Tapi, ... melihat ARAH perkembangan yang terjadi didunia, gunakan
mobil/truk listrik, ... Jadi, yang benar, saya SETUJUUU kiritik wacana
Jokowi yg menggenjot B20 jadi B100, gunakan sawit itu! Sedang pembangkit
listrik juga untuk kebaikan lingkungan, harus lebih utamakan gunakan
tenaga air, aingin dan matahari, ...! Jadi, sedapat mungkin kurangi,
tinggalkan dan tidak gunakan lagi minyak, batubara bahkan gas-alam, ...
Bukankah secara besar-besaran bangun perkebunan SAWIT itu, hakekatnya
juga merusak lingkungan! Hutan-hutan lebat hilang menjadi perkebunan
sawit, ternyata perkebunan sawit yg begitu luas, bukan saja merusak
kesuburan tanah secara drastis, tapi juga menghilangkan banyak jenis
hewan dan serangga yg hidup dihutan lebat itu!!! Katanya tidak boleh
menanamkan SEJENIS tanaman diareal yg cukup luas dibumi ini, harus TETAP
pertahankan aneka ragam jenis tanaman tumbuh saling menopang kesuburan
tanah dan keharmonisan lingkungan.
Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, jangan coba apalagi berusaha
keras meniadakan keberagaman yang ada dalam masyarakat dimana kita hidup
menjadi sesuatu yang TUNGGAL! Baik itu sehubungan dengan ras, etnis,
suku, Agama maupun ideologi-politik! Yang MUTLAK harus dipertahankan
adalah Bhineka Tunggal Ika! Dimana kita semua yang BERBEDA-BEDA, ya beda
ras, beda etnis, beda suku, beda Agama dan juga beda ideologi-politik
itu bisa tetap BERSATU TEGUH! Bukan berusaha keras menghilangkan
perbedaan-perbedaan yang ada, apalagi dengan kekerasan memaksa orang
yang berbeda menjadi sama dengan dirinya sendiri! Jangan lakukan itu!
[email protected] [GELORA45] 於 19/2/2019 4:25 寫道:
Bung Djie bilang tanamnya di Papua Nuigini, ya tidak apa2.
---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
hutan berubah jadi perkebunan kelapa sawit
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Kalau Indonesia sudah berhasil menjadikan minyak kelapa sawit jadi
bermacam fuel,
maka Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan export minyak kelapa
sawitnya,yang
dengan berbagai cara dari luar harganya bisa dirusak. Dengan itu juga
bisa mengurangi
import BBM. Kalau perlu Indonesia bisa tiru Malaysia, tanam kelapa
sawit misalnya di
Papua Nugini.
Pada tanggal Sen, 18 Feb 2019 pukul 05 .20 jonathangoeij@...
<mailto:jonathangoeij@...> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> menulis:
"Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan
akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50
tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan
energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan
bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk
berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI,
Minggu (17/2/2019) malam.
"Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru,
misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan
masyarakat,/land grabbing /(perampasan tanah), konflik
agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya.
...
WALHI Kritik Wacana Jokowi yang Akan Jalankan B100 dari
Sawit
<https://tirto.id/walhi-kritik-wacana-jokowi-yang-akan-jalankan-b100-dari-sawit-dhf5>
Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pendapatnya
saat debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu
(17/2/2019). tirto.id/Andrey Gromico
<https://tirto.id/walhi-kritik-wacana-jokowi-yang-akan-jalankan-b100-dari-sawit-dhf5>
Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan
pendapatnya saat debat capres 2019 di Hotel
Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).
tirto.id/Andrey <http://tirto.id/Andrey> Gromico
Oleh: Haris Prabowo - 18 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
/WALHI mengkritik wacana capres nomo urut 01 Joko Widodo
yang mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan
memungkinkan menaikkan B20 hingga B100 dalam debat kedua
capres Pilpres 2019./
tirto.id <https://tirto.id/> - Manajer Kampanye Keadilan
Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yuyun Harmono
mengkritik wacana capres 01 Joko Widodo yang ingin tetap
mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan
menaikkan B20 hingga B100.
"Kita telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen
yang kita harapkan. Kita ini menuju ke B100 sehingga kita
harapkan total produksi biofuel," kata Jokowi saat debat
capres kedua Pilpres 2019 yang digelar di Hotel Sultan,
Jakarta pada Minggu (17/2/2019) malam .
Namun, Yuyun menilai Jokowi tak melihat hal tersebut
secara komprehensif. Ia menilai pemakaian energi B20 hanya
efektif solusi jangka pendek, bukan jangka panjang.
"Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan
akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50
tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan
energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan
bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk
berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI,
Minggu (17/2/2019) malam.
"Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru,
misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan
masyarakat, /land grabbing /(perampasan tanah), konflik
agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya.
Selain itu, Yuyu n juga mengkritisi moratorium sawit yang
hanya berlaku tiga tahun saja. Ia menilai setelah tiga
tahun berarti akan diperbolehkan melakukan ekspansi
perkebunan sawit kembali.
"Ada moratorium sawit, tapi itu hanya tiga tahun, tuntutan
kita adalah 25 tahun. Supaya hal-hal seperti ini tidak
terjadi ketika mereka punya strategi untuk mengganti bahan
bakar fosil menjadi B20. Jadi kalau Cuma tiga moratorium
sawit, berarti setelah tiga tahun boleh ada ekspansi
dong?" katanya.
Baca juga:Debat Pilpres, Jokowi: Penilaian Infrastruktur
Prabowo Salah Besar
<https://tirto.id/debat-pilpres-jokowi-penilaian-infrastruktur-prabowo-salah-besar-dhdV>
Debat capres kedua mengambil tema energi dan pangan,
sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur.
Debat tersebut dipandu oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki
sebagai moderator, sementara tujuh panelis berasal dari
kalangan akademisi dan para pakar dari berbagai bidang.
Tujuh panelis tersebut, yakni Rektor ITS Profesor Joni
Hermana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB Arif Satria,
juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif.
Lalu ada Pakar Energi Ahmad Agustiawan, Pakar Lingkungan
Undip Sudharto P. Hadi, dan Sekretaris Jenderal Konsorsium
Pengembangan Agraria Dewi Kartika juga terlibat sebagai
panelis.
Debat disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun
televisi yaitu RCTI, GTV, MNC TV, dan INews TV, serta bisa
disaksikan secara ;/live streaming.
/
Baca juga:
* Hasil Debat Kedua: Jokowi Salah Klaim, Prabowo Sekadar
Jargon
<https://tirto.id/hasil-debat-kedua-jokowi-salah-klaim-prabowo-sekadar-jargon-dhf1>
* Hasil Debat Kedua: Jokowi dan Prabowo Gagal Membahas
Isu Krusial
<https://tirto.id/hasil-debat-kedua-jokowi-dan-prabowo-gagal-membahas-isu-krusial-dhfz>
Baca juga artikel te rkait DEBAT KEDUA CAPRES 2019
<https://tirto.id/q/debat-kedua-capres-2019-tTo?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau
tulisan menarik lainnyaHaris Prabowo
<https://tirto.id/author/harisprabowo?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id <http://tirto.id> - Ekonomi)
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com