Beberapa hari menjelang pilpres 2014 Frans Magnis menulis surat terbuka yang intinya tidak mau Prabowo menang. Alasannya bukan karena tidak setuju program atau meragukan pribadi Prabowo tapi ketakukan kalau Prabowo harus bayar utang kepada partai-partai pendukung (al. disebut PKS, PPP, Golkar) sehingga kemenangannya akan membawa masyarakat kembali ke masa kekuasaan Orba.
Lucu juga, sekarang menjelang pilpres 2019 Frans Magnis seperti membutakan dirinya terhadap kekuatan politik Orba yang lengkap berkumpul di belakang Jokowi (PPP, Golkar, PDIP). Jangan salahkan orang memilih abstain/golput karena sikap para tokoh yang tidak jelas keberpihakannya selain memamerkan fanatisme buta. --- jonathangoeij@... wrote: Hoax itu dari anda. Bukankah anda yang menyebut "Romo Magnis pikirannya laen. Dia pengkritik keras Jokowi, tetapi menyerukan jangan golput krn tidak mau Prabowo menang." tetapi tidak ada dalam tulisan ataupun YouTube video Romo Magnis yg mengatakan "tidak mau Prabowo menang" Kalau ini bukan hoax terus apa? memfitnah Romo Magnis? --- nesare1@... wrote : Kalau itu hoax ya buktikan dari mana itu hoax! Nesare From: Jonathan Goeij Hoax darimana Romo Magnis "tidak mau Prabowo menang"? --- nesare1@... wrote : Ente ini maen2 aja sukanya krn memang kesukaannya: nyinyir! Ente ini sukanya menyerang orang tanpa argument, maen2 bahasa sedangkan bukan itu substansinya. Koq yg dipersoalkan adalah istilah golput. Gak ada artinya istilah golput itu. Tetapi kalau lihat substansinya kenapa orang golput dan atau tidak golput, itu baru relevan. Golput itu bisa pilihan dan bisa juga bukan pilihan krn orangnya apolitis dan atau gak ngerti politik. Yang ente dan siajek persoalkan itu kan golput sbg pilihan politis. Orang baduy dan atau suku2 dipedalaman itu gak pusing sama politik. Ini juga kelompok golput yg gak urusan sama politik. Keluarga gus dur juga yg dulunya ada yg sadar golput sbg pilihan, sekarang tidak golput. Kenapa? Karena pilihannya ada. Dulu mereka tidak melihat adanya pilihan yg terbaik. Romo Magnis pikirannya laen. Dia pengkritik keras Jokowi, tetapi menyerukan jangan golput krn tidak mau Prabowo menang.. Itu saja pilihan politik Romo Magnis. Simple dan politis. Siajeg teriak2 golput itu krn ego….ini istilah Romo Magnis loh (Yang dia pikirkan adalah kariernya sendiri. Nasib negara dia tak peduli.) hehehehehe. Siajeg itu gak suka Jokowi krn Jokowi bukan KIRI. Ini jalur politiknya siajeg. Romo Magnis jelas agamais dan bukan kiri makanya jalan pikiran politiknya berbeda. Ya silahkan saja dukung mendukung, tetapi kalau hanya nyinyir kayak ente ini ya lucu saja. Nesare From: Jonathan Goeij lho....... yang barusan usul siapa? Sekarang anda setuju dengan golput? On Wednesday, March 20, 2019, 11:32:33 PM PDT, ChanCT wrote: Bisa dikatakan, sudah tidak ada orang yang waras mau mengakui pemilihan dimasa ORBA Soeharto dan PANTASLAH ketika itu dilawan dengan GOLPUT! jonathangoeij@... 於 21/3/2019 10:53 寫道: Indonesia sdh menjalankan pemilihan presiden yg anda sebut selama 32 tahun. --- SADAR@... wrote : Untuk pemilihan Presiden, khusus bagi negara besar dan rakyat yg begitu banyak, ... jauh akan lebih baik dipilih melalui MPR, secara musyawarah perwakilan saja! RAKYAT banyak TIDAK akan mampu mengenal dan memilih seorang capres dengan baik hanya dari masa perkenalan, masa propaganda, masa debat yg hanya sebulan atau beberapa bulan itu saja! Capres begitu banyaknya TAK ADA ARTInya, karena tetap parpol besar yg bermain menentukan dan kesitulah akan mengerucut! Akhirnya memang sulit, sangat sulit untuk mengatakan tidak akan terjadi dagang sapi dan politik uang, ... Dengan kata lain, pemilihan Presiden secara langsung begitu TIDAK menjamin keluar Presiden yg BAIK! Saya perhatikan, lebih baik cara RRT, capres keluar dari gubernur propinsi yg BERHASIL dan ditentukan KRN saja, akan lebih menjamin keluar Presiden yg BAIK dan berkemampuan membawa negara lebih maju! jonathangoeij@... 於 21/3/2019 9:22 寫道: anda bisa juga melihat threshold itu memang yg bikin tdk ada calon lain, sampai kapanpun juga ya tdk ada calon brilliant yg ada calon dagang sapi. calon akan selalu ada, saat ini di US sudah ada 605 presidential candidates yg mencalonkan diri utk pemilu 2020 th depan, yg nantinya mengerucut jadi sekian puluh orang kemudian mengerucut lagi. Obama th 2008 juga awalnya tidak diperhitungkan sama sekali. --- SADAR@.... wrote : Lha, ... kan nampak jelas yang terjadi dengan adanya threshold itu, dan karena tidak ada parpol yg memenuhi syarat keluarkan capres jadi harus lakukan koalisi, dalam perembukan itu kan cuma ada 2 capres yg keluar, mau bikin capres ke-3 juga tidak berani, ...! Itulah peraduan kekuatan yg terjadi dalam masyarakat, sekalipun ada beberapa parpol yg tampilkan capres, akhirnya akan mengerucut pada capres yg masih bisa diterima bersama. Maka dalam pilpres putaran ke-2 akan muncullah spt. yg keluar sekarang ini hanya kubu 01 dan kubu 02 itu. Kecuali anda yakin ada kekuatan tersembunyi dlm masyarakat, tanpa parpol ada capres brilian, semacam Ahok (indipenden) yg bisa dapatkan dukungan kuat rakyat banyak? Apa ada? Tidak nampak akan terjadi dalam penglihatan saya, ....
