Analisis bung tidak menjawab persoalan yang menjadi topik perbincangan.
Am Sat, 8 Jun 2019 10:31:47 +0800 schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Kalau saya justru jadi melihatnya kenyataan BELUM adanya DEMOKRASI > yang baik dalam masyarakat Indonesia, apalagi sudah menjadi > kepribadian! Bahwa seseorang ataupun parpol berubah haluan, pindah > dari satu koalisi kekoalisi lain dalam perpolitikan wajar-wajar saja, > TIDAK ada yang salah atau dipersalahkan! Kapanpun itu terjadi, > apalagi pasca pemilu baru-baru ini. Belum lagi kalau diperhatikan 16 > parpol yang terlibat dalam pemilu kali ini tidak ada perbedaan > mendasar, baik yang berdasarkan nasionalis maupun Agamais, sama-sama > mengusung PANCASILA! > > Yang PATUT dipersoalkan, kubu yang KALAH saat pemilu HARUS BERANI > menerima dan mengakui kekalahan secara kesatria! Untuk maju > bersama-sama meneruskan perjuangan membangun masyarakat lebih baik. > Boleh saja mengambil sikap bergabung dalam pemerintah, boleh juga > mengambil sikap OPOSISI! Karena dalam berdemokrasi, juga ada baiknya > muncul parpol oposisi yg bertugas selalu mengawasi, mengkritik > jalannya pemerintah dari luar pemerintah, ... Tentu terserah saja > dengan perhitungannya sendiri-sendiri, selama TUJUANNYA jelas dan > TEGAS untuk membangun lebih baik! Bukan sebaliknya MERUSAK, mensabot > bahkan berusaha keras meruntuhkan pemerintah yang berkuasa, ... > > Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, > menurut saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun > jelas tujuan Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada > di BPN, tidak menyebrang kekubu sebelah!!! Kan boleh-boleh saja orang > berucap dan tanpa ada ketegasan tujuan apalagi pemaksaan agar TETAP > berada di BPN! Bukankah pemilu sudah usai, dan TUGAS koalisi, BPN itu > praktis sudah berakhir, tidak ada yg perlu dipertahankan. Setelah > memperhitungkan kenyataan kubu-02 PASTI KALAH, setiap parpol > boleh-boleh saja menetapkan jalan yg dianggap lebih baik utk kemudian > hari, ... TIDAK ada dan TIDAK mungkin memaksakan mereka TETAP berada > di kubu-02, lalu kalu ikut pemerintah jadi penghianat! TIDAK! > Ber-DEMOKRASI lah secara baik-baik, .... untuk kemajuan bersama > bangsa ini, ... > > > 'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 8/6/2019 0:44 寫道: > > > > Wah gawat. Ente tahu dari mana ani memilih Prabowo? > > > > Sembarangan aja! > > > > Ente ini sudah buta atau memang pura2 gak ngerti politik? > > > > Jelas SBY mempolitisir pernyataan Prabowo, tetapi isi hati ani > > siapa yg lebih tahu?! > > > > Coba lihat secara objektif. Jangan personal krn mendukung Prabowo > > saja! > > > > Coba bagi2 cerita gimana bisa ani memilih Prabowo ini! > > > > Dari mana berita ani memilih Prabowo ini? Ente lihat coblosannya > > ani di national university hospital di singapura itu? Pemilu ini > > masih LUBER loh hati2! > > > > Jangan bikin blunder yg enggak2! > > > > Nesare > > > > *From:* [email protected] <[email protected]> > > *Sent:* Friday, June 7, 2019 11:52 AM > > *To:* [email protected]; GELORA45 <[email protected]> > > *Subject:* Re: [GELORA45] kepribadian > > > > Kenapa si beye tersinggung / keberatan / malu dengan pilihan > > istrinya? > > > > Karena kepribadian karet. > > > > Mental pengkhianat. > > > > > > --- lusi_d@... wrote: > > > > Nah sebagai bahan tandingan, saya unggah juga tulisan Desy > > tentang kejadian peristiwa yang sama sesuai dengan pandangan > > masing-masing penulisnya tentang kedua kepribadian. > > > > Salam. Lusi.- > > > > BERITA POLITIK INDONESIA Am 03.06.2019 veröffentlicht > > > > Kebiadaban Prabowo Ditengah Keluarga Cikeas yang Sedang Berduka. > > > > Ditulis oleh : Desy. > > Dikutip Dari Seword.com. > > > > Dimana saja dan kapan saja Prabowo Subianto, capres no 02 yang > > selalu dielu-elukan pendukungnya menyelipkan kalimat berkampanye. > > Bukan simpati yang didapat namun malah memancing cibiran jika > > berpolitik tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini Prabowo > > dijadwalkan melayat ke kediaman SBY di Cikeas. Sungguh memalukan > > dan tidak pantas menurut saya, ketika keluarga Cikeas sedang > > berduka, Prabowo justru sempat-sempatnya berpolitik dengan > > menyisipkan kalimat bahwa Ani Yudhono memilih dirinya sebagai > > presiden 2019. Beradabkah seorang Prabowo disaat berkunjung ke > > rumah duka dimana seharusnya dia menyampaikan bela sungkawa kepada > > SBY. Namun dengan penuh percaya diri Prabowo justru membawa politik > > dan menyinggung Any Yudhoyono memilih dirinya dalam pilpres 2014 > > dan 2019. > > > > Lebih lucunya lagi ketika Prabowo usai mengatakan pidatonya > > yang tidak beretika tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono langsung > > memberikan tanggapanya didepan wartawan. Tentu saja SBY merasa > > keberatan dengan apa yang disampaikan oleh Prabowo. Seperti yang > > dikutip di harian Kompas, SBY dengan jelas menyampaikan bahwa tidak > > elok jika istrinya dikaitkan dengan politik. SBY dengan tegas > > mengatakan agar tidak mengaitkan istrinya dengan politik. "Ini hari > > penuh ujian bagi saya, ibu Ani jangan dikaitkan dengan politik. > > Please, saya mohon pernyataan pak Prabowo, bu Ani pilih apa, tentu > > tidak tepat, tidak elok disampaikan. Tolong mengerti perasaan kami > > yang berduka, Ibu Ani yang baru saja berpulang. Beliau tidak ingin > > dikaitkan dengan politik apa pun.” > > > > Apa yang Prabowo sampaikan sangat tidak beradab. Lebih tidak > > beradab Prabowo daripada viralnya Kaesang yang menggunakan celana > > jeans saat melayat ibu Ani. Siapa sekarang yang lebih sopan dan > > memiliki etika. Seorang anak muda yang mengenakan celana jeans atau > > seorang capres yang > > katanya adalah negarawan dan tokoh bangsa yang menjadi panutan > > namun tidak tahu sopan santun. > > > > Sangat disayangkan disaat keluarga SBY tengah berduka, Prabowo > > kembali menuai polemik. Baru kemarin Any Yudhoyono dimakamkan dan > > baru kemarin SBY mengatakan keinginan bu Any untuk tidak lagi > > terlibat dalam politik. Hanya dalam kubu Prabowo saja orang yang > > sudah meninggal masih > > saja dilibatkan dalam hal politik. Dulu petugas KPPS meninggal > > yang dipolitisasi, sekarang ibu Any yang jelas-jelas sudah > > beristirahat masih saja diseret dalam ranah politik > > > > Sangat menggelikan seorang capres yang seharusnya memiliki > > kesopanan dan tahu bagaimana seharusnya menempatkan diri namun > > kerap berbuat kesalahan didepan publik. Bukan hal yang megejutkan > > Prabowo sering menunjukkan betapa tidak beradab dan beretikanya > > dirinya. Namun kali ini memang sangat tidak pantas menyinggung isu > > politik ditengah keluarga yang sedang berdukacita. Bukan menjadi > > rahasia lagi jika Prabowo memang sangat terobsesi menjadi presiden. > > Segala hal mampu dia politisasi untuk kepentingan dirinya. Segala > > hal mampu dia tumbalkan untuk bisa mewujudkan keinginanya menjadi > > presiden. > > > > Jika dipikir-pikir untuk apa Prabowo menyinggung pilihan Any > > Yudhoyono padahal dia tahu bahwa dirinya sedang berada diantara > > orang yang berduka. Tidak lain tujuan Prabowo adalah untuk > > mendapatkan empati dan simpati lagi dari masyarakat. Mungkin dia > > pikir dia masih dalam masa berkampanye sehingga dia perlu > > menyebutkan siapa saja yang memilihnya, dengan harapan rakyat yang > > bersimpati dengan Any Yudhoyono juga akan bersimpati kepada > > dirinya. Dia sadar bahwa Any Yudhoyono mendapat banyak tempat di > > hati masyarakat Indonesia. Saat ini sosok Any sedang menjadi > > sorotan bagi bangsa Indonesia juga dunia. Prabowo masih berharap > > dia akan mendapat tambahan dukungan dan respect dari orang-orang > > disekitar Any Yudhoyono. > > > > Isi pikiran Prabowo saat ini memang hanya tentang politik. Dia > > tidak akan berhenti mempolitisasi setiap moment jika dia belum > > terpilih sebagai presiden. Namun Prabowo semakin menunjukkan jati > > dirinya yang sebenarnya. Masyarakat akan semakin terbuka pikiranya > > tentang Prabowo yang memang tidak pantas menjadi presiden. > > > > Kira-kira apa kata netizen pendukung Prabowo yang kemarin heboh > > mengomentari penampilan Kaesang saat datang melayat Any > > Yudhoyono. Banyaknya nyinyiran mengatakan Kaesang tidak beradab, > > tidak diajari sopan santun dan banyak lagi kata-kata yang kasar dan > > menyakitkan. Bisakah para netizen yang maha benar bersikap objektif > > dan memberikan penilaian terhadap perkataan Prabowo yang tidak > > pantas ini. Bisakah mereka mengatakan bahwa apa yang disampaikan > > Prabowo tidak beradab, bisakah mereka mengatakan bahwa Prabowo > > tidak pernah belajar sopan santun? Sudah pasti tidak bisa karena > > mereka membutakan diri melihat mana yang benar dan mana yang salah. > > > > Beginn der weitergeleiteten Nachricht: > > > > Datum: Fri, 7 Jun 2019 09:07:01 +0200 > > Von: Lusi D. > > > > Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua > > kepribadian dalam dunia politik. > > Salam > > Lusi.- > > > > SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht > > > > Oleh: Asyari Usman > > > > Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri > > > > APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah > > Bu Ani terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak. > > > > Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan > > dianjurkan orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang > > yang meninggal dunia. > > > > Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, > > Pak PS langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019. > > > > “Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan > > jawaban ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah > > mengoreksinya. Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang > > yang akan mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi > > masih berkoalisi dengan Prabowo? > > > > Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga > > bukan masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya > > menjelaskan kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu > > kebaikan yang sangat besar. > > > > Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS > > menceritakan pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi > > SBY inilah yang berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya > > terkait pencapresan Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat > > politis. Dalam arti, dia tidak mau publik tahu tentang kemungkinan > > adanya “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini. > > > > Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat > > tidak suka kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY > > benar sepenuh hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak > > PS menceritakan kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan > > pernyataan Prabowo itu? > > > > Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa > > mendukung PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus > > Harimurti Yudhoyono > > (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini > > Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres. > > > > Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak > > oleh Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. > > Prabowo > > terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali > > terhadap > > kemenangan Prabowo yang dirampok itu. > > > > Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi > > ada ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung > > menusuk PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. > > Betul-betul licik. Tak bisa dipercaya. > > > > Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY > > malah ahli berbohong. Ahli bermunafik. > > > > Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY > > tidak mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti > > tambahan? Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan > > Prabowo. SBY berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia > > puja-puji Prabowo sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau > > menerima keputusan KPU. > > > > Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua > > anjuran ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres > > itu. Itulah > > yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul… > > > > Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah > > tidak membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi > > Prabowo. Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo. > > > > Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. > > Tapi, koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen > > Prabowo, sungguh tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan > > itu? Toh, pilpres sudah lewat. > > > > Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia > > hanya menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu > > > > > > > --- > 此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。 > http://www.avg.com
