lho....... yang barusan usul siapa?Sekarang anda setuju dengan golput?

    On Wednesday, March 20, 2019, 11:32:33 PM PDT, ChanCT 
<[email protected]> wrote:  
 
  
Bisa dikatakan, sudah tidak ada orang yang waras mau mengakui pemilihan dimasa 
ORBA Soeharto dan PANTASLAH ketika itu dilawan dengan GOLPUT!
 

 
 [email protected] [GELORA45] 於 21/3/2019 10:53 寫道:
  
 
     

 Indonesia sdh menjalankan pemilihan presiden yg anda sebut selama 32 tahun..
 
 ---In [email protected], <SADAR@...> wrote :
 
 
  
Untuk pemilihan Presiden, khusus bagi negara besar dan rakyat yg begitu banyak, 
... jauh akan lebih baik dipilih melalui MPR, secara musyawarah perwakilan 
saja! RAKYAT banyak TIDAK akan mampu mengenal dan memilih seorang capres dengan 
baik hanya dari masa  perkenalan, masa propaganda, masa debat yg hanya sebulan 
atau beberapa bulan itu saja! Capres begitu banyaknya TAK ADA ARTInya, karena 
tetap parpol besar yg bermain menentukan dan kesitulah akan mengerucut! 
Akhirnya memang sulit, sangat sulit untuk mengatakan  tidak akan terjadi dagang 
sapi dan politik uang, ... 
 
 
Dengan kata lain, pemilihan Presiden secara langsung begitu TIDAK menjamin 
keluar Presiden yg BAIK! Saya perhatikan, lebih baik cara RRT, capres keluar 
dari gubernur propinsi yg BERHASIL dan ditentukan KRN saja, akan lebih menjamin 
keluar Presiden yg BAIK  dan berkemampuan membawa negara lebih maju!
 
 

 
 jonathangoeij@... [GELORA45] 於 21/3/2019 9:22 寫道:
  
 
 
 anda bisa juga melihat threshold itu memang yg bikin tdk ada calon lain, 
sampai kapanpun juga ya tdk ada calon brilliant yg ada calon dagang sapi. 
  calon akan selalu ada, saat ini di US sudah ada 605 presidential candidates 
yg mencalonkan diri utk pemilu 2020 th depan, yg nantinya mengerucut jadi 
sekian puluh orang kemudian mengerucut lagi. 
  Obama th 2008 juga awalnya tidak diperhitungkan sama sekali. 
 
 ---In [email protected], <SADAR@...> wrote :
 
  
Lha, ... kan nampak jelas yang terjadi dengan adanya threshold itu, dan karena 
tidak ada parpol yg memenuhi syarat keluarkan capres jadi harus lakukan 
koalisi, dalam perembukan itu kan cuma ada 2 capres yg  keluar, mau bikin 
capres ke-3 juga tidak berani, ...! Itulah peraduan kekuatan yg terjadi dalam 
masyarakat, sekalipun ada beberapa parpol yg tampilkan capres, akhirnya akan 
mengerucut pada capres yg  masih bisa diterima bersama. Maka dalam pilpres 
putaran ke-2 akan muncullah spt. yg keluar sekarang ini hanya kubu 01 dan kubu 
02 itu. 
 
 
Kecuali anda yakin ada kekuatan tersembunyi dlm masyarakat, tanpa parpol ada 
capres brilian, semacam Ahok (indipenden) yg bisa dapatkan dukungan kuat rakyat 
banyak? Apa ada? Tidak nampak akan terjadi dalam penglihatan saya, .... 
 
 

 
 Jonathan Goeij 於 21/3/2019 8:21 寫道:
  
 
  kalau anda cuman berkata kemungkinan besar menurut anggapan anda ya tdk usak 
pemilu lha wong pd  akhirnya ya cuman 1 orang yg jd presiden. 
  kalau ada banyak calon darimana anda tahu pada akhirnya cuman Jokowi vs. 
Prabowo? 
  
      On Wednesday, March 20, 2019, 5:07:26 PM PDT, ChanCT <sadar@...> wrote:  
  
     
Bukankah kemungkinan besar yang terjadi, tanpa Threshold  Presiden dan 
katakanlah jadi muncul 4-5 capres sekalipun, akhirnya akan  mengerucut 01 dan 
02 juga seperti sekrang ini.  Itulah kekuatan-kekuatan yg nampak bertarung 
dalam koalisi yg terjadi  sekarang ini. Adanya threshold hanya mempercepat 
proses tidak usah/kurangi kemungkinan terjadi pemilihan putaran  kedua, ...
 
 Jonathan Goeij 於 21/3/2019 1:26 寫道:
  
 
     
  anda justru memberikan contoh akibat dari threshold, tidak tahu  sebenarnya 
anda beropini setuju atau tidak setuju threshold. 
  kutipan: Sedang untuk tingkat perjuangan sekarang  ini, pemilu serentak, 
pileg dan pilpres 2019, 17 April 2019  yad, tidak ada pilihan lain kecuali Kubu 
01  dan 02! Tidak ada alternatif lain, ... GOLPUT juga TIDAK  merubah hasil 
pemilu! Jadi BETUL kata romo Magnis, yang dihadapkan pada rakyat bukan memilih 
yang  terbaik, tapi jangan biarkan yang terjelek berkuasa!
  
  
      On Wednesday, March 20, 2019, 12:11:27 AM PDT, ChanCT <sadar@...> wrote:  
  
     
Dengan threshold Presiden  dihapus, bisakah menyelesaikan  soal??? Saya TIDAK 
yakin! Bukan disini DASAR  masalahnya. Dengan munculnya  "demokrasi" yg 
melahirkan 16  Parpol dalam pemilu kali ini,  menunjukkan KESADARAN masyarakat  
akan demokrasi masih  amburadul! BELUM berhasil mengerucut  dalam 3-4 parpol, 
begitu  beda sedikit saja harus bentuk parpol  tersendiri, dan entah apa dasar 
perbedaannya lagi, ... ini  pertama.
 
Kedua, kehidupan DEMOKRASI  tidak berarti pemilihan Presiden  langsung, sebalik 
saya  melihat presiden yg keluar dalam  kenyataan tetap TIDAK BISA mewakili 
suara rakyat mayoritas  dalam arti sesungguhnya, apalagi  bekerja untuk 
kepentingan  rakyat banyak. Belum lagi yg dipersoalkan  kenyataan jumlah suara  
pemenang tidak pernah bisa melebihi suara  GOLPUT, yg tidak ikut  bersuara, 
...!!! Padahal pengeluaran  DANA dan energi yang begitu BESAR untuk pemilu yg 
dibanggakan  PESTA DEMOKRASI itu jadi sangat  TIDAK MEMADAI!
 
Ketiga, rakyat Indonesia  masih perlu belajar dalam perjalanan  demokrasi ini 
untuk  menyimpulkan dan menemukan sendiri  demokrasi melahirkan pemimpin yg 
dianggap paling baik.
 
Sedang untuk tingkat perjuangan  sekarang ini, pemilu serentak,  pileg dan 
pilpres 2019,  17 April 2019 yad, tidak ada pilihan lain  kecuali Kubu 01 dan 
02!  Tidak ada alternatif lain, ...  GOLPUT juga TIDAK merubah hasil pemilu! 
Jadi BETUL kata romo  Magnis, yang dihadapkan pada rakyat  bukan memilih yang 
terbaik,  tapi jangan biarkan yang terjelek  berkuasa! 
 
 

 
 

 
 Jonathan Goeij 於 19/3/2019 22:37 寫道:
  
 
     Hapus threshold. 
  
      On Tuesday, March 19, 2019,  1:23:24 AM PDT, ChanCT <sadar@...> wrote:  
  
     
Lalu, ... selama hampir 74  tahun ini Indonesia dikuasai  siapa???
 
Kalau dua-duanya sama saja,  bagaimana cara mengeluarkan dan menangkan pilihan 
ke-3, pilihan  lain???
 
 

 
 jonathangoeij@... [GELORA45] 於 19/3/2019  11:51 寫道:
  
      

 
 Si Ramli omong kosong, jika  Prabowo menang juga akan sama.  
 
 ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
 
     
Rizal Ramli: Jika Jokowi Menang, China Akan Kuasai Indonesia
 
  Maret 17, 2019 18:49 
  Jakarta, aktual.com – Ekonom senior Rizal Ramli, sebut pemerintah Presiden 
Joko Widodo dan tokoh-tokoh di belakangnya  dipengaruhi pemerintah China dalam  
sektor ekonomi.  Sehingga, jika Jokowi menang dalam Pilpres  2019 ini, Tiongkok 
akan  menguasai Indonesia. 
  “Bila Jokowi menang dalam  pemilihan presiden mendatang,  China akan semakin 
dalam  menguasai Indonesia,” ujar Rizal di  kediamannya, di Jakarta Selatan, 
ditulis Minggu (17/3). 
  Rizal menceritakan sedikit  pengalamannya saat menjabat sebagai Menko  
Maritim dan Sumber Daya  pada kurun 2015-2016. 
  Di masa itu, Kementerian  yang dipimpin Rizal memberikan  nama baru untuk 
perairan  Indonesia di sebelah utara Pulau Natuna,  Kepulauan Riau. 
  “Laut Natuna Utara dimasukkan  dalam peta baru NKRI, karena wilayah  perairan 
itu sudah sah  menjadi milik kita setelah dicapai  kesepakatan dengan 
negara-negara tetangga,” cerita Rizal. 
  Tapi, sambung dia, saat itu ada  anggota Kabinet yang keberatan,  karena 
mempertimbangkan  keberatan China. Tidak hanya  keberatan, anggota kabinet ini 
juga mengusulkan  agar China diberi hak perikanan  khusus di perairan itu. 
  Nama Laut Natuna Utara akhirnya  tetap digunakan dalam peta  baru NKRI. 
  Kini setelah berada di luar  Kabinet, Rizal melihat kelompok yang  memiliki 
hubungan dekat  dengan China begitu dominan. 
  “Kita harus hati-hati  dengan strategi loan to own China.  Di beberapa negara 
mereka  membantu proyek-proyek yang sudah  pasti tidak untung. Setelah itu 
mereka akan memilikinya,”  kata Rizal lagi. 
  Di sisi lain, Rizal juga  tidak setuju dengan konsepsi Indo  Pacifik yang 
menurutnya  mengekspresikan kepentingan Amerika  Serikat di kawasan.Menurutnya, 
 di masa depan Indonesia harus menyusun  konsepsi baru yang memungkinkan 
Indonesia merebut  kembali posisi sebagai pemain kunci di  kawasan.
  
  (Zaenal Arifin)
  
         
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

                    
 
   
 
      

Kirim email ke