kalau anda cuman berkata kemungkinan besar menurut anggapan anda ya tdk usak 
pemilu lha wong pd akhirnya ya cuman 1 orang yg jd presiden.
kalau ada banyak calon darimana anda tahu pada akhirnya cuman Jokowi vs. 
Prabowo?

    On Wednesday, March 20, 2019, 5:07:26 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
 
  
Bukankah kemungkinan besar yang terjadi, tanpa Threshold Presiden dan 
katakanlah jadi muncul 4-5 capres sekalipun, akhirnya akan mengerucut 01 dan 02 
juga seperti sekrang ini. Itulah kekuatan-kekuatan yg nampak bertarung dalam 
koalisi yg terjadi sekarang ini. Adanya threshold hanya mempercepat proses 
tidak usah/kurangi kemungkinan terjadi pemilihan putaran kedua, ...
 
 Jonathan Goeij 於 21/3/2019 1:26 寫道:
  
 
 
  anda justru memberikan contoh akibat dari threshold, tidak tahu sebenarnya 
anda beropini setuju atau tidak setuju threshold. 
  kutipan: Sedang untuk tingkat perjuangan sekarang ini, pemilu serentak, pileg 
dan pilpres 2019, 17 April 2019 yad, tidak ada pilihan lain kecuali Kubu 01 dan 
02! Tidak ada alternatif lain, ... GOLPUT juga TIDAK merubah hasil pemilu! Jadi 
BETUL kata romo Magnis, yang dihadapkan pada rakyat bukan memilih yang terbaik, 
tapi jangan biarkan yang terjelek berkuasa!
  
  
      On Wednesday, March 20, 2019, 12:11:27 AM PDT, ChanCT 
<[email protected]> wrote:  
  
     
Dengan threshold Presiden dihapus, bisakah menyelesaikan soal??? Saya TIDAK 
yakin! Bukan disini DASAR masalahnya. Dengan munculnya "demokrasi" yg 
melahirkan 16 Parpol dalam pemilu kali ini, menunjukkan KESADARAN masyarakat 
akan demokrasi masih amburadul! BELUM berhasil mengerucut dalam 3-4 parpol, 
begitu beda sedikit  saja harus bentuk parpol tersendiri, dan entah apa dasar 
perbedaannya lagi, ... ini pertama.
 
Kedua, kehidupan DEMOKRASI tidak berarti pemilihan Presiden langsung, sebalik 
saya melihat presiden yg keluar dalam kenyataan tetap TIDAK BISA mewakili suara 
rakyat mayoritas dalam arti sesungguhnya, apalagi bekerja untuk kepentingan  
rakyat banyak. Belum lagi yg dipersoalkan kenyataan jumlah suara pemenang tidak 
pernah bisa melebihi suara GOLPUT, yg tidak ikut bersuara, ....!!! Padahal 
pengeluaran DANA dan energi yang begitu BESAR untuk pemilu yg dibanggakan PESTA 
DEMOKRASI itu jadi sangat TIDAK MEMADAI!
 
Ketiga, rakyat Indonesia masih perlu belajar dalam perjalanan demokrasi ini 
untuk menyimpulkan dan menemukan sendiri demokrasi melahirkan pemimpin yg 
dianggap paling baik.
 
Sedang untuk tingkat perjuangan sekarang ini, pemilu serentak, pileg dan 
pilpres 2019, 17 April 2019 yad, tidak ada pilihan lain kecuali Kubu 01 dan 02! 
Tidak ada alternatif lain, ... GOLPUT juga TIDAK merubah hasil pemilu! Jadi 
BETUL kata romo  Magnis, yang dihadapkan pada rakyat bukan memilih yang 
terbaik, tapi jangan biarkan yang terjelek berkuasa! 
 
 

 
 

 
 Jonathan Goeij 於 19/3/2019 22:37 寫道:
  
 
     Hapus threshold. 
  
      On Tuesday, March 19, 2019, 1:23:24 AM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
  
     
Lalu, ... selama hampir 74 tahun ini Indonesia dikuasai siapa???
 
Kalau dua-duanya sama saja, bagaimana cara mengeluarkan dan menangkan pilihan 
ke-3, pilihan  lain???
 
 

 
 [email protected] [GELORA45] 於 19/3/2019 11:51 寫道:
  
      

 
 Si Ramli omong kosong, jika Prabowo menang juga akan sama.  
 
 ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
 
     
Rizal Ramli: Jika Jokowi Menang, China Akan Kuasai Indonesia
 
  Maret 17, 2019 18:49 
  Jakarta, aktual.com – Ekonom senior Rizal Ramli, sebut pemerintah Presiden 
Joko Widodo dan tokoh-tokoh di belakangnya dipengaruhi pemerintah China dalam  
sektor ekonomi. Sehingga, jika Jokowi menang dalam Pilpres  2019 ini, Tiongkok 
akan menguasai Indonesia. 
  “Bila Jokowi menang dalam pemilihan presiden  mendatang, China akan semakin 
dalam menguasai Indonesia,” ujar Rizal  di kediamannya, di Jakarta Selatan, 
ditulis  Minggu (17/3). 
  Rizal menceritakan sedikit pengalamannya saat  menjabat sebagai Menko Maritim 
dan Sumber Daya pada kurun 2015-2016. 
  Di masa itu, Kementerian yang dipimpin Rizal  memberikan nama baru untuk 
perairan Indonesia di sebelah utara Pulau  Natuna, Kepulauan Riau. 
  “Laut Natuna Utara dimasukkan dalam peta baru NKRI,  karena wilayah perairan 
itu sudah sah menjadi milik kita setelah  dicapai kesepakatan dengan 
negara-negara  tetangga,” cerita Rizal. 
  Tapi, sambung dia, saat itu ada anggota Kabinet yang  keberatan, karena 
mempertimbangkan keberatan China. Tidak  hanya keberatan, anggota kabinet ini 
juga mengusulkan agar China diberi hak perikanan khusus di perairan itu. 
  Nama Laut Natuna Utara akhirnya tetap digunakan  dalam peta baru NKRI. 
  Kini setelah berada di luar Kabinet, Rizal melihat  kelompok yang memiliki 
hubungan dekat dengan China begitu dominan. 
  “Kita harus hati-hati dengan strategi loan to own  China. Di beberapa negara 
mereka membantu proyek-proyek yang sudah  pasti tidak untung. Setelah itu 
mereka akan  memilikinya,” kata Rizal lagi. 
  Di sisi lain, Rizal juga tidak setuju dengan  konsepsi Indo Pacifik yang 
menurutnya mengekspresikan  kepentingan Amerika Serikat di kawasan.Menurutnya, 
di  masa depan Indonesia harus menyusun konsepsi  baru yang memungkinkan 
Indonesia merebut kembali posisi sebagai  pemain kunci di kawasan.
  
  (Zaenal Arifin)
  
        
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

                

Kirim email ke