Iya yg dipinggiran sukanya berpersepsi dgn menganalisa begini begitu tetapi 
faktanya gak ada. Yg dipakai sbg alasan kan hanya: kenapa begini, kenapa begitu 
dst utk mendukung opininya.

 

Jadi kesimpulannya dipaksa2kan, sedangkan faktanya ya jelas2 tidak ada.

 

Gak ada yg tahu ani pilih Jokowi, Prabowo atau bisa juga dia golput.

 

Semuanya politik termasuk yg dipinggiran bercuap2 menjadi politikus kampungan!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Saturday, June 8, 2019 10:09 AM
To: [email protected]; nesare <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] kepribadian

 

  

Hahahaa, ... bung Nesare, ternyata saya terlalu polus dan lurus-lurus saja 
jalan pikirannya! Tidak pernah terbayang oleh saya, kalau kemungkinan Bu Ani 
nyoblos pasangan Jokowi-Maruf dan bukan Prabowo-Sandi spt yg dikatakan Prabowo!

Tentu saja, kalau benar begitu, pernyataan Prabowo jadi masalah GEDEEE, ... 
sekalipun akhir SBY pun tidak melanjutkan dan mengakhiri saja persoalan ini.

Yang lebih menariki tentunya, bagaimana sikap Prabowo sendiri menghadapi 
rontoknya koalisi BPN dan kemungkinan makin PASTI kekalahan di MK! Apa akan 
menerima kekalahan dan kembali mengulangi yg dilakukan tahun 2014, ikut 
menghadiri pelantikan Jokowi menjadi Presiden Okt. yad. atau terus bikin rusuh 
bahkan meningkatkan aksi2nya dijalan dengan gerakan people Power nya???

Salam,

ChanCT

 

'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 於 8/6/2019 
21:03 寫道:

  

Chan: Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut 
saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan 
Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang 
kekubu sebelah!!!

 

Nesare: bagi saya itu masalah gede. Kalau ani nyoblos Jokowi, ya artinya 
Prabowo fitnah. Kita gak tahu siapa yg dicoblos ani. SBY sudah ngomong ani 
nyoblos Prabowo itu gak benar. Segitu saja yg awam ketahui. Yg betul2 tahu ya 
orang dalamlah. Yg diluaran hanya nerka2 saja. Kalau saya ya pake’ logika saja 
kalau gak ada fakta ani nyoblos Prabowo ya itu saya anggap sampah. Begitu juga 
bantahan SBY sama sampahnya bagi saya sebelum memang SBY mampu membuktikan ani 
pilih Jokowi. Hanya saja siapa yg lebih tahu ttg ani: SBY atau Prabowo? Bagi 
saya SBY. Kalau memang ani nyoblos Prabowo, ya artinya SBY mempolitisir masalah 
ini demi kepentingan politik partai democrat. Simple saja koq. Hanya yg repot 
itu adalah orang2 diluaran yg sok pinter krn mau bela si ini dan si itu, jadi 
bikin2 opini yg salah!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>   
<mailto:[email protected]> <[email protected]> 
Sent: Friday, June 7, 2019 10:32 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; nesare  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Ajegilelu  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Lusi Djerman  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] kepribadian

 

  

Kalau saya justru jadi melihatnya kenyataan BELUM adanya DEMOKRASI yang baik 
dalam masyarakat Indonesia, apalagi sudah menjadi kepribadian! Bahwa seseorang 
ataupun parpol berubah haluan, pindah dari satu koalisi kekoalisi lain dalam 
perpolitikan wajar-wajar saja, TIDAK ada yang salah atau dipersalahkan! 
Kapanpun itu terjadi, apalagi pasca pemilu baru-baru ini. Belum lagi kalau 
diperhatikan 16 parpol yang terlibat dalam pemilu kali ini tidak ada perbedaan 
mendasar, baik yang berdasarkan nasionalis maupun Agamais, sama-sama mengusung 
PANCASILA!

Yang PATUT dipersoalkan, kubu yang KALAH saat pemilu HARUS BERANI menerima dan 
mengakui kekalahan secara kesatria! Untuk maju bersama-sama meneruskan 
perjuangan membangun masyarakat lebih baik. Boleh saja mengambil sikap 
bergabung dalam pemerintah, boleh juga mengambil sikap OPOSISI! Karena dalam 
berdemokrasi, juga ada baiknya muncul parpol oposisi yg bertugas selalu 
mengawasi, mengkritik jalannya pemerintah dari luar pemerintah, ... Tentu 
terserah saja dengan perhitungannya sendiri-sendiri, selama TUJUANNYA jelas dan 
TEGAS untuk membangun lebih baik! Bukan sebaliknya MERUSAK, mensabot bahkan 
berusaha keras meruntuhkan pemerintah yang berkuasa, ... 

Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut saya 
BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan Prabowo 
berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang kekubu 
sebelah!!! Kan boleh-boleh saja orang berucap dan tanpa ada ketegasan tujuan 
apalagi pemaksaan agar TETAP berada di BPN! Bukankah pemilu sudah usai, dan 
TUGAS koalisi, BPN itu praktis sudah berakhir, tidak ada yg perlu 
dipertahankan.. Setelah memperhitungkan kenyataan kubu-02 PASTI KALAH, setiap 
parpol boleh-boleh saja menetapkan jalan yg dianggap lebih baik utk kemudian 
hari, ... TIDAK ada dan TIDAK mungkin memaksakan mereka TETAP berada di 
kubu-02, lalu kalu ikut pemerintah jadi penghianat! TIDAK! Ber-DEMOKRASI lah 
secara baik-baik, ... untuk kemajuan bersama bangsa ini, ...

 

'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 於 8/6/2019 
0:44 寫道:

  

Wah gawat. Ente tahu dari mana ani memilih Prabowo?

Sembarangan aja!

Ente ini sudah buta atau memang pura2 gak ngerti politik?

Jelas SBY mempolitisir pernyataan Prabowo, tetapi isi hati ani siapa yg lebih 
tahu?!

 

Coba lihat secara objektif. Jangan personal krn mendukung Prabowo saja!

 

Coba bagi2 cerita gimana bisa ani memilih Prabowo ini!

Dari mana berita ani memilih Prabowo ini? Ente lihat coblosannya ani di 
national university hospital di singapura itu? Pemilu ini masih LUBER loh 
hati2! 

 

Jangan bikin blunder yg enggak2!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>   
<mailto:[email protected]> <[email protected]> 
Sent: Friday, June 7, 2019 11:52 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; GELORA45  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] kepribadian

 

  

Kenapa si beye tersinggung / keberatan / malu dengan pilihan istrinya? 

 

Karena kepribadian karet. 

Mental pengkhianat. 


--- lusi_d@... wrote:

  

Nah sebagai bahan tandingan, saya unggah juga tulisan Desy tentang
kejadian peristiwa yang sama sesuai dengan pandangan masing-masing
penulisnya tentang kedua kepribadian.

Salam. Lusi.-

BERITA POLITIK INDONESIA Am 03.06.2019 veröffentlicht

Kebiadaban Prabowo Ditengah Keluarga Cikeas yang Sedang Berduka.

Ditulis oleh : Desy.
Dikutip Dari Seword.com.

Dimana saja dan kapan saja Prabowo Subianto, capres no 02 yang selalu
dielu-elukan pendukungnya menyelipkan kalimat berkampanye. Bukan
simpati yang didapat namun malah memancing cibiran jika berpolitik
tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini Prabowo dijadwalkan melayat ke
kediaman SBY di Cikeas. Sungguh memalukan dan tidak pantas menurut
saya, ketika keluarga Cikeas sedang berduka, Prabowo justru
sempat-sempatnya berpolitik dengan menyisipkan kalimat bahwa Ani
Yudhono memilih dirinya sebagai presiden 2019. Beradabkah seorang
Prabowo disaat berkunjung ke rumah duka dimana seharusnya dia
menyampaikan bela sungkawa kepada SBY. Namun dengan penuh percaya diri
Prabowo justru membawa politik dan menyinggung Any Yudhoyono memilih
dirinya dalam pilpres 2014 dan 2019.

Lebih lucunya lagi ketika Prabowo usai mengatakan pidatonya yang tidak
beretika tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono langsung memberikan
tanggapanya didepan wartawan. Tentu saja SBY merasa keberatan dengan
apa yang disampaikan oleh Prabowo. Seperti yang dikutip di harian
Kompas, SBY dengan jelas menyampaikan bahwa tidak elok jika istrinya
dikaitkan dengan politik. SBY dengan tegas mengatakan agar tidak
mengaitkan istrinya dengan politik. "Ini hari penuh ujian bagi saya,
ibu Ani jangan dikaitkan dengan politik. Please, saya mohon pernyataan
pak Prabowo, bu Ani pilih apa, tentu tidak tepat, tidak elok
disampaikan. Tolong mengerti perasaan kami yang berduka, Ibu Ani yang
baru saja berpulang. Beliau tidak ingin dikaitkan dengan politik apa
pun.”

Apa yang Prabowo sampaikan sangat tidak beradab. Lebih tidak beradab
Prabowo daripada viralnya Kaesang yang menggunakan celana jeans saat
melayat ibu Ani. Siapa sekarang yang lebih sopan dan memiliki etika.
Seorang anak muda yang mengenakan celana jeans atau seorang capres yang
katanya adalah negarawan dan tokoh bangsa yang menjadi panutan namun
tidak tahu sopan santun.

Sangat disayangkan disaat keluarga SBY tengah berduka, Prabowo kembali
menuai polemik. Baru kemarin Any Yudhoyono dimakamkan dan baru kemarin
SBY mengatakan keinginan bu Any untuk tidak lagi terlibat dalam
politik. Hanya dalam kubu Prabowo saja orang yang sudah meninggal masih
saja dilibatkan dalam hal politik. Dulu petugas KPPS meninggal yang
dipolitisasi, sekarang ibu Any yang jelas-jelas sudah beristirahat
masih saja diseret dalam ranah politik

Sangat menggelikan seorang capres yang seharusnya memiliki kesopanan
dan tahu bagaimana seharusnya menempatkan diri namun kerap berbuat
kesalahan didepan publik. Bukan hal yang megejutkan Prabowo sering
menunjukkan betapa tidak beradab dan beretikanya dirinya. Namun kali
ini memang sangat tidak pantas menyinggung isu politik ditengah
keluarga yang sedang berdukacita. Bukan menjadi rahasia lagi jika
Prabowo memang sangat terobsesi menjadi presiden. Segala hal mampu dia
politisasi untuk kepentingan dirinya. Segala hal mampu dia tumbalkan
untuk bisa mewujudkan keinginanya menjadi presiden.

Jika dipikir-pikir untuk apa Prabowo menyinggung pilihan Any Yudhoyono
padahal dia tahu bahwa dirinya sedang berada diantara orang yang
berduka. Tidak lain tujuan Prabowo adalah untuk mendapatkan empati dan
simpati lagi dari masyarakat. Mungkin dia pikir dia masih dalam masa
berkampanye sehingga dia perlu menyebutkan siapa saja yang memilihnya,
dengan harapan rakyat yang bersimpati dengan Any Yudhoyono juga akan
bersimpati kepada dirinya. Dia sadar bahwa Any Yudhoyono mendapat
banyak tempat di hati masyarakat Indonesia. Saat ini sosok Any sedang
menjadi sorotan bagi bangsa Indonesia juga dunia. Prabowo masih
berharap dia akan mendapat tambahan dukungan dan respect dari
orang-orang disekitar Any Yudhoyono.

Isi pikiran Prabowo saat ini memang hanya tentang politik. Dia tidak
akan berhenti mempolitisasi setiap moment jika dia belum terpilih
sebagai presiden. Namun Prabowo semakin menunjukkan jati dirinya yang
sebenarnya. Masyarakat akan semakin terbuka pikiranya tentang Prabowo
yang memang tidak pantas menjadi presiden.

Kira-kira apa kata netizen pendukung Prabowo yang kemarin heboh
mengomentari penampilan Kaesang saat datang melayat Any Yudhoyono.
Banyaknya nyinyiran mengatakan Kaesang tidak beradab, tidak diajari
sopan santun dan banyak lagi kata-kata yang kasar dan menyakitkan.
Bisakah para netizen yang maha benar bersikap objektif dan memberikan
penilaian terhadap perkataan Prabowo yang tidak pantas ini. Bisakah
mereka mengatakan bahwa apa yang disampaikan Prabowo tidak beradab,
bisakah mereka mengatakan bahwa Prabowo tidak pernah belajar sopan
santun? Sudah pasti tidak bisa karena mereka membutakan diri melihat
mana yang benar dan mana yang salah.

Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Fri, 7 Jun 2019 09:07:01 +0200
Von: Lusi D.

Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua
kepribadian dalam dunia politik.
Salam
Lusi.-

SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht

Oleh: Asyari Usman

Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri

APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu Ani
terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak.

Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan dianjurkan
orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang yang meninggal
dunia.

Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak PS
langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019.

“Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan jawaban
ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah mengoreksinya.
Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang yang akan
mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi masih
berkoalisi dengan Prabowo?

Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga bukan
masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya menjelaskan
kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu kebaikan yang sangat
besar.

Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan
pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang
berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait pencapresan
Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. Dalam arti, dia
tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya
“hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini.

Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak suka
kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar sepenuh
hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS menceritakan
kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan pernyataan Prabowo
itu?

Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung
PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono
(AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini
Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.

Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh
Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. Prabowo
terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali terhadap
kemenangan Prabowo yang dirampok itu.

Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada
ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung menusuk
PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. Betul-betul licik.
Tak bisa dipercaya.

Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah
ahli berbohong. Ahli bermunafik.

Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak
mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti tambahan?
Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan Prabowo. SBY
berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia puja-puji Prabowo
sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau menerima keputusan KPU.

Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran
ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu. Itulah
yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul…

Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah tidak
membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi Prabowo.
Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo.

Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi,
koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo, sungguh
tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, pilpres
sudah lewat.

Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia hanya
menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu

 

 


 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 

不含病毒。 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 www.avg.com 



Kirim email ke