Benar sekali gak boleh hanya menyalahkan pemerintah siapapun kalau hanya mau 
mengkritik masalah kemiskinan, eksport gak jalan, banyak import, rupiah melemah 
dan segrebok masalah2 yg sdh ada dari dulunya.

 

Ini adalah hal2 yg dipakai oleh mereka2 yg either gak ngerti permasalahannya 
atau mengerti dan menggunakannya utk kepentingan politiknya.

 

Kapan orang Indonesia gak miskin. Inikan yg dipakai sbg emak2 yg dipolitisir. 
Goblok enggak? 

Masalah 1965 diplintir menjadi masalah HAM yg tdk mau diurus sedangkan 
permasalahannya luar biasa kompleksnya krn orang2nya masih hidup skrg yg setiap 
saat bisa mengacau yg bisa berakibat NKRI ini pecah (baca: ABRI yg masih 
dominan). 

Begitu juga data 1 titik rupiah, trade deficit dll itu digunakan utk menyerang. 
Sedangkan kalau rupiah menguat, hilang orang2 ini dan gak bilang Jokowi hebat 
hehehehe. Nongol lagi kalau rupiah melemah utk menyerang jokowi. Lucu enggak? 
Begitu juga masalah trade deficit ini juga dipake’ utk menyerang Jokowi. Sudah 
jelas NKRI itu masalahnya banyak importnyalah, eksportnyalah, 1965 lah, korupsi 
lah, separatismelah, isfunlah dll. Pusing loh ngurus NKRI itu. Kalau bukan 
ditangan nasionalisme, saya yakin NKRI akan bubar! Diantara 3 kekuatan NASAKOM 
nya bung Karno, sekarang ini hanyalah nasionalisme yg bisa menjaga keutuhan 
NKRI. Bukan agama dan juga bukan komunisme!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Saturday, May 18, 2019 1:30 AM
To: Gelora45 <[email protected]>; Beng-Hoey Jo <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Jokowi Mengeluh Atasi 20 Tahun Defisit Neraca Pembayaran

 

  

Bung Jo,

Kalau dilihat dari sejarah,  jaman kerajaan Song, waktu negeri dalam damai. 

Penduduknya berkembang pesat, tetapi luas tanah pertanian tidak. Juga tidak 

ada kemajuan dalam teknologi pertanian pada masa itu. Wah, terjadi kelaparan.

Apa Keluarga Berencana jalan baik di Indonesia ? Kok jumlah penduduk meningkat

sekali ? Apa tidak perlu digalakkan lagi.

Dengan jumlah penduduk bertambah banyak, makin sulit untuk bisa memenuhi 

kebutuhan sekolah, universitas, balai kesehatan, rumah sakit, perumahan, 
pangan. dll.

Dengan bertambahnya penduduk semestinya lahanpertanian harus ditambah. 

Lahan pertanian banyak berkurang untuk perluasan infrastruktur,  juga berkurang 

banyak untuk pembangunan daerah-daerah baru.

Ada juga pembangunan sawah2 baru. Tetapi sawah baru itu hasilnya tidak bisa 

optimal di tiga tahun pertama, karena dasar sawahnya belum kedap air. Air dan

pupuk banyak yang hilang meresap lebih lanjut ke dalam tanah., jadi tidak heran

kalau mesti import beras begitu banyak. 

Sekarang dicoba dinaikkan produksinya dengan bibit unggul, pupuk, irrigasi, 
pompa

air.

Apa untuk memenuhi kebutuhan beras tanpa import bisa niru Jepang, dengan 
menjamin

harga beras yang cukup tinggi, menguntungkan petani agar lebih bersemangat 
tanam padi ?

Tetapi itu memberatkan konsumen ? Atau ini sebagian harus disubsidi negara?

Masalah budaya/ moral ya perlu perubahan besar, perlu jelas nilai2 dan 
norma2nya. Orang

perlu tahu tugas, hak dan wewenangnya.

Kalau di perusahaan lebih gampang, lebih cepat dapat diubah kulturnya. Tetapi 
kalau dua

perusahaan yang sangat berbeda kultur bergabung, lebih susah penyesuaiannya.. 
Mungkin

kah di Indonesia begitu sulit karena begitu banyak suku, agama ? Apa dibutuhkan 
suatu

New Cultural Movement seperti di Tiongkok antara tahun 1915- 1925 ?

Di perusahaan dulu orang suka "balas dendam". Kalau ada permintaan suatu 
afdeling, afdeling 

lain berreaksi seenaknya, karena merasa dulu pernah dihambat, "disabotage"oleh 
yang lain.

Jadi dikeluarkan peraturan, permintaan bantuan harus secara tertulis per 
e-mail, dan sudah 

harus dijawab bagian lain sebelum akhir jam kerja. Kalau tidak bisa hari itu 
dilaksanakan, harus

ditulis alasannya. Kalau antara afdeling tidak beres, kepala2 afdeling harus 
menyelesaikan. Kalau

perlu dibawa ke atasan. Setelah itu kok ya hubungan antara afdeling, bahkan 
dengan anak 

perusahaan di kota2 lain berjalan baik.

Kalau anak perusahaan di Inggris bilang terimakasihnya secara tertulis .Kalau 
Jerman selain

tertulis kirim champagne.Kalau dari Indonesia, ada yang kirimi 1 doos besar 
chips nangka.

Orang Belanda yang kerja di Bedrijfsbureau tidak doyan, tidak tahan baunya. 
Jadi dikasihkan ke saya.

Nah, ini betul2 dapat nangka, bukan getahnya........

Salam,

KH

 

 

Pada tanggal Sab, 18 Mei 2019 pukul 02.06 [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > menulis:

  

Negara sudah merdeka 74 tahun dan berganti pemerintah sudah beberapa kali. Khan 
tidak logis kalau yang disalahkan "pemerintah sekarang" yg baru memerintah 
hampir 5 tahun, yg telah menunjukan kemajuan. Yg salah adalah semua rakyat dan 
budaya nya yg membuat negara amburadul. Dimana orang di pemerintahan juga 
asalnya dari rakyat. Hehehe, Hahaha...



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <SADAR@.... 
<mailto:SADAR@...> > wrote :

TERIMAKASIH, bung Nesare! Telah membantu menanggapi pertanyaan bung Ajeg 
masalah PMA, ... mari kita bersama-sama ikuti lebih cermat bagaimana dia 
menjelaskan masalah perkembangan ekonomi RI selama 5 tahun terakhir ini, dan 
selalu dicerca Jokowi gak bisa kerja, bodoh bahkan difitnah makin terpuruk, 
sampai-sampai Jokowi sendiri bilang "bodoh banget kita!" Siapa yang BODOH 
sesungguhnya??? Hehehee, ...

 

'nesare' nesare1@... <mailto:nesare1@...>  [GELORA45] 於 17/5/2019 21:42 寫道:

 

  
<http://xa.yimg.com/kq/groups/S_dAw6HtedUypEvGPQ--/or/JftY623tetmhpDOMooOr/name/image002.png>
   
<http://xa.yimg.com/kq/groups/S_dAw6HtedUypEvGPQ--/or/yxMx5xDtetjURel7WPtQ/name/image001.png>
 

 

Bagus bagus kalau ente mau diskusi ttg trade deficit disini.

Sebelumnya ane mau klarifikasi dulu ya supaya jangan ada fitnah atau pemutaran 
fakta dan opini. Jokowi bilang “bodoh banget kita” itu konteksnya adalah: 
mengajak kita rakyat Indonesia supaya berpikir dan bekerja utk meningkatkan 
investasi dan eksport. 

 

Ente kan lain ente mau menggoblok2kan Jokowi yg gak bisa kerja. Jokowi bodoh 
dan gak pantas jadi presiden. Jelas kan motivasinya walaupun sama2 bilang 
“bodoh”.

 

Konteks investasi saja ente sudah sangat berseberangan dng Jokowi. Jokowi mau 
ada investasi asing. Ente jelas2 menentang investasi asing.

Masalah eksport gimana bisa mau menaikkan eksport kalau situasi dalam negeri 
masih ribut dari separatism; isfun; anti asing seperti ente; infrastruktur 
jalan yg belum memadai, listrik setengah hari nyala setengah hari mati, air 
susah; tenaga buruh negara laos kamboja lebih murah dll.

 

Ini semua faktor2 yg mempengaruhi investasi dan eksport.

 

Jadi yg bikin investasi asing turun dan eksport turun itu adalah “kerjaan” 
orang2 seperti ente ini loh! SADAR TIDAK?!!!

 

Diatas sudah ane kasih data trade deficit dari 1967 s/d 2019.

Baca sana dan kasih tahu gimana penjelasannya!

Jangan bolak balik jawab pertanyaan orang laen dengan pertanyaan juga!

 

Yg menyerang orang/Jokowi itu kan ente, jadi kasih argumennya duluan donk. 
Moso’ mau bilang trade deficit sekarang anjlok paling parah dalam sejarah 
Indonesia hanya dgn 1 argumen: Jokowi bilang “bodoh banget kita”. Seakan2 
jokowi bilang dia sendiri dan semua rakyat Indonesia bodoh banget. Jangan 
fitnah kayak ginilah. Kalau ente tahu masalah, Analisa dan solusinya coba 
beberkan disini!

 

Jangan hanya kerjaanya nyinyir melulu!!!!

 

Oh ya ane kasih tahu duluan ya, ente gak akan menang debat sama ane ttg trade 
deficit ini. Gak bakalan ente menang! Bukan krn ente minim ilmu bisnis 
ekonominya, tetapi ente SALAH BESAR hanya melihat trade deficit pada satu titik 
saja. Ini persis melihat kurs pada 1 titik saja.

 

Sedikit saja ya

1.      Dijaman SBY 2012, 2013 itu sudah parah. Trendnya sudah turun dari 
2009/2010.
2.      Dijaman soeharto/orba menurut data diatas sejak 1967 kebanyakan trade 
surplus/positif. Ane tanya hebat ya ekonomi Orba?

 

Sudah berulang2 kali ane bilang ente gak ngerti bisnis ekonomi. Jangan nyinyir 
Jokowi tanpa ada argument!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>   
<mailto:[email protected]> <[email protected]> 
Sent: Friday, May 17, 2019 12:53 AM
To: GELORA45  <mailto:[email protected]> <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Jokowi Mengeluh Atasi 20 Tahun Defisit Neraca Pembayaran

 

 

Baiknya Anda jelaskan dulu kenapa di era Joko 'PMA' Widodo defisit neraca 
perdagangan dan pembayarannya kayak gini. Sampai BPS menyebut paling buruk 
sepanjang sejarah. Sampai si Joko 'PMA' Widodo sendiri ngaku bodoh banget.

 

--- SADAR@... wrote:

 

Pertanyaan mendasar yang mutlak harus dijawab lebih dahulu kalau TIDAK HENDAK 
undang modal asing: Apakah Indonesia cukup MODAL dan TEKNOLOGI yang diperlukan 
bangun segala macam pabrik/industri??? Atau bung hendak bangun dengan 
merangkak, dimulai bangun dari kecil-kecilan dengan kerajinan-tangan secara 
kekeluargaan saja dahulu, ...?

Kenapa bung TIDAK menarik pelajaran dimana KESAHALAN Soeharto selama 32 tahun 
itu, memasukkan modal-asing, dan menjadikan diri BUDAK ASING, segelintir 
kelompok Cendana makmur-meriah, ... dengan membiarkan rakyat banyak 
papa-miskin??? Lalu jalan keluarnya jadi ANTI-Modal asing?

 

ajeg 於 17/5/2019 5:00 寫道:

 

Ya, seperti di kelas bangunan yang ada ajaran tentang kuda-kuda dan pondasi 
begitu juga di ekonomi, diajarkan bahwa kekuatan ekonomi tergantung pondasinya, 
al. produksi. Tanpa ada produk ya buruh pelabuhan tidak punya kegiatan angkat 
barang untuk dimuat ke kapal, untuk diekspor. Kerjanya lebih banyak untuk 
membongkar turun barang impor dari kapal. Alias neraca jomplang, sestabil apa 
pun mata uangnya. 

 

Jangan tanya kenapa Indonesia tidak punya produk andalan ekspor selain merk 
asing berstempel "made in Indonesia". Simak saja pernyataan sejumlah perwira 
muda TNI yang lumayan menarik bahwa yang harus diperjuangkan dan dipertahankan 
adalah, membangun Indonesia; bukan membangun "di" Indonesia!

 

Entah apa Mega-PDIP-Jokowi paham dikritik begini atau tetap nyenyak di ketek 
SBY. Alias banteng dikadali kebo.

 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

Rasanya tergantung kelas apa yang diambil dan apakah menyimak pelajaran yang 
diberikan dengan baik.

 

Dalam pelajaran ekonomi mikro/bisnis ada yang namanya currency exposure yg ikut 
mempengaruhi, seberapa banyak kandungan barang produksi itu yang terpengaruh. 
Dus disini ada content import ada lokal, content lokal-pun bisa juga 
terpengaruh harganya jadi lebih mahal.

 

Sedang dalam pelajaran ekonomi makro mesti dilihat dulu komoditas eksport 
Indonesia yang dominan apa saja. Misalnya saja dari berbagai berita banyak 
mengandalkan export CPO, sedangkan sawit lagi diboikot, sehingga dipaksakan 
dipakai didalam negeri dalam bentuk B-20. Jadi mesti dilihat dulu dgn cermat 
komoditas andalan export itu apa saja.

 

Cuman tidak tahu apa benar reuni-an eks Indonesia akan bisa meningkatkan devisa 
yg berarti?

Jadi garuk2 kepala yang tidak gatal bacanya:).

 

Rupiah melemah sudah terjadi ber-kali2 ber-tahun2 bahkan puluhan tahun. 
Herannya narasi rupiah melemah eksport menguat kok terus menerus didengungkan. 
Bukankah kalau begitu sudah jadi negara peng-export yang luar biasa kuatnya?

 

Benar juga "Kocak, banteng dikadali kebo."

 

 

From: ajeg 

 

Oh itu biasa. Di dalam kelas semua harus terlihat gampang. Begitu kelar sekolah 
nah barulah kena plonco kenyataan. Yang nggak pake otak biasanya tetap jadi 
plonco, atau ikut-ikutan jadi maling. Yang nggak punya otak pasti tepuk dada 
merasa paling pinter sedunia. Di kelas, bisa jadi betul dicekoki "nilai mata 
uang turun AKAN mendongkrak ekspor". Di dunia nyata, buruh pelabuhan 
bertanya-tanya, mana dia produk yang mau dimuat ke kapal...???

 

Di warung-warung kopi orang bosan mengingatkan. Sekarang bisanya tinggal 
nyruput kopi ketawa-tawa nonton Megawati-PDIP-Jokowi jejingkrakan buka 
puasa-kekuasaan di ketek SBY.

 

Kocak, banteng dikadali kebo.

 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

Apa bukannya ada orang pinter yang bilang dengan nilai rupiah turun export akan 
meningkat, tapi.... kok neraca dagang tekor?

 

Setidaknya Jokowi masih jujur waktu bilang "Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh 
banget kita"

 

--- ajegilelu@... wrote :

 

UUD neolib / amandemen mengamanatkan pemerintah bekerja lebih keras untuk 
pengusaha dan petani asing daripada membangun pondasi ekonomi sendiri. 
Kerja-kerja-kerja impor-impor-impor (bayar dg dollar). Bila perlu petani dan 
sopir truk pun impor.

 

Persetan dengan HAM buruh / tenagakerja sendiri. Persetan jugalah dengan korban 
kejahatan HAM '65 dst.

 

Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh banget kita

 
<https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita>
 
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita

 

--- ilmesengero@... wrote:

 

Kalau tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka cara terbaik untuk mengatasi 
persoalan ialah mengeluh supaya insyaalloh terjadi mukajizat. hehehehehehe

 

 

 



(Message over 64 KB, truncated)



Kirim email ke