Bagus ceritanya Dan kelompok2 itu hidup berdasarkan prinsip dasar komunisme: berkontribusi berdasarkan kemampuan dan menerima berdasarkan kebutuhan. Itulah survival instinct yang membuat manusia survive ditengah predator2 yg jauh lebih ganas dan kuat.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Kalau begitu coba ambil dari jaman manusia telanjang bulet, nanti kan kelihatan bahwa kami (haha) berburu binatang itu semata-mata untuk makan. Tidak bisa dibilang belanja mantel bulu yang mewah atau kalung / gelang indah berpermatakan gigi macan orisinil.. Kemudian, untuk tetap bertahan kami (hahaha) harus hidup berkelompok. Sebab, mustahil untuk dapatkan buruan seorang diri atau berdua-bertiga saking banyaknya jenis binatang yang suka main keroyok seperti waktu memburu dan menyantap saudara-saudari kami. Suka atau tidak, kami pun belajar dari golongan satwa untuk hidup berkelompok. Bersosialisasi. Bergotong-royong, tolong-menolong, berbagi sepotong dua potong bebek angsa dsb. Kadang untuk menu-menu tertentu kami juga biasa bersosialisasi dengan kelompok-kelompok lain dari berbagai penjuru angin. Bagi yang lelah hidup berpindah dan sudah menemukan sepetak area dengan sumber air yang dirasa cukup aman dari predator, mulailah makhluk dari keluarga erektus mencicipi gaya hidup menetap dan belajar di universitas terbuka dengan para gurubesar tumbuhan. Hasilnya, tadaa... peradaban baru bercocok tanam. Panennya untuk keperluan dapur sendiri atau berbagi dengan kelompok yang masih main kucing-kucingan sebagai predator sekaligus mangsa, yang kebetulan menggelandang melintasi ladang. Sebaliknya, kelompok kelayapan membagi daging buruannya maupun benih dari ladang sebelah. Biasanya, antara kelompok penggelandang dan kelompok pemukim saling bertukar cinderamata berupa taring rusa atau cakar beruang dll dengan biji cabe dan bibit sawi dll. Sehingga pertukaran budaya dari 2 golongan erektus (pemburu dan peladang) pun terus mengembangkan peradaban sosial. Lalu kapan giliran kapitalisme muncul di panggung peradaban? Oh itu nanti, di jaman kelompok keluarga jagoan berburu dan bertani yang hidup menetap mulai membangun puak dan bikin trend komunitas perkampungan. Selanjutnya ini berkembang menjadi cikal-bakal persukuan dengan strata sosial yang kefeodalannya masih primitif. Lambat laun sistem sosial-budaya persukuan ini menyeleksi puak/suku yang kuat untuk lanjut berevolusi menjadi kerajaan dan tumbuhlah sosial-budaya monarki. Di era gerombolan keluarga jagoan inilah konon makhluk erektus mulai mengenal adab tawuran antarkelompok (nenek-moyangnya 'perang'). Sumber gara-garanya rak lain adalah rebutan bahan pangan. Kabarnya, di tengah gelimpangan korban tawuran, para cerdik desa mulai ngeh bahwa sumber keributan itu (bahan pangan) punya nilai penting. Percampuran budaya feodal pra kerajaan dengan budaya tawuran akhirnya menghamili peradaban dengan embrio tawanan dan perbudakan, yang seterusnya menjadi watak dari sosial-budaya monarki di era penakluka (Message over 64 KB, truncated)
