Ya memang aneh, kabinet seprimitif sumpah pocong kok sesumbar revolusi 4.0 
segala. Orang kalahan, penurut, pembohong, kok dijadikan presiden. Pengin 
bebaskan Baasyir menjelang pemilu dan menyetujui dwifungsi TNI-Polri kok 
dibilang membela Rakyat, dan keanehan-keanehan lainnya.

Nggak kalah aneh, sudah tahu Jokowi kayak gitu eh Anda masih berharap dia 
(mendorong orang lain) untuk mengungkap kasus Mei '98.
Nah semua itu contoh-contoh letoy, hehe... nggak kuat menegakkan sikap atas 
keinginan bahkan kata-kata sendiri.
--- SADAR@... wrote: 
 

Apa itu letoy? Hehehee, ...
 
Yang jadi masalah, Jokowi kan tidak mengurus diruang hampa, ... disekitar dia 
juga ada kekuatan-kekuatan koalisi yg beraneka ragam, bahkan dalam batas-batas 
tertentu bisa dikatakan anti-rakyat juga! Jadi, sekalipun Jokowi hendak bela 
rakyat, bisa saja terganjal bahkan "ngalah" nuruti tekanan sekelompok kekuatan 
lain. Itulah yg terjadi, ... gejala aneh-aneh. Baik masalah Ahok maupun Baasyir 
yg terakhir ini.
 
ajeg 於 3/3/2019 17:17 寫道:
Lha kan nda yang minta pengadilan kasus ini (Aaayoo, ... Buka pengadilan untuk 
pertanggungjawabkan kasus Kerusuhan Mei '98 itu), kenapa mendadak letoy begitu 
ditanya bagaimana harusnya Jokowi bersikap? Karena sudah tahu Jokowi tidak 
mampu bersikap (bahkan untuk menentukan cawapres) buat apa Anda berharap "ada 
baiknya"... 
  
  Dalam urusan apa pun Rakyat tidak perlu menekan kalau Jokowi memang berpihak 
kepada Rakyat. Huru-hara Mei '98 menelan banyak sekali korban. Saat terbuka 
kesempatan untuk mengungkapnya (seperti sekarang) Jokowi harusnya berpihak 
kepada para korban, Rakyat. Bukan planga-plongo sekalipun revolusi 4.0 nya 
digilas sumpah pocong.   
    Apa yang diharap dari kepemimpinan planga-plongo begini.    
   
     --- sadar@... wrote:
    
Lalu, ... apa kekuatan RAKYAT sudah CUKUP KUAT untuk MENEKAN  Jokowi mendorong 
tuntaskan kasus Kerusuhan Mei '98 ini??? Bukankah nampak jelas, untuk menentuka 
cawapres saja, Jokowi tidak mampu pertahankan pemikiran semula, Mahfud  MD! 
Berubah begitu ada sedikit TEKANAN saja. Bahkan sebaliknya, saya amati kekuatan 
sebelah sono masih lebih kuat untuk menghalangi Jokowi mentuntaskan kasus 
Kerusuhan  Mei '98 ini! Apalagi jenderal Wiranto yang bermasalah juga berada 
dikubunya sendiri!
 
  ajeg 於 3/3/2019 14:07 寫道: 
                Cuma "ada baiknya"?ǃ? 
  Kelihatannya Anda marah tuh kasus Mei '98 dipetieskan selama 21 tahun. Tapi 
begitu ada kesempatan mengungkap kok cuma berharap, "ada baiknya" Jokowi 
mendorong orang lain(ǃ) untuk bergerak mengurus kasus ini... 
  
  Karena Anda mau Jokowi bersikap sepengecut itu (ada baiknya mendorong orang 
lain) ya berarti percumalah Jokowi ngecap revolusi 4..0 segala. Lha kabinetnya 
saja masih primitif. 
  Hidup kabinet sumpah pocongǃ
  
  
       --- SADAR@... wrote:       
 
 
Bagaimana seharusnya Jokowi  bersikap menghadapi 
tantang-menantangjenderal-jenderal itu?
 
Karena selama 21 tahu ini siapa  DALANG Kerusuhan Mei '98 TIDAK juga  berhasil 
diungkap,  bahkan dipeti-eskan serapat-rapatnya,  kesempatan keluarnya 
tantang-menantang, sampai "sumpah pocong!", ada  baiknya Jokowi selaku Presiden 
bisa ikut mendorong aparat HUKUM  bergerak menangani dan TUNTASKAN Kerusuhan 
Mei '98, siapa  DALANG sesungguhnya dan patut  dijatuhi sanksi HUKUM!
 ajeg 於 2/3/2019 14:41 寫道:               
  Sebelum bicara penuntasan masalah kerusuhan Mei '98, menurut Anda bagaimana 
harusnya Jokowi bersikap soal tantang-menantang ini? Sekurangnya sebagai 
pertanggungjawaban mengangkat Wiranto menjadi menteri koordinator bidang hukum 
tapi bengak-bengoknya sumpah pocong.
   
    --- sadar@... wrote:    
Kivlan BEETUUUL, ...! Kenapa harus "SUMPAH POCONG!", sumpah setan yang tidak  
ada artinya, ... TIDAK SESUAI koridor HUKUM! Yang BENAR buka pengadilan  
tuntaskan siapa DALANG Kerusuhan Mei '98 itu! Buktikan bahwa HUKUM dinegeri ini 
TEGAK  seadil-adilnya! Tidak tajam kebawah tumpul keatas, tidak tajam 
ke-oposisi  tumpul kepenguasa, ...! Aaayoo, ... Buka pengadilan 
untukpertanggungjawabkan kasus Kerusuhan Mei '98 itu, siapa sesungguhnya DALANG 
Kerusuhan yang selama ini DISEMBUNYIKAN bahkan DILINDUNGI, Wiranto,  Prabowo, 
Kivlan Zen???!!! TIDAK dihentikan dengan seruan Wiranto: CUKUUUP!  Bagaimanapun 
juga TUDUHAN Kivlan yg telah dilontarkan merupakan pintu  masuk mengungkap 
kejadian sesungguhnya, siapa DALANG Kerusuhan, ... TEGAKKAN HUKUM 
sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, ....!!!
 
  
  TUNTASKAN KERUSUHAN Mei '98, Semanggi-I, Semanggi-II, Penculikan Aktivis, 
...yang  selama ini tetap dipendam, dipeti-eskan!!!    
  
  ajeg 於 2/3/2019 1:12 寫道:
  
  Kivlan juga menantang Wiranto untuk menempuh mekanisme peradilan militer 
       
  
 
Wiranto: Cukup
 
 
  -----
  
    
Kivlan Zen Tantang Balik Wiranto Debat di TV soal Kerusuhan 1998
 
       IHSANUDDIN 
    Kompas.com - 27/02/2019, 10:00 WIB
    
    JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis  
Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen menantang Menteri 
Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto untuk berdebat  di 
televisi terkait dalang kerusuhan 1998.   
    "Kalau memang Wiranto berani, kita berdebat saja di Kompas TV. Saya akan 
bawa  data-data dan saksi yang menunjukkan Wiranto sebagai dalang kerusuhan," 
kata Kivlan kepada Kompas.com, Rabu (27/3/2019).   
    Hal ini disampaikan Kivlan menjawab tantangan dari Wiranto.Mantan Panglima 
ABRI  itu sebelumnya menantang Kivlan Zen dan calon presiden nomor urut 02 
Prabowo  Subianto sumpah pocong terkait dalang kerusuhan 1998.   
      Tantangan itu disampaikan karena Kivlan sebelumnya menyebut Wiranto 
sebagai dalang  kerusuhan.   
  Namun, Kivlan menolak tantangan sumpah pocong itu dan lebih memilih untuk  
berdebat di televisi.      
    "Saya tidak mau sumpah pocong, itu kan sumpah setan. Tidak sesuai koridor 
hukum.  Kalau mau kita berdebat saja di semua media TV di Indonesia," katanya.  
 
    Bahkan, Kivlan juga menantang Wiranto untuk menempuh mekanisme  peradilan 
militer atau pengadilan militer untuk benar-benar membuktikan  siapa yang 
bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi.Kivlan  menyebut saat kerusuhan 
pecah di Jakarta, Wiranto yang saat itu menjabat  Panglima ABRI justru meminta 
tak ada pasukan dari luar daerah yang dikirim ke  Jakarta.   
    "Kostrad mau kirim pasukan dari Jawa Tengah. Dia (Wiranto) bilang jangan. 
Apa  bukan dalang kerusuhan kalau seperti itu," katanya.   
    Penulis : Ihsanuddin
    Editor : Inggried Dwi Wedhaswary               

Kirim email ke