Kocak, 3 presiden terakhir, MSP; SBY; JKW, kerjanya ambil gaji terus sambil 
ngeluh melulu. 
Keluarkan dekrit dong, kembali ke UUD'45. Bebaskan bangsa ini dari belenggu 
imperialisme dan penindasan neolib yang nyusup dalam UUD amandemen! 
Malu sedikitlah sama anak-anak "black metal" / "anarko" yang malah mau kalian 
jadikan kambing hitam baru. 
Beraninya kok sama anak sekolah.
--- 

Jokowi Mengeluh Atasi 20 Tahun Defisit Neraca Pembayaran
CNN IndonesiaKamis, 09/05/2019 15:28

Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan 
ketidakmampuan jajaran menteri di kabinet kerja menyelesaikan masalah utama 
perekonomian Indonesia selama 20 tahun terakhir. Masalah itu, yakni defisit 
neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran.

"Kita (Indonesia) sudah 20 tahun tidak bisa mengatasi defisit neraca 
perdagangan dan defisit neraca pembayaran karena ekspor dan investasi. Dua hal 
ini tidak bisa diselesaikan dengan baik," ucap Jokowi, Kamis (9/5). 

Menurut Jokowi, penyebab defisit neraca perdagangan dan pembayaran sebenarnya 
sudah diketahui oleh para pembantunya, yakni ketidakmampuan menggenjok ekspor 
dan investasi. 

Ia juga mengaku sudah sering meminta jajaran menteri Kabinet Kerja untuk fokus 
meningkatkan kedua indikator tersebut. Caranya, dengan menyederhanakan seluruh 
proses perizinan investasi yang selama ini masih terlalu 'ruwet', baik di pusat 
maupun di daerah. 

Menurut dia, proses perizinan yang panjang kerap membuat para investor enggan 
mengalirkan modalnya ke Indonesia untuk membangun industri. Padahal, investasi 
memegang peranan penting dalam pembangunan industri, termasuk industri yang 
berorientasi ekspor dan subtitusi impor. 

Mantan walikota Solo ini mengatakan industri berbasis ekspor diperlukan agar 
Indonesia tidak melulu dirundung defisit perdagangan dari negara mitra dagang. 
Sementara industri subtitusi impor juga diperlukan agar neraca pembayaran tidak 
defisit karena harus menanggung transaksi impor produk dari luar negeri. 

"Kalau dua itu bisa diselesaikan, tinggal tutup mata itu. Kemarin saya ngomong 
sama menteri-menteri untuk ekspor dan subtitusi impor itu kalau perlu tidak 
pakai izin. Jengkel saya, soalnya kalau tidak bisa selesaikan yang sudah 
terlihat," katanya. 

Dari sini, Jokowi ingin jajaran menteri dan para pihak terlibat, seperti kepala 
daerah mulai mengevaluasi segala kebijakan yang berdampak pada perizinan 
investasi dan pembangunan industri. 

"Sekali lagi, saya mengajak, ini problemnya sudah kelihatan, tantangannya sudah 
kelihatan, tinggal kita (Indonesia) mau atau tidak untuk selesaikan problem dan 
tantangan ke depan ini," pungkasnya.

(uli/agi)

Kirim email ke