Negara sudah merdeka 74 tahun dan berganti pemerintah sudah beberapa kali. Khan 
tidak logis kalau yang disalahkan "pemerintah sekarang" yg baru memerintah 
hampir 5 tahun, yg telah menunjukan kemajuan. Yg salah adalah semua rakyat dan 
budaya nya yg membuat negara amburadul. Dimana orang di pemerintahan juga 
asalnya dari rakyat. Hehehe, Hahaha... 

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 TERIMAKASIH, bung Nesare! Telah membantu menanggapi pertanyaan bung Ajeg 
masalah PMA, ... mari kita bersama-sama ikuti lebih cermat bagaimana dia 
menjelaskan masalah perkembangan ekonomi RI selama 5 tahun terakhir ini, dan 
selalu dicerca Jokowi gak bisa kerja, bodoh bahkan difitnah makin terpuruk, 
sampai-sampai Jokowi sendiri bilang "bodoh banget kita!" Siapa yang BODOH 
sesungguhnya??? Hehehee, ...
 

 'nesare' nesare1@... mailto:nesare1@... [GELORA45] 於 17/5/2019 21:42 寫道:

   
  
 Bagus bagus kalau ente mau diskusi ttg trade deficit disini.
 Sebelumnya ane mau klarifikasi dulu ya supaya jangan ada fitnah atau pemutaran 
fakta dan opini. Jokowi bilang “bodoh banget kita” itu konteksnya adalah: 
mengajak kita rakyat Indonesia supaya berpikir dan bekerja utk meningkatkan 
investasi dan eksport. 
  
 Ente kan lain ente mau menggoblok2kan Jokowi yg gak bisa kerja. Jokowi bodoh 
dan gak pantas jadi presiden. Jelas kan motivasinya walaupun sama2 bilang 
“bodoh”.
  
 Konteks investasi saja ente sudah sangat berseberangan dng Jokowi. Jokowi mau 
ada investasi asing. Ente jelas2 menentang investasi asing.
 Masalah eksport gimana bisa mau menaikkan eksport kalau situasi dalam negeri 
masih ribut dari separatism; isfun; anti asing seperti ente; infrastruktur 
jalan yg belum memadai, listrik setengah hari nyala setengah hari mati, air 
susah; tenaga buruh negara laos kamboja lebih murah dll.
  
 Ini semua faktor2 yg mempengaruhi investasi dan eksport.
  
 Jadi yg bikin investasi asing turun dan eksport turun itu adalah “kerjaan” 
orang2 seperti ente ini loh! SADAR TIDAK?!!!
  
 Diatas sudah ane kasih data trade deficit dari 1967 s/d 2019.
 Baca sana dan kasih tahu gimana penjelasannya!
 Jangan bolak balik jawab pertanyaan orang laen dengan pertanyaan juga!
  
 Yg menyerang orang/Jokowi itu kan ente, jadi kasih argumennya duluan donk. 
Moso’ mau bilang trade deficit sekarang anjlok paling parah dalam sejarah 
Indonesia hanya dgn 1 argumen: Jokowi bilang “bodoh banget kita”. Seakan2 
jokowi bilang dia sendiri dan semua rakyat Indonesia bodoh banget. Jangan 
fitnah kayak ginilah. Kalau ente tahu masalah, Analisa dan solusinya coba 
beberkan disini!
  
 Jangan hanya kerjaanya nyinyir melulu!!!!
  
 Oh ya ane kasih tahu duluan ya, ente gak akan menang debat sama ane ttg trade 
deficit ini. Gak bakalan ente menang! Bukan krn ente minim ilmu bisnis 
ekonominya, tetapi ente SALAH BESAR hanya melihat trade deficit pada satu titik 
saja. Ini persis melihat kurs pada 1 titik saja.
  
 Sedikit saja ya
 Dijaman SBY 2012, 2013 itu sudah parah. Trendnya sudah turun dari 2009/2010. 
Dijaman soeharto/orba menurut data diatas sejak 1967 kebanyakan trade 
surplus/positif. Ane tanya hebat ya ekonomi Orba?  
 Sudah berulang2 kali ane bilang ente gak ngerti bisnis ekonomi. Jangan nyinyir 
Jokowi tanpa ada argument!
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
<[email protected]> mailto:[email protected] 
 Sent: Friday, May 17, 2019 12:53 AM
 To: GELORA45 <[email protected]> mailto:[email protected]
 Subject: Re: [GELORA45] Jokowi Mengeluh Atasi 20 Tahun Defisit Neraca 
Pembayaran


  
  
 Baiknya Anda jelaskan dulu kenapa di era Joko 'PMA' Widodo defisit neraca 
perdagangan dan pembayarannya kayak gini. Sampai BPS menyebut paling buruk 
sepanjang sejarah. Sampai si Joko 'PMA' Widodo sendiri ngaku bodoh banget.

 
 
 

 --- SADAR@... wrote:

  
 Pertanyaan mendasar yang mutlak harus dijawab lebih dahulu kalau TIDAK HENDAK 
undang modal asing: Apakah Indonesia cukup MODAL dan TEKNOLOGI yang diperlukan 
bangun segala macam pabrik/industri??? Atau bung hendak bangun dengan 
merangkak, dimulai bangun dari kecil-kecilan dengan kerajinan-tangan secara 
kekeluargaan saja dahulu, ...?
 Kenapa bung TIDAK menarik pelajaran dimana KESAHALAN Soeharto selama 32 tahun 
itu, memasukkan modal-asing, dan menjadikan diri BUDAK ASING, segelintir 
kelompok Cendana makmur-meriah, ... dengan membiarkan rakyat banyak 
papa-miskin??? Lalu jalan keluarnya jadi ANTI-Modal asing?
  
 ajeg 於 17/5/2019 5:00 寫道:

  
 Ya, seperti di kelas bangunan yang ada ajaran tentang kuda-kuda dan pondasi 
begitu juga di ekonomi, diajarkan bahwa kekuatan ekonomi tergantung pondasinya, 
al. produksi. Tanpa ada produk ya buruh pelabuhan tidak punya kegiatan angkat 
barang untuk dimuat ke kapal, untuk diekspor. Kerjanya lebih banyak untuk 
membongkar turun barang impor dari kapal. Alias neraca jomplang, sestabil apa 
pun mata uangnya. 

 
 


 Jangan tanya kenapa Indonesia tidak punya produk andalan ekspor selain merk 
asing berstempel "made in Indonesia". Simak saja pernyataan sejumlah perwira 
muda TNI yang lumayan menarik bahwa yang harus diperjuangkan dan dipertahankan 
adalah, membangun Indonesia; bukan membangun "di" Indonesia!

  

 Entah apa Mega-PDIP-Jokowi paham dikritik begini atau tetap nyenyak di ketek 
SBY. Alias banteng dikadali kebo.

 
 
 

 --- jonathangoeij@... wrote:

  
 Rasanya tergantung kelas apa yang diambil dan apakah menyimak pelajaran yang 
diberikan dengan baik.

  

 Dalam pelajaran ekonomi mikro/bisnis ada yang namanya currency exposure yg 
ikut mempengaruhi, seberapa banyak kandungan barang produksi itu yang 
terpengaruh. Dus disini ada content import ada lokal, content lokal-pun bisa 
juga terpengaruh harganya jadi lebih mahal.

  

 Sedang dalam pelajaran ekonomi makro mesti dilihat dulu komoditas eksport 
Indonesia yang dominan apa saja. Misalnya saja dari berbagai berita banyak 
mengandalkan export CPO, sedangkan sawit lagi diboikot, sehingga dipaksakan 
dipakai didalam negeri dalam bentuk B-20. Jadi mesti dilihat dulu dgn cermat 
komoditas andalan export itu apa saja.

  

 Cuman tidak tahu apa benar reuni-an eks Indonesia akan bisa meningkatkan 
devisa yg berarti?

 Jadi garuk2 kepala yang tidak gatal bacanya:).

  

 Rupiah melemah sudah terjadi ber-kali2 ber-tahun2 bahkan puluhan tahun. 
Herannya narasi rupiah melemah eksport menguat kok terus menerus didengungkan. 
Bukankah kalau begitu sudah jadi negara peng-export yang luar biasa kuatnya?

  

 Benar juga "Kocak, banteng dikadali kebo."

  

  

 From: ajeg 

  

 Oh itu biasa. Di dalam kelas semua harus terlihat gampang. Begitu kelar 
sekolah nah barulah kena plonco kenyataan. Yang nggak pake otak biasanya tetap 
jadi plonco, atau ikut-ikutan jadi maling. Yang nggak punya otak pasti tepuk 
dada merasa paling pinter sedunia. Di kelas, bisa jadi betul dicekoki "nilai 
mata uang turun AKAN mendongkrak ekspor". Di dunia nyata, buruh pelabuhan 
bertanya-tanya, mana dia produk yang mau dimuat ke kapal...???

  

 Di warung-warung kopi orang bosan mengingatkan. Sekarang bisanya tinggal 
nyruput kopi ketawa-tawa nonton Megawati-PDIP-Jokowi jejingkrakan buka 
puasa-kekuasaan di ketek SBY.

  

 Kocak, banteng dikadali kebo.

  

 --- jonathangoeij@... wrote:

  

 Apa bukannya ada orang pinter yang bilang dengan nilai rupiah turun export 
akan meningkat, tapi.... kok neraca dagang tekor?

  

 Setidaknya Jokowi masih jujur waktu bilang "Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh 
banget kita"

  

 --- ajegilelu@... wrote :

 
 
 

 UUD neolib / amandemen mengamanatkan pemerintah bekerja lebih keras untuk 
pengusaha dan petani asing daripada membangun pondasi ekonomi sendiri. 
Kerja-kerja-kerja impor-impor-impor (bayar dg dollar). Bila perlu petani dan 
sopir truk pun impor.

  

 Persetan dengan HAM buruh / tenagakerja sendiri. Persetan jugalah dengan 
korban kejahatan HAM '65 dst.

  

 Neraca dagang tekor, Jokowi: bodoh banget kita

 
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita
 
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4463787/neraca-dagang-ri-masih-tekor-jokowi-bodoh-banget-kita

  

 --- ilmesengero@... wrote:

  

 Kalau tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka cara terbaik untuk mengatasi 
persoalan ialah mengeluh supaya insyaalloh terjadi mukajizat. hehehehehehe



 
 
 

  













  
 
(Message over 64 KB, truncated)



















Kirim email ke