----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ajeg [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: GELORA45 <[email protected]>Terkirim: 
Senin, 4 Maret 2019 19.47.25 GMT+1Judul: Re: [GELORA45] Pakar ASEAN Nilai 
Positif Sistem Sosialisme Berkepribadian Tiongkok
     

Kapitalisme itu liberal ding, bukan demokratis. Pengusaha bebas jadi penguasa, 
peng-peng bebas mengatur negara seperti pasar, pasar (Rakyat) bebas dijepit 
arus produksi vs konsumsi, dan akhirnya kapitalis bebas ambil keuntungan 
seenaknya. Bebas, bebas, bebas.
--- SADAR@.... wrote:
Pertarungan antara sistem kapitalisme dan sistem sosialisme masih terus 
berlangsung dan akan terjadi dalam jangka waktu panjang, sangat panjang sampai 
akhirnya sistem sosialisme sepenuhnya menggantikan sistem kapitalisme, ... 
terwujudlah masyarakat sosialisme sebagai kelanjutan masyarakat kapitalisme 
yang  dinyatakan Marx lebih 120 tahun yl.  Terwujud masyarakat adil dan makmur 
dalam kenyataan yang kemakmurannya raltif merata dan bisa dinikmati bersama 
dengan lebih adil, ... 
  
Selama ini orang menafsirkan sistem kapitalisme jauh lebih demokratis dengan 
membiarkan pasar-bebas tidak dikendalikan negara, sebaliknya sistem sosialisme 
berlakukan DIKTATUR Proletariat yg hakekatnya berada ditangan ketua Partai 
Komunis, yg hakekatnya TIDAK ada demokratis, sedang dibidang ekonomi TIDAK ada 
kebabasan persorangan, semua milik negara dan dijalankan sepenuhnya oleh 
pemerintah dengan ekonomi berencana. 
 
 
Demokrasi dan diktatur adalah satu kesatuan dari segi-segi yang bertentangan, 
yang seharusnya dibuat keseimbangan yang baik. Jangan jomblang apalagi dalam 
waktu berkepanjangan hanya menekankan satu segi, demokrasi atau diktatur nya 
saja! Sama-sama akan jadi CELAKA, sama-sama merugikan rakyat banyak! Didalam 
pemerintah yang jalankan sistem kapitalisme, tentu juga ada batas-batas 
demokrasi yang dijalankan dan pada titik tertentu pemerintah ambil oper 
menentukan kebijakan sesuai ketentuan-ketentuan Konstitusi dan UU yg ada.. 
 
 
Sedang di negara-negara sosialis, ambillah dedengkotnya Sovyet dan RRT, yg 
jalankan Diktatur Proletariat, akhirnya dalam praktek terjadi diktatur Ketua 
Partai, baik Stalin maupun Mao, ... dalam prakteknya membuat KESALAHAN jadi 
begitu kerasnya menyingkirkan banyak kader/anggota yang beda pendapat, ....  
begitu banyak kader/anggota yg dijebloskan dalam kamp-konsentrasi kerja untuk 
cuci-otak yg beda pendapat dengan segala tuduhan yg nyaris tidak dibuktikan 
lebih dahulu melalui proses pengadilan yang sah dan adil. Akhirnya PKUS 
terjungkel dengan sendirinya setelah berkuasa 70 tahun.
 
Sedang Deng berani mengoreksi kesalahan-kesalahan yg telah terjadi, ... 
sekalipun pertahankan Diktatur Proletariat dengan kekuasaan Partai tunggal, 
PKT, selalu menekankan keharusan pimpinan-kolektif di PKT dan kembali 
mengembangkan DEMOKRASI lebih luas didalam partai. Tidak lagi bisa dan boleh 
hanya menekankan dan mendengarkan Ketua PKT saja. Membiarkan fraksi-fraksi beda 
pendapat bersuara dan saling diskusi terbuka. Bahkan bulan yl. Li Rui, mantan 
sekretaris Ketua Mao yang dikenal membawakan suara Sosial-Demokrat, saat 
meninggal diusia 101 tahun, tetap upacara Pemakaman dilangsungkan di Ba Baoshan 
dengan peti-mati ditutupi bendera Partai dan tokoh pimpinan PKT juga kasih 
karangan bunga. Beberapa tahun yl. Xi Jinping juga berani membubarkan 
kamp-konsentrasdi kerja yang tidak manusiawi itu dan entah sudah menelan berapa 
banyak korban jiwa, ... Dianggap beda-pendapat boleh-boleh saja dan perbedaan 
pandangan ideologi yang terjadi hanya bisa diselesaikan dengan diskusi, adu 
argumentasi, dengan pendidikan bukan dengan paksa dan kekerasan menuntut orang 
melepas pendapatnya. Prinsip kebenaran dibuktikan dalam praktek, itulah yang 
harus dipegang!
 
 
Kalau saja PKT bisa meneruskan tradisi pimpinan-kolektif dengan mengembangkan 
DEMOKRASI lebih baik didalam Partai, barulah ada jaminan berkemampuan 
meneruskan TUGAS PIMPINAN, membawa 1,4 milyar Rakyat Tiongkok membangun 
masyarakat adil dan makmur lebih baik dan lebih cepat lagi! 
 
 
Salam,
 
ChanCT
 
 

 
 bhjo@... 於 4/3/2019 12:59 寫道:
Sosialisme yang berciri khas Tiongkok versus demokrasi Barat ala Amerika, baru 
bertanding. Faktanya adalah Tkk telah berhasil memajukan  negaranya dgn cepat. 
Saya lihat demokrasi ala Amerika tidak sedikit kelemahannya dimana partai 
Republican dan Democrat sering mementingkan kepentingan pribadi pemimpinnya dan 
partainya daripada kepentingan nasional-nya. Mau membuat high speed train dari 
Los Angeles ke San Francisco sudah ber-tahun2 tidak terlaksana karena ribut 
berdiskusi terus. Mau membuat tembok antara Amerika dan Mexico (yg memangnya 
tidak  perlu) tidak terlaksana, juga karena sistim demokrasi Barat. Rencananya, 
mau membuat tembok/wall, kemudian bilang fence/pagar dan kemudian 
pembatas/barrier juga boleh. Tkk membuat high speed train yg panjangnya lebih 
panjang dari jumlah rel high speed train diseluruh dunia dalam waktu yg tidak 
lama. Tkk telah membuat great wall (megah)  yg panjangnya ribuan kilometer 2500 
tahun yg lalu sedangkan Amerika membuat pagar saja tidak terlaksana, ya karena 
ribut terus dari hasil demokrasi,
 
  Entah sistim mana yg akan banyak ditiru di masa depan. 
 
 
 --- SADAR@... wrote :
 
 
Pakar ASEAN Nilai Positif Sistem Sosialisme Berkepribadian Tiongkok
  2019-03-04 11:00:32     
Tahun ini adalah genap 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, juga 
adalah tahun kunci untuk selesai membangun masyarakat cukup sejahtera. Selama 
beberapa hari ini, para pakar dan sarjana luar negeri menaruh perhatian 
sepenuhnya terhadap penyelenggaraan sidang Majelis Permusyawaratan Politik 
Rakyat (MPPR) dan sidang Kongres Rakyat Nasional (KRN) Tiongkok tahun ini, 
sementara menilai positif sistem sosialisme yang berciri khas Tiongkok, 
menantikan lebih banyak sinyal positif dari kedua sidang tersebut, meluncurkan 
lebih banyak kebijakan baru, membawa lebih banyak peluang baru kepada 
kemakmuran dunia.
 
Harian “Business Mirror” Filipina meluncurkan artikel penulis Ernesto Hilario 
yang menaruh perhatian terhadap pembangunan Tiongkok selama 40 tahun. Ia 
berpendapat, ekonomi dan sosial Tiongkok tak mungkin mencapai keberhasilan 
seperti sekarang ini tanpa pimpinan Partai Komunis Tiongkok (PKT). “PKT 
memiliki tekad tegas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki 
kehidupan rakyat. Sistem sosialisme yang berkepribadian Tiongkok mengembangkan 
vitalitas yang amat besar, merupakan jaminan sistem fundamental bagi 
perkembangan dan kemajuan Tiongkok pada zaman sekarang.”
 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Hariyadi Sukamdani menyatakan, 
Tiongkok telah mencapai hasil nyata di bidang teknologi, ekonomi digital 
mengundang perhatian umum, transformasi dan eskalasi strukturisasi penuh dengan 
daya hidup. Tiongkok dengan tegas menempuh jalan sosialisme yang berkepribadian 
Tiongkok, jalan tersebut merupakan jalan keamanan negara yang mengalami ujian.
 
Wakil Direktur Kantor Komite Sentral Partai Revolusioner Rakyat Laos pernah 
belajar di Beijing dan berulang kali mengunjungi Tiongkok. Ia sangat 
memperhatikan penyelenggaraan sidang MPPR dan sidang KRN, dan menganggap bahwa 
kedua sidang itu telah memperlihatkan pengalaman perkembangan dan arah 
kebijakan. Tiongkok telah mencapai keberhasilan di bidang-bidang ekonomi dan 
iptek, khususnya menyelesaikan masalah kemiskinan, tingkat pengurangan penduduk 
miskin dan perbaikan lingkungan hidup di daerah miskin telah  meninggalkan 
kesan mendalam.
     

Kirim email ke