Seingatnya Indonesia itu negara agraris, seharusnya agriculture pertanian 
peternakan sebangsanya merupakan fondasi ekonomi.Bagaimana nasibnya sekarang?
California jadi kekuatan ekonomi terbesar ke 5 didunia salah satu fondasinya 
adalah agriculture pertanian peternakan itu.

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Ya, seperti di kelas bangunan yang ada ajaran tentang kuda-kuda dan pondasi 
begitu juga di ekonomi, diajarkan bahwa kekuatan ekonomi tergantung pondasinya, 
al. produksi. Tanpa ada produk ya buruh pelabuhan tidak punya kegiatan angkat 
barang untuk dimuat ke kapal, untuk diekspor. Kerjanya lebih banyak untuk 
membongkar turun barang impor dari kapal. Alias neraca jomplang, sestabil apa 
pun mata uangnya. 
Jangan tanya kenapa Indonesia tidak punya produk andalan ekspor selain merk 
asing berstempel "made in Indonesia". Simak saja pernyataan sejumlah perwira 
muda TNI yang lumayan menarik bahwa yang harus diperjuangkan dan dipertahankan 
adalah, membangun Indonesia; bukan membangun "di" Indonesia!
Entah apa Mega-PDIP-Jokowi paham dikritik begini atau tetap nyenyak di ketek 
SBY. Alias banteng dikadali kebo.
--- jonathangoeij@... wrote:

 

Rasanya tergantung kelas apa yang diambil dan apakah menyimak pelajaran yang 
diberikan dengan baik.
Dalam pelajaran ekonomi mikro/bisnis ada yang namanya currency exposure yg ikut 
mempengaruhi, seberapa banyak kandungan barang produksi itu yang terpengaruh. 
Dus disini ada content import ada lokal, content lokal-pun bisa juga 
terpengaruh harganya jadi lebih mahal.
Sedang dalam pelajaran ekonomi makro mesti dilihat dulu komoditas eksport 
Indonesia yang dominan apa saja. Misalnya saja dari berbagai berita banyak 
mengandalkan export CPO, sedangkan sawit lagi diboikot, sehingga dipaksakan 
dipakai didalam negeri dalam bentuk B-20. Jadi mesti dilihat dulu dgn cermat 
komoditas andalan export itu apa saja.
Cuman tidak tahu apa benar reuni-an eks Indonesia akan bisa meningkatkan devisa 
yg berarti?Jadi garuk2 kepala yang tidak gatal bacanya:).
Rupiah melemah sudah terjadi ber-kali2 ber-tahun2 bahkan puluhan tahun. 
Herannya narasi rupiah melemah eksport menguat kok terus menerus didengungkan. 
Bukankah kalau begitu sudah jadi negara peng-export yang luar biasa kuatnya?
Benar juga "Kocak, banteng dikadali kebo."

From: ajeg 
Oh itu biasa. Di dalam kelas semua harus terlihat gampang. Begitu kelar sekolah 
nah barulah kena plonco kenyataan. Yang nggak pake otak biasanya tetap jadi 
plonco, atau ikut-ikutan jadi maling. Yang nggak punya otak pasti tepuk dada 
merasa paling pinter sedunia. Di kelas, bisa jadi betul dicekoki "nilai mata 
uang turun AKAN mendongkrak ekspor". Di dunia nyata, buruh pelabuhan 
bertanya-tanya, mana dia produk yang mau dimuat ke kapal...???
Di warung-warung kopi orang bosan mengingatkan. Sekarang bisanya tinggal 
nyruput kopi ketawa-tawa nonton Megawati-PDIP-Jokowi jejingkrakan buka 
puasa-kekuasaan di ketek SBY.
Kocak, banteng dikadali kebo.
--- jonathangoeij@... wrote:
Apa bukannya ada orang pinter yang bilang dengan nilai rupiah turun export akan 
meningkat, tapi.... kok neraca dagang tekor?
Setidaknya Jokowi masih jujur waktu bilang "Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh 
banget kita"
--- ajegilelu@... wrote :
UUD neolib / amandemen mengamanatkan pemerintah bekerja lebih keras untuk 
pengusaha dan petani asing daripada membangun pondasi ekonomi sendiri. 
Kerja-kerja-kerja impor-impor-impor (bayar dg dollar). Bila perlu petani dan 
sopir truk pun impor.
Persetan dengan HAM buruh / tenagakerja sendiri. Persetan jugalah dengan korban 
kejahatan HAM '65 dst.
Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh banget 
kitahttps://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita
--- ilmesengero@... wrote:
Kalau tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka cara terbaik untuk mengatasi 
persoalan ialah mengeluh supaya insyaalloh terjadi mukajizat. hehehehehehe



Kirim email ke