Bukannya anda telah merestui panggilan goblok, kenapa panggilan goblok pada anda harus dihentikan sedangkan pada orang lain anda biarkan, bukankah itu gobloknya si Chan. Ini kata2 Chan Goblok sebelumnya "ARAH perkembangan yang terjadi didunia, gunakan mobil/truk listrik" apa gak goblok orang ini, gank ada argumen apapun bilang perkembangan dunia mobil/truk listrik. Dasar goblok!!
---In [email protected], <SADAR@...> wrote : Disinilah bung menunjukkan kegoblokan diri sendiri! Menuduh orang lain goblok tidak membuktikan diri sendiri PINTAR! Lebih baik HENTIKAN sebutan-sebutan goblok pada orang lain, dan buktikanlah dirimu PINTAR dengan beradu argumentasi saja! Mobil-listrik masih baru dalam pengembangan, tapi inilah yang seharusnya diprioritaskan untuk dikembangkan lebih cepat. Daripada kembangkan B20 menjadi B100 dengan merusak bumi Nusantara ini terlalu banyak menanam sawit, ...! Bukankah akan lebih baik dimasa peralihan ke mobil-listrik kekurangan kekurangan minyak diatasi dengan import saja, ketimbang merusak lingkungan dengan kebanyakan tanam sawit, ...! Itulah yang dijalankan dibanyak negara, termasuk RRT. jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] 於 20/2/2019 10:20 寫道: GOBLOKnya orang ini, darimana ada arahnya didunia gunakan mobil listrik. Mobil listrik itu baru berapa persen benar2 otak dengkul Chan GOBLOK. Coba buktikan arah perkembangan dunia mobil/truk listrik. Omongan goblok gedabrus! ---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@...> mailto:SADAR@... wrote : Tapi, ... melihat ARAH perkembangan yang terjadi didunia, gunakan mobil/truk listrik, ... Jadi, yang benar, saya SETUJUUU kiritik wacana Jokowi yg menggenjot B20 jadi B100, gunakan sawit itu! Sedang pembangkit listrik juga untuk kebaikan lingkungan, harus lebih utamakan gunakan tenaga air, aingin dan matahari, ...! Jadi, sedapat mungkin kurangi, tinggalkan dan tidak gunakan lagi minyak, batubara bahkan gas-alam, ... Bukankah secara besar-besaran bangun perkebunan SAWIT itu, hakekatnya juga merusak lingkungan! Hutan-hutan lebat hilang menjadi perkebunan sawit, ternyata perkebunan sawit yg begitu luas, bukan saja merusak kesuburan tanah secara drastis, tapi juga menghilangkan banyak jenis hewan dan serangga yg hidup dihutan lebat itu!!! Katanya tidak boleh menanamkan SEJENIS tanaman diareal yg cukup luas dibumi ini, harus TETAP pertahankan aneka ragam jenis tanaman tumbuh saling menopang kesuburan tanah dan keharmonisan lingkungan. Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, jangan coba apalagi berusaha keras meniadakan keberagaman yang ada dalam masyarakat dimana kita hidup menjadi sesuatu yang TUNGGAL! Baik itu sehubungan dengan ras, etnis, suku, Agama maupun ideologi-politik! Yang MUTLAK harus dipertahankan adalah Bhineka Tunggal Ika! Dimana kita semua yang BERBEDA-BEDA, ya beda ras, beda etnis, beda suku, beda Agama dan juga beda ideologi-politik itu bisa tetap BERSATU TEGUH! Bukan berusaha keras menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada, apalagi dengan kekerasan memaksa orang yang berbeda menjadi sama dengan dirinya sendiri! Jangan lakukan itu! bhjo@... mailto:bhjo@... [GELORA45] 於 19/2/2019 4:25 寫道: Bung Djie bilang tanamnya di Papua Nuigini, ya tidak apa2. ---In [email protected] mailto:[email protected], <jonathangoeij@...> mailto:jonathangoeij@... wrote : hutan berubah jadi perkebunan kelapa sawit ---In [email protected] mailto:[email protected], <djiekh@...> mailto:djiekh@... wrote : Kalau Indonesia sudah berhasil menjadikan minyak kelapa sawit jadi bermacam fuel, maka Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan export minyak kelapa sawitnya,yang dengan berbagai cara dari luar harganya bisa dirusak. Dengan itu juga bisa mengurangi import BBM. Kalau perlu Indonesia bisa tiru Malaysia, tanam kelapa sawit misalnya di Papua Nugini. Pada tanggal Sen, 18 Feb 2019 pukul 05 .20 jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected] mailto:[email protected]> menulis: "Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019) malam. "Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah), konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya. ... WALHI Kritik Wacana Jokowi yang Akan Jalankan B100 dari Sawit Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pendapatnya saat debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). tirto.id/Andrey http://tirto.id/Andrey Gromico Oleh: Haris Prabowo - 18 Februari 2019 Dibaca Normal 1 menit WALHI mengkritik wacana capres nomo urut 01 Joko Widodo yang mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga B100 dalam debat kedua capres Pilpres 2019. tirto.id https://tirto.id/ - Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yuyun Harmono mengkritik wacana capres 01 Joko Widodo yang ingin tetap mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga B100. "Kita telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen yang kita harapkan. Kita ini menuju ke B100 sehingga kita harapkan total produksi biofuel," kata Jokowi saat debat capres kedua Pilpres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta pada Minggu (17/2/2019) malam . Namun, Yuyun menilai Jokowi tak melihat hal tersebut secara komprehensif. Ia menilai pemakaian energi B20 hanya efektif solusi jangka pendek, bukan jangka panjang. "Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019) malam. "Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah), konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya. Selain itu, Yuyu n juga mengkritisi moratorium sawit yang hanya berlaku tiga tahun saja. Ia menilai setelah tiga tahun berarti akan diperbolehkan melakukan ekspansi perkebunan sawit kembali. "Ada moratorium sawit, tapi itu hanya tiga tahun, tuntutan kita adalah 25 tahun. Supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi ketika mereka punya strategi untuk mengganti bahan bakar fosil menjadi B20. Jadi kalau Cuma tiga moratorium sawit, berarti setelah tiga tahun boleh ada ekspansi dong?" katanya. Baca juga: Debat Pilpres, Jokowi: Penilaian Infrastruktur Prabowo Salah Besar Debat capres kedua mengambil tema energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur. Debat tersebut dipandu oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki sebagai moderator, sementara tujuh panelis berasal dari kalangan akademisi dan para pakar dari berbagai bidang. Tujuh panelis tersebut, yakni Rektor ITS Profesor Joni Hermana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB Arif Satria, juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif. Lalu ada Pakar Energi Ahmad Agustiawan, Pakar Lingkungan Undip Sudharto P. Hadi, dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika juga terlibat sebagai panelis. Debat disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi yaitu RCTI, GTV, MNC TV, dan INews TV, serta bisa disaksikan secara ;live streaming. Baca juga: Hasil Debat Kedua: Jokowi Salah Klaim, Prabowo Sekadar Jargon Hasil Debat Kedua: Jokowi dan Prabowo Gagal Membahas Isu Krusial Baca juga artikel te rkait DEBAT KEDUA CAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnyaHaris Prabowo (tirto.id http://tirto.id - Ekonomi) Reporter: Haris Prabowo Penulis: Haris Prabowo Editor: Dewi Adhitya S. Koesno http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient 不含病毒。www.avg.com http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
