Pertanyaan mendasar yang mutlak harus dijawab lebih dahulu kalau TIDAK HENDAK undang modal asing: Apakah Indonesia cukup MODAL dan TEKNOLOGI yang diperlukan bangun segala macam pabrik/industri??? Atau bung hendak bangun dengan merangkak, dimulai bangun dari kecil-kecilan dengan kerajinan-tangan secara kekeluargaan saja dahulu, ...?

Kenapa bung TIDAK menarik pelajaran dimana KESAHALAN Soeharto selama 32 tahun itu, memasukkan modal-asing, dan menjadikan diri BUDAK ASING, segelintir kelompok Cendana makmur-meriah, ... dengan membiarkan rakyat banyak papa-miskin??? Lalu jalan keluarnya jadi ANTI-Modal asing?


ajeg [email protected] [GELORA45] 於 17/5/2019 5:00 寫道:
Ya, seperti di kelas bangunan yang ada ajaran tentang kuda-kuda dan pondasi begitu juga di ekonomi, diajarkan bahwa kekuatan ekonomi tergantung pondasinya, al. produksi. Tanpa ada produk ya buruh pelabuhan tidak punya kegiatan angkat barang untuk dimuat ke kapal, untuk diekspor. Kerjanya lebih banyak untuk membongkar turun barang impor dari kapal. Alias neraca jomplang, sestabil apa pun mata uangnya.

Jangan tanya kenapa Indonesia tidak punya produk andalan ekspor selain merk asing berstempel "made in Indonesia". Simak saja pernyataan sejumlah perwira muda TNI yang lumayan menarik bahwa yang harus diperjuangkan dan dipertahankan adalah, membangun Indonesia; bukan membangun "di" Indonesia!

Entah apa Mega-PDIP-Jokowi paham dikritik begini atau tetap nyenyak di ketek SBY. Alias banteng dikadali kebo.

--- jonathangoeij@... wrote:

    Rasanya tergantung kelas apa yang diambil dan apakah menyimak
    pelajaran yang diberikan dengan baik.

    Dalam pelajaran ekonomi mikro/bisnis ada yang namanya currency
    exposure yg ikut mempengaruhi, seberapa banyak kandungan barang
    produksi itu yang terpengaruh. Dus disini ada content import ada
    lokal, content lokal-pun bisa juga terpengaruh harganya jadi lebih
    mahal.

    Sedang dalam pelajaran ekonomi makro mesti dilihat dulu komoditas
    eksport Indonesia yang dominan apa saja. Misalnya saja dari
    berbagai berita banyak mengandalkan export CPO, sedangkan sawit
    lagi diboikot, sehingga dipaksakan dipakai didalam negeri dalam
    bentuk B-20. Jadi mesti dilihat dulu dgn cermat komoditas andalan
    export itu apa saja.

    Cuman tidak tahu apa benar reuni-an eks Indonesia akan bisa
    meningkatkan devisa yg berarti?
    Jadi garuk2 kepala yang tidak gatal bacanya:).

    Rupiah melemah sudah terjadi ber-kali2 ber-tahun2 bahkan puluhan
    tahun. Herannya narasi rupiah melemah eksport menguat kok terus
    menerus didengungkan. Bukankah kalau begitu sudah jadi negara
    peng-export yang luar biasa kuatnya?

    Benar juga "Kocak, banteng dikadali kebo."
    *
    *
    *
    *
    *From:* ajeg

    Oh itu biasa. Di dalam kelas semua harus terlihat gampang. Begitu
    kelar sekolah nah barulah kena plonco kenyataan. Yang nggak pake
    otak biasanya tetap jadi plonco, atau ikut-ikutan jadi maling.
    Yang nggak punya otak pasti tepuk dada merasa paling pinter
    sedunia. Di kelas, bisa jadi betul dicekoki "nilai mata uang turun
    AKAN mendongkrak ekspor". Di dunia nyata, buruh pelabuhan
    bertanya-tanya, mana dia produk yang mau dimuat ke kapal...???

    Di warung-warung kopi orang bosan mengingatkan. Sekarang bisanya
    tinggal nyruput kopi ketawa-tawa nonton Megawati-PDIP-Jokowi
    jejingkrakan buka puasa-kekuasaan di ketek SBY.

    Kocak, banteng dikadali kebo.

    --- jonathangoeij@... wrote:

    Apa bukannya ada orang pinter yang bilang dengan nilai rupiah
    turun export akan meningkat, tapi.... kok neraca dagang tekor?

    Setidaknya Jokowi masih jujur waktu bilang "Neraca dagang tekor,
    *Jokowi: bodoh banget kita*"

    --- ajegilelu@... wrote :

    UUD neolib / amandemen mengamanatkan pemerintah bekerja lebih
    keras untuk pengusaha dan petani asing daripada membangun pondasi
    ekonomi sendiri. Kerja-kerja-kerja impor-impor-impor (bayar dg
    dollar). Bila perlu petani dan sopir truk pun impor.

    Persetan dengan HAM buruh / tenagakerja sendiri. Persetan jugalah
    dengan korban kejahatan HAM '65 dst.

    Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh banget kita
    
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita

    --- ilmesengero@... wrote:
    *
    *
    *Kalau tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka cara terbaik untuk
    mengatasi persoalan ialah /mengeluh/ supaya insyaalloh terjadi
    mukajizat. hehehehehehe*
    *
    *
    *
    *




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke