Oh begitu. Jadi ente gak bertanya artinya ente sudah tahu jawabannya kan?

 

Okay sekarang ane yg menjawab “kenapa di era Joko 'PMA' Widodo defisit neraca 
perdagangan dan pembayarannya kayak gini.”.

 

Deficit perdagangan itu adalah eksport dan import. Gampang sekali jawabannya 
penyebab deficit itu adalah: eksport lebih kecil drpd import.

 

Sudah puas belum?

Skrg ane tanya krn ente kan sudah tahu jawabannya kan?! Ente ngomong sendiri 
loh bilang ente gak bertanya dan minta penjelasan.

Pertanyaan ane: kenapa eksport bisa lebih rendah drpd import?

Lalu kenapa ente menggoblok2an Jokowi dgn adanya deficit ini?

 

Ayo jawab! Eh pasti ente lari lagi!

 

Nih ane jawab versi ane ya: eksport gak akan naik kalau industry eksport barang 
produksinya tidak ada atau tidak bisa bersaing. Import akan terus ada kalau ada 
scarcity dalam negeri. Ini saja sudah cukup. Yg laen2 mah banyak sekali  ttg 
eksport spt: masalah persaingan dgn negara lain, trade war usa vs cina, 
kwalitas barang eksport, system perdagangan international, GSP/general system 
of preference, system pajak dll. Begitu juga masalah import yg bejibun spt: 
proses import yg digampangkan, demand atas barang dari luar negeri meningkat, 
lebih murah import dll.

 

Oh ya yg diatas hanyalah omongan orang kasar yg sekolah loh. Gampangnya aja 
biar ente yg gak ngerti ekonomi bisnis bisa mengerti lebih mudah.

 

Kalau mau versi orang sekolahan ada juga. Balance of trade itu dipengaruhi 
berbagai faktor dalam international trade. Ini dari masalah produktifitas, 
trade policy, exchange rates, forex reserves, demand, inflation dll. Faktor yg 
penting sbg dasar adalah labor (ini masalah skilled labor dan low cost labor. 
Ini dasar orang bikin teori comparative economy competitive economy dll), 
tanah/natural resources dan capital nah inilah faktor yg ente pake’ buat 
nyinyir yaitu infrastruktur dan production capacity.

 

Udahan cukup ya kepanjangan. Ane nulisnya aja capek. Yg laen2 seperti forex 
reserve, trade policy, exchange rates, demand, inflation dll itu cari sendiri 
ya kalau mau pinter. Kalo sudah pinter ente gak akan nyinyir. Kalau gak pinter 
ya ente akan nyinyir terus.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Friday, May 17, 2019 11:55 PM
To: GELORA45 <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Jokowi Mengeluh Atasi 20 Tahun Defisit Neraca 
Pembayaran [1 Attachment]

 

  

Saya tidak bertanya, saya minta Anda menjelaskan:





"Baiknya Anda jelaskan dulu kenapa di era Joko 'PMA' Widodo defisit neraca 
perdagangan dan pembayarannya kayak gini. Sampai BPS menyebut paling buruk 
sepanjang sejarah. Sampai si Joko 'PMA' Widodo sendiri ngaku bodoh banget."



 <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/246849> 
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/246849





Ya rapopo kalau ternyata Anda tidak bisa berpikir / berpendapat / menjelaskan 
soal defisit neraca di era Jokowi. Dengan begitu tentu saja Anda tidak bisa 
mutlak-mutlakan menuntut jawaban dari siapa pun. Apalagi jawaban soal 
"ANTI-Modal asing" sebab tidak ada yang bicara soal anti modal asing di topik 
ini selain Anda sendiri.





Anda cuma boleh coba tunjukkan kalimat saya yang mencerca "Jokowi gak bisa 
kerja, bodoh bahkan difitnah makin terpuruk," seperti dipersepsikan pacar Anda 
yang menggebu-gebu itu, heheh....   
<https://s.yimg.com/nq/yemoji_assets/latest/yemoji_assets/1f60e.png> 











--- SADAR@... wrote:

  

TERIMAKASIH, bung Nesare! Telah membantu menanggapi pertanyaan bung Ajeg 
masalah PMA, ... mari kita bersama-sama ikuti lebih cermat bagaimana dia 
menjelaskan masalah perkembangan ekonomi RI selama 5 tahun terakhir ini, dan 
selalu dicerca Jokowi gak bisa kerja, bodoh bahkan difitnah makin terpuruk, 
sampai-sampai Jokowi sendiri bilang "bodoh banget kita!" Siapa yang BODOH 
sesungguhnya??? Hehehee, ...

nesare'於 17/5/2019 21:42 寫道:

 



Bagus bagus kalau ente mau diskusi ttg trade deficit disini.

Sebelumnya ane mau klarifikasi dulu ya supaya jangan ada fitnah atau pemutaran 
fakta dan opini. Jokowi bilang “bodoh banget kita” itu konteksnya adalah: 
mengajak kita rakyat Indonesia supaya berpikir dan bekerja utk meningkatkan 
investasi dan eksport.

Ente kan lain ente mau menggoblok2kan Jokowi yg gak bisa kerja. Jokowi bodoh 
dan gak pantas jadi presiden. Jelas kan motivasinya walaupun sama2 bilang 
“bodoh”.

Konteks investasi saja ente sudah sangat berseberangan dng Jokowi. Jokowi mau 
ada investasi asing. Ente jelas2 menentang investasi asing.

Masalah eksport gimana bisa mau menaikkan eksport kalau situasi dalam negeri 
masih ribut dari separatism; isfun; anti asing seperti ente; infrastruktur 
jalan yg belum memadai, listrik setengah hari nyala setengah hari mati, air 
susah; tenaga buruh negara laos kamboja lebih murah dll.

Ini semua faktor2 yg mempengaruhi investasi dan eksport.

Jadi yg bikin investasi asing turun dan eksport turun itu adalah “kerjaan” 
orang2 seperti ente ini loh! SADAR TIDAK?!!!

Diatas sudah ane kasih data trade deficit dari 1967 s/d 2019.

Baca sana dan kasih tahu gimana penjelasannya!

Jangan bolak balik jawab pertanyaan orang laen dengan pertanyaan juga!

Yg menyerang orang/Jokowi itu kan ente, jadi kasih argumennya duluan donk. 
Moso’ mau bilang trade deficit sekarang anjlok paling parah dalam sejarah 
Indonesia hanya dgn 1 argumen: Jokowi bilang “bodoh banget kita”. Seakan2 
jokowi bilang dia sendiri dan semua rakyat Indonesia bodoh banget. Jangan 
fitnah kayak ginilah. Kalau ente tahu masalah, Analisa dan solusinya coba 
beberkan disini!

Jangan hanya kerjaanya nyinyir melulu!!!!

Oh ya ane kasih tahu duluan ya, ente gak akan menang debat sama ane ttg trade 
deficit ini. Gak bakalan ente menang! Bukan krn ente minim ilmu bisnis 
ekonominya, tetapi ente SALAH BESAR hanya melihat trade deficit pada satu titik 
saja. Ini persis melihat kurs pada 1 titik saja.

Sedikit saja ya

1.      Dijaman SBY 2012, 2013 itu sudah parah. Trendnya sudah turun dari 
2009/2010.
2.      Dijaman soeharto/orba menurut data diatas sejak 1967 kebanyakan trade 
surplus/positif. Ane tanya hebat ya ekonomi Orba?

Sudah berulang2 kali ane bilang ente gak ngerti bisnis ekonomi. Jangan nyinyir 
Jokowi tanpa ada argument!

Nesare









From: ajeg

 

Baiknya Anda jelaskan dulu kenapa di era Joko 'PMA' Widodo defisit neraca 
perdagangan dan pembayarannya kayak gini. Sampai BPS menyebut paling buruk 
sepanjang sejarah. Sampai si Joko 'PMA' Widodo sendiri ngaku bodoh banget.







--- SADAR@... wrote:

Pertanyaan mendasar yang mutlak harus dijawab lebih dahulu kalau TIDAK HENDAK 
undang modal asing: Apakah Indonesia cukup MODAL dan TEKNOLOGI yang diperlukan 
bangun segala macam pabrik/industri??? Atau bung hendak bangun dengan 
merangkak, dimulai bangun dari kecil-kecilan dengan kerajinan-tangan secara 
kekeluargaan saja dahulu, ...?

Kenapa bung TIDAK menarik pelajaran dimana KESAHALAN Soeharto selama 32 tahun 
itu, memasukkan modal-asing, dan menjadikan diri BUDAK ASING, segelintir 
kelompok Cendana makmur-meriah, ... dengan membiarkan rakyat banyak 
papa-miskin??? Lalu jalan keluarnya jadi ANTI-Modal asing?

 

ajeg 於 17/5/2019 5:00 寫道:

Ya, seperti di kelas bangunan yang ada ajaran tentang kuda-kuda dan pondasi 
begitu juga di ekonomi, diajarkan bahwa kekuatan ekonomi tergantung pondasinya, 
al. produksi. Tanpa ada produk ya buruh pelabuhan tidak punya kegiatan angkat 
barang untuk dimuat ke kapal, untuk diekspor. Kerjanya lebih banyak untuk 
membongkar turun barang impor dari kapal. Alias neraca jomplang, sestabil apa 
pun mata uangnya.

 

Jangan tanya kenapa Indonesia tidak punya produk andalan ekspor selain merk 
asing berstempel "made in Indonesia". Simak saja pernyataan sejumlah perwira 
muda TNI yang lumayan menarik bahwa yang harus diperjuangkan dan dipertahankan 
adalah, membangun Indonesia; bukan membangun "di" Indonesia!







Entah apa Mega-PDIP-Jokowi paham dikritik begini atau tetap nyenyak di ketek 
SBY. Alias banteng dikadali kebo.







--- jonathangoeij@... wrote:

Rasanya tergantung kelas apa yang diambil dan apakah menyimak pelajaran yang 
diberikan dengan baik.

Dalam pelajaran ekonomi mikro/bisnis ada yang namanya currency exposure yg ikut 
mempengaruhi, seberapa banyak kandungan barang produksi itu yang terpengaruh. 
Dus disini ada content import ada lokal, content lokal-pun bisa juga 
terpengaruh harganya jadi lebih mahal.

Sedang dalam pelajaran ekonomi makro mesti dilihat dulu komoditas eksport 
Indonesia yang dominan apa saja. Misalnya saja dari berbagai berita banyak 
mengandalkan export CPO, sedangkan sawit lagi diboikot, sehingga dipaksakan 
dipakai didalam negeri dalam bentuk B-20. Jadi mesti dilihat dulu dgn cermat 
komoditas andalan export itu apa saja.

Cuman tidak tahu apa benar reuni-an eks Indonesia akan bisa meningkatkan devisa 
yg berarti?

Jadi garuk2 kepala yang tidak gatal bacanya:).

Rupiah melemah sudah terjadi ber-kali2 ber-tahun2 bahkan puluhan tahun. 
Herannya narasi rupiah melemah eksport menguat kok terus menerus didengungkan. 
Bukankah kalau begitu sudah jadi negara peng-export yang luar biasa kuatnya?

Benar juga "Kocak, banteng dikadali kebo."

From: ajeg 

Oh itu biasa. Di dalam kelas semua harus terlihat gampang. Begitu kelar sekolah 
nah barulah kena plonco kenyataan. Yang nggak pake otak biasanya tetap jadi 
plonco, atau ikut-ikutan jadi maling. Yang nggak punya otak pasti tepuk dada 
merasa paling pinter sedunia. Di kelas, bisa jadi betul dicekoki "nilai mata 
uang turun AKAN mendongkrak ekspor". Di dunia nyata, buruh pelabuhan 
bertanya-tanya, mana dia produk yang mau dimuat ke kapal...???

Di warung-warung kopi orang bosan mengingatkan. Sekarang bisanya tinggal 
nyruput kopi ketawa-tawa nonton Megawati-PDIP-Jokowi jejingkrakan buka 
puasa-kekuasaan di ketek SBY.

Kocak, banteng dikadali kebo.

--- jonathangoeij@... wrote:

Apa bukannya ada orang pinter yang bilang dengan nilai rupiah turun export akan 
meningkat, tapi.... kok neraca dagang tekor?

Setidaknya Jokowi masih jujur waktu bilang "Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh 
banget kita"

--- ajegilelu@... wrote :

UUD neolib / amandemen mengamanatkan pemerintah bekerja lebih keras untuk 
pengusaha dan petani asing daripada membangun pondasi ekonomi sendiri. 
Kerja-kerja-kerja impor-impor-impor (bayar dg dollar). Bila perlu petani dan 
sopir truk pun impor.

Persetan dengan HAM buruh / tenagakerja sendiri. Persetan jugalah dengan korban 
kejahatan HAM '65 dst.

Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh banget kita

 
<https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita>
 
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita

--- ilmesengero@... wrote:

Kalau tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka cara terbaik untuk mengatasi 
persoalan ialah mengeluh supaya insyaalloh terjadi mukajizat. hehehehehehe

 

 



Kirim email ke