Hahahaa, ... bung Nesare, ternyata saya terlalu polus dan lurus-lurus saja jalan pikirannya! Tidak pernah terbayang oleh saya, kalau kemungkinan Bu Ani nyoblos pasangan Jokowi-Maruf dan bukan Prabowo-Sandi spt yg dikatakan Prabowo!

Tentu saja, kalau benar begitu, pernyataan Prabowo jadi masalah GEDEEE, .... sekalipun akhir SBY pun tidak melanjutkan dan mengakhiri saja persoalan ini.

Yang lebih menariki tentunya, bagaimana sikap Prabowo sendiri menghadapi rontoknya koalisi BPN dan kemungkinan makin PASTI kekalahan di MK! Apa akan menerima kekalahan dan kembali mengulangi yg dilakukan tahun 2014, ikut menghadiri pelantikan Jokowi menjadi Presiden Okt. yad. atau terus bikin rusuh bahkan meningkatkan aksi2nya dijalan dengan gerakan people Power nya???

Salam,

ChanCT


'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 8/6/2019 21:03 寫道:

Chan: Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang kekubu sebelah!!!

Nesare: bagi saya itu masalah gede. Kalau ani nyoblos Jokowi, ya artinya Prabowo fitnah. Kita gak tahu siapa yg dicoblos ani. SBY sudah ngomong ani nyoblos Prabowo itu gak benar. Segitu saja yg awam ketahui. Yg betul2 tahu ya orang dalamlah. Yg diluaran hanya nerka2 saja. Kalau saya ya pake’ logika saja kalau gak ada fakta ani nyoblos Prabowo ya itu saya anggap sampah. Begitu juga bantahan SBY sama sampahnya bagi saya sebelum memang SBY mampu membuktikan ani pilih Jokowi. Hanya saja siapa yg lebih tahu ttg ani: SBY atau Prabowo? Bagi saya SBY. Kalau memang ani nyoblos Prabowo, ya artinya SBY mempolitisir masalah ini demi kepentingan politik partai democrat. Simple saja koq. Hanya yg repot itu adalah orang2 diluaran yg sok pinter krn mau bela si ini dan si itu, jadi bikin2 opini yg salah!

Nesare

*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Friday, June 7, 2019 10:32 PM
*To:* [email protected]; nesare <[email protected]>; Ajegilelu <[email protected]>; Lusi Djerman <[email protected]>
*Subject:* Re: [GELORA45] kepribadian

Kalau saya justru jadi melihatnya kenyataan BELUM adanya DEMOKRASI yang baik dalam masyarakat Indonesia, apalagi sudah menjadi kepribadian! Bahwa seseorang ataupun parpol berubah haluan, pindah dari satu koalisi kekoalisi lain dalam perpolitikan wajar-wajar saja, TIDAK ada yang salah atau dipersalahkan! Kapanpun itu terjadi, apalagi pasca pemilu baru-baru ini. Belum lagi kalau diperhatikan 16 parpol yang terlibat dalam pemilu kali ini tidak ada perbedaan mendasar, baik yang berdasarkan nasionalis maupun Agamais, sama-sama mengusung PANCASILA!

Yang PATUT dipersoalkan, kubu yang KALAH saat pemilu HARUS BERANI menerima dan mengakui kekalahan secara kesatria! Untuk maju bersama-sama meneruskan perjuangan membangun masyarakat lebih baik. Boleh saja mengambil sikap bergabung dalam pemerintah, boleh juga mengambil sikap OPOSISI! Karena dalam berdemokrasi, juga ada baiknya muncul parpol oposisi yg bertugas selalu mengawasi, mengkritik jalannya pemerintah dari luar pemerintah, ... Tentu terserah saja dengan perhitungannya sendiri-sendiri, selama TUJUANNYA jelas dan TEGAS untuk membangun lebih baik! Bukan sebaliknya MERUSAK, mensabot bahkan berusaha keras meruntuhkan pemerintah yang berkuasa, ...

Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang kekubu sebelah!!! Kan boleh-boleh saja orang berucap dan tanpa ada ketegasan tujuan apalagi pemaksaan agar TETAP berada di BPN! Bukankah pemilu sudah usai, dan TUGAS koalisi, BPN itu praktis sudah berakhir, tidak ada yg perlu dipertahankan.. Setelah memperhitungkan kenyataan kubu-02 PASTI KALAH, setiap parpol boleh-boleh saja menetapkan jalan yg dianggap lebih baik utk kemudian hari, ... TIDAK ada dan TIDAK mungkin memaksakan mereka TETAP berada di kubu-02, lalu kalu ikut pemerintah jadi penghianat! TIDAK! Ber-DEMOKRASI lah secara baik-baik, ... untuk kemajuan bersama bangsa ini, ...

'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 8/6/2019 0:44 寫道:

    Wah gawat. Ente tahu dari mana ani memilih Prabowo?

    Sembarangan aja!

    Ente ini sudah buta atau memang pura2 gak ngerti politik?

    Jelas SBY mempolitisir pernyataan Prabowo, tetapi isi hati ani
    siapa yg lebih tahu?!

    Coba lihat secara objektif. Jangan personal krn mendukung Prabowo
    saja!

    Coba bagi2 cerita gimana bisa ani memilih Prabowo ini!

    Dari mana berita ani memilih Prabowo ini? Ente lihat coblosannya
    ani di national university hospital di singapura itu? Pemilu ini
    masih LUBER loh hati2!

    Jangan bikin blunder yg enggak2!

    Nesare

    *From:* [email protected] <mailto:[email protected]>
    <[email protected]> <mailto:[email protected]>
    *Sent:* Friday, June 7, 2019 11:52 AM
    *To:* [email protected] <mailto:[email protected]>; GELORA45
    <[email protected]> <mailto:[email protected]>
    *Subject:* Re: [GELORA45] kepribadian

    Kenapa si beye tersinggung / keberatan / malu dengan pilihan
    istrinya?

    Karena kepribadian karet.

    Mental pengkhianat.


    --- lusi_d@... wrote:

        Nah sebagai bahan tandingan, saya unggah juga tulisan Desy tentang
        kejadian peristiwa yang sama sesuai dengan pandangan masing-masing
        penulisnya tentang kedua kepribadian.

        Salam. Lusi.-

        BERITA POLITIK INDONESIA Am 03.06.2019 veröffentlicht

        Kebiadaban Prabowo Ditengah Keluarga Cikeas yang Sedang Berduka.

        Ditulis oleh : Desy.
        Dikutip Dari Seword.com.

        Dimana saja dan kapan saja Prabowo Subianto, capres no 02 yang
        selalu
        dielu-elukan pendukungnya menyelipkan kalimat berkampanye. Bukan
        simpati yang didapat namun malah memancing cibiran jika berpolitik
        tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini Prabowo dijadwalkan
        melayat ke
        kediaman SBY di Cikeas. Sungguh memalukan dan tidak pantas menurut
        saya, ketika keluarga Cikeas sedang berduka, Prabowo justru
        sempat-sempatnya berpolitik dengan menyisipkan kalimat bahwa Ani
        Yudhono memilih dirinya sebagai presiden 2019. Beradabkah seorang
        Prabowo disaat berkunjung ke rumah duka dimana seharusnya dia
        menyampaikan bela sungkawa kepada SBY. Namun dengan penuh
        percaya diri
        Prabowo justru membawa politik dan menyinggung Any Yudhoyono
        memilih
        dirinya dalam pilpres 2014 dan 2019.

        Lebih lucunya lagi ketika Prabowo usai mengatakan pidatonya
        yang tidak
        beretika tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono langsung memberikan
        tanggapanya didepan wartawan. Tentu saja SBY merasa keberatan
        dengan
        apa yang disampaikan oleh Prabowo. Seperti yang dikutip di harian
        Kompas, SBY dengan jelas menyampaikan bahwa tidak elok jika
        istrinya
        dikaitkan dengan politik. SBY dengan tegas mengatakan agar tidak
        mengaitkan istrinya dengan politik. "Ini hari penuh ujian bagi
        saya,
        ibu Ani jangan dikaitkan dengan politik. Please, saya mohon
        pernyataan
        pak Prabowo, bu Ani pilih apa, tentu tidak tepat, tidak elok
        disampaikan. Tolong mengerti perasaan kami yang berduka, Ibu
        Ani yang
        baru saja berpulang. Beliau tidak ingin dikaitkan dengan
        politik apa
        pun.”

        Apa yang Prabowo sampaikan sangat tidak beradab. Lebih tidak
        beradab
        Prabowo daripada viralnya Kaesang yang menggunakan celana
        jeans saat
        melayat ibu Ani. Siapa sekarang yang lebih sopan dan memiliki
        etika.
        Seorang anak muda yang mengenakan celana jeans atau seorang
        capres yang
        katanya adalah negarawan dan tokoh bangsa yang menjadi panutan
        namun
        tidak tahu sopan santun.

        Sangat disayangkan disaat keluarga SBY tengah berduka, Prabowo
        kembali
        menuai polemik. Baru kemarin Any Yudhoyono dimakamkan dan baru
        kemarin
        SBY mengatakan keinginan bu Any untuk tidak lagi terlibat dalam
        politik. Hanya dalam kubu Prabowo saja orang yang sudah
        meninggal masih
        saja dilibatkan dalam hal politik. Dulu petugas KPPS meninggal
        yang
        dipolitisasi, sekarang ibu Any yang jelas-jelas sudah beristirahat
        masih saja diseret dalam ranah politik

        Sangat menggelikan seorang capres yang seharusnya memiliki
        kesopanan
        dan tahu bagaimana seharusnya menempatkan diri namun kerap berbuat
        kesalahan didepan publik. Bukan hal yang megejutkan Prabowo sering
        menunjukkan betapa tidak beradab dan beretikanya dirinya.
        Namun kali
        ini memang sangat tidak pantas menyinggung isu politik ditengah
        keluarga yang sedang berdukacita. Bukan menjadi rahasia lagi jika
        Prabowo memang sangat terobsesi menjadi presiden. Segala hal
        mampu dia
        politisasi untuk kepentingan dirinya. Segala hal mampu dia
        tumbalkan
        untuk bisa mewujudkan keinginanya menjadi presiden.

        Jika dipikir-pikir untuk apa Prabowo menyinggung pilihan Any
        Yudhoyono
        padahal dia tahu bahwa dirinya sedang berada diantara orang yang
        berduka. Tidak lain tujuan Prabowo adalah untuk mendapatkan
        empati dan
        simpati lagi dari masyarakat. Mungkin dia pikir dia masih
        dalam masa
        berkampanye sehingga dia perlu menyebutkan siapa saja yang
        memilihnya,
        dengan harapan rakyat yang bersimpati dengan Any Yudhoyono
        juga akan
        bersimpati kepada dirinya. Dia sadar bahwa Any Yudhoyono mendapat
        banyak tempat di hati masyarakat Indonesia. Saat ini sosok Any
        sedang
        menjadi sorotan bagi bangsa Indonesia juga dunia. Prabowo masih
        berharap dia akan mendapat tambahan dukungan dan respect dari
        orang-orang disekitar Any Yudhoyono.

        Isi pikiran Prabowo saat ini memang hanya tentang politik. Dia
        tidak
        akan berhenti mempolitisasi setiap moment jika dia belum terpilih
        sebagai presiden. Namun Prabowo semakin menunjukkan jati
        dirinya yang
        sebenarnya. Masyarakat akan semakin terbuka pikiranya tentang
        Prabowo
        yang memang tidak pantas menjadi presiden.

        Kira-kira apa kata netizen pendukung Prabowo yang kemarin heboh
        mengomentari penampilan Kaesang saat datang melayat Any Yudhoyono.
        Banyaknya nyinyiran mengatakan Kaesang tidak beradab, tidak
        diajari
        sopan santun dan banyak lagi kata-kata yang kasar dan menyakitkan.
        Bisakah para netizen yang maha benar bersikap objektif dan
        memberikan
        penilaian terhadap perkataan Prabowo yang tidak pantas ini.
        Bisakah
        mereka mengatakan bahwa apa yang disampaikan Prabowo tidak
        beradab,
        bisakah mereka mengatakan bahwa Prabowo tidak pernah belajar sopan
        santun? Sudah pasti tidak bisa karena mereka membutakan diri
        melihat
        mana yang benar dan mana yang salah.

        Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

        Datum: Fri, 7 Jun 2019 09:07:01 +0200
        Von: Lusi D.

        Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua
        kepribadian dalam dunia politik.
        Salam
        Lusi.-

        SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht

        Oleh: Asyari Usman

        Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri

        APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan
        almarhumah Bu Ani
        terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak.

        Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan
        dianjurkan
        orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang yang
        meninggal
        dunia.

        Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah,
        Pak PS
        langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019.

        “Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan
        jawaban
        ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah
        mengoreksinya.
        Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang yang akan
        mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi masih
        berkoalisi dengan Prabowo?

        Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka?
        Juga bukan
        masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya menjelaskan
        kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu kebaikan
        yang sangat
        besar.

        Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS
        menceritakan
        pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah
        yang
        berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait
        pencapresan
        Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. Dalam arti, dia
        tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya
        “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini.

        Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat
        tidak suka
        kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar
        sepenuh
        hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS
        menceritakan
        kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan pernyataan
        Prabowo
        itu?

        Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa
        mendukung
        PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti
        Yudhoyono
        (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini
        Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.

        Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh
        Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat
        akhir. Prabowo
        terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali
        terhadap
        kemenangan Prabowo yang dirampok itu.

        Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada
        ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung
        menusuk
        PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo.
        Betul-betul licik.
        Tak bisa dipercaya.

        Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY
        malah
        ahli berbohong. Ahli bermunafik.

        Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY
        tidak
        mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti
        tambahan?
        Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan Prabowo. SBY
        berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia puja-puji
        Prabowo
        sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau menerima
        keputusan KPU.

        Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua
        anjuran
        ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres
        itu. Itulah
        yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul…

        Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY
        malah tidak
        membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi
        Prabowo.
        Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo.

        Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya.
        Tapi,
        koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo,
        sungguh
        tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, pilpres
        sudah lewat.

        Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas.
        Dia hanya
        menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu

<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>

        

不含病毒。www.avg.com <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke