menelan begitu saja. Konyol banget.. 
  
   On Monday, December 24,  2018, 3:58:04 PM PST, ChanCT wrote:              
  Masalahnya, ... "orang akan melihat sejauhmana kita konsisten dengan semua 
itu."  Setiap orang boleh-boleh saja BERUBAAAH pemikiran dan sikap, dahulu 
melarang sekarang justru ucapkan SELAMAT NATAL! Yang penting, harus jernih 
dahulu itu tercetus dari pemikiran SALAAAH dan sekarang inilah pemikiran yang 
BENAAAR! Bisa memberi TOLERANSI,  menerima dan menghormati perbedaan yang nyata 
ada, ... termasuk perbedaan AGAMA!
  
  Jadi, perubahan pemikiran dan sikap demikian bukan semata untuk kampanye 
pilpres saja, ... dan, juga tentunya itu tidak perlu buru-buru beraprasangka, 
marilah  kita saksikan bersama bagaimana kemudian Maruf Amin melewati sisa 
hidupnya, selama 5 tahun berikut, khususnya kalau berhasil menjabat wapres 
bersama Jokowi! 
  jonathangoeij@... 於 24/12/2018 23:57 寫道 
  
    
Baru! Kiai Ma’ruf Ucapkan ‘Selamat Natal’, Kiai Nur: Risiko Merebut  Jabatan 
Politik
 
  
  24 Desember 2018 
     

 

 SURABAYA | duta.co – Calon Wakil Presiden pasangan Joko Widodo, KH Ma’ruf Amin 
mengucapkan selamat natal melalui video pendek. Tidak ada yang salah, 
sesungguhnya, tetapi bagi warganet  yang muslim, ini baru (mendengar) pertama 
kalinya. “Saudara-saudara kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat hari 
natal dan tahun baru, semoga berbahagia,” demikian Kiai Ma’ruf. 
KH Nur Maymoun, Pengasuh Yayasan Miftahul Ulum, Tembaagung Ares, Ambunten, 
Sumenep, ikut kaget menyaksikan video tersebut. Sebab, meski ucapan itu 
kontroversi, tetapi, banyak yang  kemudian memburu jejak digitalnya.
 

 
“Memang kontroversi. Ada yang mengharamkan, memakruhkan sampai membolehkan.  
Masalahnya adalah, orang akan melihat sejauhmana kita konsisten dengan semua 
itu. Jangan dulunya melarang, sekarang membolehkan, atau malah menganjurkan 
seperti yang dilakukan kader-kader PSI (Partai Solidaritas Indonesia red.),” 
demikian Kiai Nur Maymoun kepada duta...co Senin (24/12/2018)
 

  

Kirim email ke