Musyawarah itu berunding bukan lobi yg artinya adalah proses. Mufakat itu 
sepakat yg artinya adalah keputusan. Musyawarah RI tidak sama dengan lobi di 
USA. Mufakat di RI tidak sama dengan consensus di USA.

Rembug desa itu keputusannya = mufakat itu sbg hasil dari proses perundingan 
rakyat yg gak pernah kedengaran via voting, dan ini berbeda dgn hasil consensus 
yg dicapai di USA krn lobi yg bisa melalui voting. Ini konsepnya berbeda sekali!

 

Jadi jangan disamakan hal2 yg tidak sama!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Friday, March 22, 2019 4:09 AM
To: GELORA45 <[email protected]>
Subject: demokrasi musyawarah Re: [GELORA45] Rizal Ramli: Jika Jokowi Menang, 
China Akan Kuasai Indonesia

 

  

Musyawarah itu mencari titik temu dari perbedaan yang ada. Secara prinsip tidak 
berbeda dengan lobi yang maksudnya jelas untuk mencapai kesepakatan. Dengan 
tujuan, menyatukan pemikiran dan langkah bersama, bukan sekedar mencapai 
keputusan. Contoh gemilangnya dalam sejarah Indonesia adalah dicabutnya Piagam 
Jakarta. Atau barangkali lobi-lobi dalam electoral college pada pemilihan 
presiden AS.

 

Jadi, pemilihan presiden oleh suatu lembaga (di dalamnya pasti ada musyawarah / 
lobi), bukan karena besarnya negara atau banyaknya jumlah Rakyat, melainkan 
untuk menyamakan pemikiran dan langkah yang akan diambil negara bersangkutan. 
Contohnya, Singapura. Presiden di negara sekecil itu pada awalnya juga dipilih 
oleh parlemen. Persoalan utamanya karena mereka butuh konsolidasi dari 
keanekaragaman warganya. Barangkali setelah konsolidasi sudah mereka anggap 
selesai, barulah presiden dipilih langsung mulai tahun 1993.

 

Tetapi jabatan presiden di Singapura kan kepala negara simbolik. Kekuasaan 
pemerintahnya ada di tangan sang perdana menteri - yang sampai sekarang kurang 
jelas bagaimana sistem pemilihan / penunjukannya, karena lawan-lawan politik 
PAP tetap menganggap berbau nepotisme. Biarlah mereka selesaikan sendiri 
persoalan rumahtangga mereka. Tidak ada pihak luar yang boleh mencampuri. 

 

Artinya, tidak ada cara tunggal pemilihan pemimpin yang berlaku untuk semua 
komunitas / negara. Justru aneh kalau demokrasi malah menyeragamkan cara 
pemilu. Sangat disayangkan memang, Indonesia sekarang seperti baru belajar 
mengeja politik. 

 

Inilah realita yang harus dihadapi dan diatasi, supaya tidak ada lagi tokoh 
masyarakat yang membutakan diri terhadap kepentingan bersama.

 

 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

pembicaraan anda melebar ke-mana2, kalau anda mau menggali lebih dalam lagi 
memangnya Soeharto bisa mempunyai kekuasaan darimana asalnya bukankah karena 
diangkat Soekarno, juga seandainya Soekarno tidak pasrah bongkokan memangnya 
Soeharto bisa naik?

 

dari threshold lari ke musyawarah mufakat terus lari kemana lagi?

 

begini ya, musyawarah mufakat itu artinya suara bulat semuanya mufakat satu 
saja tidak setuju ya tidak bisa, ini adalah suatu hal yg tidak mungkin dalam 
masyarakat demokrasi karena pasti ada suara yg berbeda. yg bisa ya dibikin 
mufakat yg diangkat suaranya sama para yes men kalau ada yg berbeda ya 
disingkirkan diganti. jadinya ya seperti yg sdh dialami 32 tahun itu.

 

On Thursday, March 21, 2019, 11:25:13 PM PDT, ChanCT wrote:

 

Lha,. ... dari awal mula saat naik singgasana kekuasaan Soeharto saja sudah 
lebih dahulu melangkahi jutaan jiwa rakyat dengan melanggar DEMOKRASI tanpa 
pedulikan HAM, bagaimana bisa dikatakan melanjutkan MPRS ditahun 1966-1971 itu, 
dan keputusan nya dinyatakan tetap sah kalau MPRS itu sudah lebih dahulu 
dirombak senak udelnya sendiri, dengan menghilangkan Ketua MPRS, Chaerul Saleh 
dan DN Aidit, lalu menyingkirkan/menangkapi lebih 60% anggota MPRS yang dituduh 
PKI dan Soekarnois, kemudian menggantikannya dengan begundal-begundalnya 
sendiri! 

Bagaimana masih ada musyawarah perwakilan lagi, kalau semua diatur dan dibawah 
ancaman, ... dengan menegakkan suara tunggal!

Jonathan Goeij 於 22/3/2019 10:05 寫道:

 

Soeharto melakukan demokrasi palsu atau asli tergantung anggapan siapa, yg 
jelas sdh dilakukan 32 tahun secara sadar oleh masyarakat, dan juga sesuai 
musyawarah perwakilan yg anda usulkan dibawah. 

 

Pilpres langsung juga sesuai keputusan musyawarah MPR, musyawarah MPR juga yg 
telah mengubah konstitusi pemilihan presiden jadi secara langsung

 

On Thursday, March 21, 2019, 6:52:51 PM PDT, ChanCT wrote:

 

Yang jadi masalah, masa ORBA Soeharto berlakukan otokrasi dengan demokrasi 
palsu, ... sedang DEMOKRASI yang hendak dijalankan HARUS sesuai dengan 
KESADARAN masyarakat itu sendiri! Juga jangan mutlakkan dan gunakan demokrasi 
dinegara maju apalagi dipaksakan harus ikuti pilpres langsung, tanpa peduli 
kondisi yg jelas berbeda. Padahal di AS sendiri juga terbukti tidak bagus amat, 
...!

 

Jonathan Goeij 於 21/3/2019 22:44 寫道:

 

lho....... yang barusan usul siapa?

Sekarang anda setuju dengan golput?

 

 

On Wednesday, March 20, 2019, 11:32:33 PM PDT, ChanCT wrote:

 

Bisa dikatakan, sudah tidak ada orang yang waras mau mengakui pemilihan dimasa 
ORBA Soeharto dan PANTASLAH ketika itu dilawan dengan GOLPUT!

 

 <mailto:[email protected]> jonathangoeij@... 於 21/3/2019 10:53 寫道:

Indonesia sdh menjalankan pemilihan presiden yg anda sebut selama 32 tahun.

---  <mailto:SADAR@...> SADAR@... wrote :

Untuk pemilihan Presiden, khusus bagi negara besar dan rakyat yg begitu banyak, 
... jauh akan lebih baik dipilih melalui MPR, secara musyawarah perwakilan 
saja! RAKYAT banyak TIDAK akan mampu mengenal dan memilih seorang capres dengan 
baik hanya dari masa perkenalan, masa propaganda, masa debat yg hanya sebulan 
atau beberapa bulan itu saja! Capres begitu banyaknya TAK ADA ARTInya, karena 
tetap parpol besar yg bermain menentukan dan kesitulah akan mengerucut! 
Akhirnya memang sulit, sangat sulit untuk mengatakan tidak akan terjadi dagang 
sapi dan politik uang, ... 

Dengan kata lain, pemilihan Presiden secara langsung begitu TIDAK menjamin 
keluar Presiden yg BAIK! Saya perhatikan, lebih baik cara RRT, capres keluar 
dari gubernur propinsi yg BERHASIL dan ditentukan KRN saja, akan lebih menjamin 
keluar Presiden yg BAIK dan berkemampuan membawa negara lebih maju!

 



Kirim email ke