Chan: Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang kekubu sebelah!!!
Nesare: bagi saya itu masalah gede. Kalau ani nyoblos Jokowi, ya artinya Prabowo fitnah. Kita gak tahu siapa yg dicoblos ani. SBY sudah ngomong ani nyoblos Prabowo itu gak benar. Segitu saja yg awam ketahui. Yg betul2 tahu ya orang dalamlah. Yg diluaran hanya nerka2 saja. Kalau saya ya pake’ logika saja kalau gak ada fakta ani nyoblos Prabowo ya itu saya anggap sampah. Begitu juga bantahan SBY sama sampahnya bagi saya sebelum memang SBY mampu membuktikan ani pilih Jokowi. Hanya saja siapa yg lebih tahu ttg ani: SBY atau Prabowo? Bagi saya SBY. Kalau memang ani nyoblos Prabowo, ya artinya SBY mempolitisir masalah ini demi kepentingan politik partai democrat. Simple saja koq. Hanya yg repot itu adalah orang2 diluaran yg sok pinter krn mau bela si ini dan si itu, jadi bikin2 opini yg salah! Nesare From: [email protected] <[email protected]> Sent: Friday, June 7, 2019 10:32 PM To: [email protected]; nesare <[email protected]>; Ajegilelu <[email protected]>; Lusi Djerman <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] kepribadian Kalau saya justru jadi melihatnya kenyataan BELUM adanya DEMOKRASI yang baik dalam masyarakat Indonesia, apalagi sudah menjadi kepribadian! Bahwa seseorang ataupun parpol berubah haluan, pindah dari satu koalisi kekoalisi lain dalam perpolitikan wajar-wajar saja, TIDAK ada yang salah atau dipersalahkan! Kapanpun itu terjadi, apalagi pasca pemilu baru-baru ini. Belum lagi kalau diperhatikan 16 parpol yang terlibat dalam pemilu kali ini tidak ada perbedaan mendasar, baik yang berdasarkan nasionalis maupun Agamais, sama-sama mengusung PANCASILA! Yang PATUT dipersoalkan, kubu yang KALAH saat pemilu HARUS BERANI menerima dan mengakui kekalahan secara kesatria! Untuk maju bersama-sama meneruskan perjuangan membangun masyarakat lebih baik. Boleh saja mengambil sikap bergabung dalam pemerintah, boleh juga mengambil sikap OPOSISI! Karena dalam berdemokrasi, juga ada baiknya muncul parpol oposisi yg bertugas selalu mengawasi, mengkritik jalannya pemerintah dari luar pemerintah, ... Tentu terserah saja dengan perhitungannya sendiri-sendiri, selama TUJUANNYA jelas dan TEGAS untuk membangun lebih baik! Bukan sebaliknya MERUSAK, mensabot bahkan berusaha keras meruntuhkan pemerintah yang berkuasa, ... Sedang masalah Prabowo menyebutkan sikap Ani mendukung dirinya, menurut saya BUKAN msalah yg perlu dipersoalkan oleh SBY, sekalipun jelas tujuan Prabowo berusaha agar PD dgn SBY nya bisa tetap berada di BPN, tidak menyebrang kekubu sebelah!!! Kan boleh-boleh saja orang berucap dan tanpa ada ketegasan tujuan apalagi pemaksaan agar TETAP berada di BPN! Bukankah pemilu sudah usai, dan TUGAS koalisi, BPN itu praktis sudah berakhir, tidak ada yg perlu dipertahankan. Setelah memperhitungkan kenyataan kubu-02 PASTI KALAH, setiap parpol boleh-boleh saja menetapkan jalan yg dianggap lebih baik utk kemudian hari, ... TIDAK ada dan TIDAK mungkin memaksakan mereka TETAP berada di kubu-02, lalu kalu ikut pemerintah jadi penghianat! TIDAK! Ber-DEMOKRASI lah secara baik-baik, ... untuk kemajuan bersama bangsa ini, ... 'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 8/6/2019 0:44 寫道: Wah gawat. Ente tahu dari mana ani memilih Prabowo? Sembarangan aja! Ente ini sudah buta atau memang pura2 gak ngerti politik? Jelas SBY mempolitisir pernyataan Prabowo, tetapi isi hati ani siapa yg lebih tahu?! Coba lihat secara objektif. Jangan personal krn mendukung Prabowo saja! Coba bagi2 cerita gimana bisa ani memilih Prabowo ini! Dari mana berita ani memilih Prabowo ini? Ente lihat coblosannya ani di national university hospital di singapura itu? Pemilu ini masih LUBER loh hati2! Jangan bikin blunder yg enggak2! Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> <[email protected]> Sent: Friday, June 7, 2019 11:52 AM To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; GELORA45 <mailto:[email protected]> <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] kepribadian Kenapa si beye tersinggung / keberatan / malu dengan pilihan istrinya? Karena kepribadian karet. Mental pengkhianat. --- lusi_d@... wrote: Nah sebagai bahan tandingan, saya unggah juga tulisan Desy tentang kejadian peristiwa yang sama sesuai dengan pandangan masing-masing penulisnya tentang kedua kepribadian. Salam. Lusi.- BERITA POLITIK INDONESIA Am 03.06.2019 veröffentlicht Kebiadaban Prabowo Ditengah Keluarga Cikeas yang Sedang Berduka. Ditulis oleh : Desy. Dikutip Dari Seword.com. Dimana saja dan kapan saja Prabowo Subianto, capres no 02 yang selalu dielu-elukan pendukungnya menyelipkan kalimat berkampanye. Bukan simpati yang didapat namun malah memancing cibiran jika berpolitik tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini Prabowo dijadwalkan melayat ke kediaman SBY di Cikeas. Sungguh memalukan dan tidak pantas menurut saya, ketika keluarga Cikeas sedang berduka, Prabowo justru sempat-sempatnya berpolitik dengan menyisipkan kalimat bahwa Ani Yudhono memilih dirinya sebagai presiden 2019. Beradabkah seorang Prabowo disaat berkunjung ke rumah duka dimana seharusnya dia menyampaikan bela sungkawa kepada SBY. Namun dengan penuh percaya diri Prabowo justru membawa politik dan menyinggung Any Yudhoyono memilih dirinya dalam pilpres 2014 dan 2019. Lebih lucunya lagi ketika Prabowo usai mengatakan pidatonya yang tidak beretika tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono langsung memberikan tanggapanya didepan wartawan. Tentu saja SBY merasa keberatan dengan apa yang disampaikan oleh Prabowo. Seperti yang dikutip di harian Kompas, SBY dengan jelas menyampaikan bahwa tidak elok jika istrinya dikaitkan dengan politik. SBY dengan tegas mengatakan agar tidak mengaitkan istrinya dengan politik. "Ini hari penuh ujian bagi saya, ibu Ani jangan dikaitkan dengan politik. Please, saya mohon pernyataan pak Prabowo, bu Ani pilih apa, tentu tidak tepat, tidak elok disampaikan. Tolong mengerti perasaan kami yang berduka, Ibu Ani yang baru saja berpulang. Beliau tidak ingin dikaitkan dengan politik apa pun.” Apa yang Prabowo sampaikan sangat tidak beradab. Lebih tidak beradab Prabowo daripada viralnya Kaesang yang menggunakan celana jeans saat melayat ibu Ani. Siapa sekarang yang lebih sopan dan memiliki etika. Seorang anak muda yang mengenakan celana jeans atau seorang capres yang katanya adalah negarawan dan tokoh bangsa yang menjadi panutan namun tidak tahu sopan santun. Sangat disayangkan disaat keluarga SBY tengah berduka, Prabowo kembali menuai polemik. Baru kemarin Any Yudhoyono dimakamkan dan baru kemarin SBY mengatakan keinginan bu Any untuk tidak lagi terlibat dalam politik. Hanya dalam kubu Prabowo saja orang yang sudah meninggal masih saja dilibatkan dalam hal politik. Dulu petugas KPPS meninggal yang dipolitisasi, sekarang ibu Any yang jelas-jelas sudah beristirahat masih saja diseret dalam ranah politik Sangat menggelikan seorang capres yang seharusnya memiliki kesopanan dan tahu bagaimana seharusnya menempatkan diri namun kerap berbuat kesalahan didepan publik. Bukan hal yang megejutkan Prabowo sering menunjukkan betapa tidak beradab dan beretikanya dirinya. Namun kali ini memang sangat tidak pantas menyinggung isu politik ditengah keluarga yang sedang berdukacita. Bukan menjadi rahasia lagi jika Prabowo memang sangat terobsesi menjadi presiden. Segala hal mampu dia politisasi untuk kepentingan dirinya. Segala hal mampu dia tumbalkan untuk bisa mewujudkan keinginanya menjadi presiden. Jika dipikir-pikir untuk apa Prabowo menyinggung pilihan Any Yudhoyono padahal dia tahu bahwa dirinya sedang berada diantara orang yang berduka. Tidak lain tujuan Prabowo adalah untuk mendapatkan empati dan simpati lagi dari masyarakat. Mungkin dia pikir dia masih dalam masa berkampanye sehingga dia perlu menyebutkan siapa saja yang memilihnya, dengan harapan rakyat yang bersimpati dengan Any Yudhoyono juga akan bersimpati kepada dirinya. Dia sadar bahwa Any Yudhoyono mendapat banyak tempat di hati masyarakat Indonesia. Saat ini sosok Any sedang menjadi sorotan bagi bangsa Indonesia juga dunia. Prabowo masih berharap dia akan mendapat tambahan dukungan dan respect dari orang-orang disekitar Any Yudhoyono. Isi pikiran Prabowo saat ini memang hanya tentang politik. Dia tidak akan berhenti mempolitisasi setiap moment jika dia belum terpilih sebagai presiden. Namun Prabowo semakin menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Masyarakat akan semakin terbuka pikiranya tentang Prabowo yang memang tidak pantas menjadi presiden. Kira-kira apa kata netizen pendukung Prabowo yang kemarin heboh mengomentari penampilan Kaesang saat datang melayat Any Yudhoyono. Banyaknya nyinyiran mengatakan Kaesang tidak beradab, tidak diajari sopan santun dan banyak lagi kata-kata yang kasar dan menyakitkan. Bisakah para netizen yang maha benar bersikap objektif dan memberikan penilaian terhadap perkataan Prabowo yang tidak pantas ini. Bisakah mereka mengatakan bahwa apa yang disampaikan Prabowo tidak beradab, bisakah mereka mengatakan bahwa Prabowo tidak pernah belajar sopan santun? Sudah pasti tidak bisa karena mereka membutakan diri melihat mana yang benar dan mana yang salah. Beginn der weitergeleiteten Nachricht: Datum: Fri, 7 Jun 2019 09:07:01 +0200 Von: Lusi D. Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua kepribadian dalam dunia politik. Salam Lusi.- SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht Oleh: Asyari Usman Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu Ani terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak. Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan dianjurkan orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang yang meninggal dunia. Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak PS langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019. “Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan jawaban ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah mengoreksinya. Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang yang akan mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi masih berkoalisi dengan Prabowo? Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga bukan masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya menjelaskan kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu kebaikan yang sangat besar. Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait pencapresan Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. Dalam arti, dia tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini. Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak suka kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar sepenuh hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS menceritakan kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan pernyataan Prabowo itu? Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres. Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. Prabowo terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali terhadap kemenangan Prabowo yang dirampok itu. Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung menusuk PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. Betul-betul licik. Tak bisa dipercaya. Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah ahli berbohong. Ahli bermunafik. Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti tambahan? Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan Prabowo. SBY berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia puja-puji Prabowo sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau menerima keputusan KPU. Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu. Itulah yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul… Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah tidak membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi Prabowo. Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo. Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi, koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo, sungguh tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, pilpres sudah lewat. Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia hanya menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> 不含病毒。 <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> www.avg.com
