Coba saya nimbrung disini.

Saya rada setuju sama bh jo ttg homeless di usa yg malas dgn mengganti malas 
dgn bermasalah. Ini di usa dimana system sosialnya ada. Orang gak ada pekerjaan 
bisa pergi ke SSA utk mendapatkan pekerjaan. Gak ada duit bisa minta makan dan 
juga duit. Gak ada tempat tidur bisa pergi ke penampungan sementara. Gak ada 
asuransi kesehatan aman pasti diobati dan malahan dikasih obat.. Masalahnya 
kenapa masih ada yg bergentayangan dibawah jembatan, didepan gereja dll? Ini 
karena mereka2 ini ada problem/bermasalah. Ada yg drug addict, kecanduan 
alcohol, mental disorder dll dimana mereka ini gak bisa/mau ikut system social 
yg sdh ada itu. Apakah malas? Bisa jadi ttp kebanyakan ya itu problematic. 

 

Di negara berkembang dan miskin termasuk Indonesia kasusnya mungkin lain. Kalau 
orang Indonesia malas ya jelas tidak. Wong kerjanya keras begitu tahan banting.

 

Masalah ada buruh cina yg kerja diindonesia itu gak benar masalahnya adalah krn 
buruh cina lebih pintar atau lebih rajin. Bukan ini. Ini masalah bisnis dan 
masalah imigrasi. Coba baca dulu yg teliti masalah ini.

 

Koq bisa ya drug addict berasal dari kapitalisme? Teori apa yg bung pakai?

Bung dgn kata lain mau mengatakan komunisme gak akan ada drug addict?

Aduh jangan begini bung sampai2 masalah orang doing drug, bung bawa keideologi. 
Sadar ndak bung ngomong begini radikal dalam arti apa2 saja bung kait2kan ke 
ideologi. Moso’ drug bisa gak ada didunia komunisme. Saya gak usah nulis 
sosialismelah ya krn bung sdh tahu sekarang ini dinegara sosialis drug itu ada. 
Apalagi bung sudah bawa2 jamannya Mao yg seakan2 bisa gak ada pelacuran, 
pecandu. Aduh jangan begini bung. Saya yg bukan ahli cina saja tahu gak mungkin 
ini. Shanghai itu dari dulu, jaman Mao s/d sekarang sudah terkenal dgn 
modernisasinya termasuk semua penyakit social yg bung klaim gak ada dijaman Mao 
itu. Gak usah susah2, coba saja ikutin ceritera shanghanthan 1920an bagaimana 
Chinese brotherhood yg adalah pelarian shaolin bikin komunitas yg akhirnya 
disebut triad dihongkong. Walaupun film shanghaithan ini fiktif ttp begitulah 
wajah kehidupan metropolitan di shanghai tahun2 itu. Setelah Mao menang memang 
pelacuran ditutup habis2an ttp bukan berarti tidak ada pelacuran bung! Inikan 
alasan agamais Islam dipakai utk membangun khilafah. Emangnya siapa yg bisa 
menerima permasalahan social dapat ditanggulangi dgn suatu system agama maupun 
ideologi. Gak ada itu bung! Sayang bung masih percaya dgn komunisme dapat 
menghapuskan pelacuran, percanduan dll. Disinilah letak radikalisme bung. 
Mengerti kenapa saya menyebut bung radikal?

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Tuesday, June 11, 2019 2:45 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: AW: Re: [GELORA45] Telusur tvOne: Kertajati Bandara 'Mati Suri' 
(29 5 2019)

 

  

Bukan pertama kali saya dengar orang dengan serta merta menyalahkan dan menuduh 
rakyat, orang miskin atau homeless sebagai orang-orang yang malas, pemabuk, 
drug-addict, tidak berdisiplin dsb....Sudah tentu di segala bangsa terdapat 
orang yang malas. Tapi kita bicara soal malas, pemabuk, drug-addict sebagai 
penyakit sosial, bukan HANYA SOAL INDIVIDUAL.  Dulu juga ketika krisis melanda 
Yunani, kontan media Eropa mencekoki rakyatnya dengan tulisan-tulisan rasis 
yang merendahkan dan menghina rakyat Yunani sebagai rakyat yang malas, maunya 
enak-enak, etc. Di Indonesia pun banyak orang yang menyalahkan dan bilang bahwa 
buruh atau orang Indonesia bawahan itu malas bekerja....Sekarang juga ada orang 
yang membenarkan "import" tenaga kerja Tiongkok karena dianggap  buruh tiongkok 
kerjanya lebih baik/trampil dari pada buruh Indonesia. Itu saya anggap 
penghinaan terhadap buruh Indonesia. Seperti anak seorang teman yang kaya raya 
juga mengeluh dan bilang pembantunya malas... Saya tanya berapa gajih pak 
Slamet itu yang sudah berkeluarga dan punya dua anak? Satu setengah juta 
rupiah!!! Saya bilang kalau kamu kerja dan digajih satu setengah juta rupiah, 
akan bersemangatkah engkau bekerja?? Diam seribu bahasa!!! Dulu saya pernah 
berdebat tentang soal hukuman mati bagi mereka yang terlibat dalam soal drug... 
Saya bilang soal drug-eddict, dan juga banyak soal kejahatan lainnya adalah 
penyakit sosial yang bersumber pada kapitalisme. Soal itu tidak dapat 
diselesaikan dengan hukuman mati. Orang harus mau mempelajari akar dari masalah 
sosial itu.. Kalau memang serius mau melenyapkan , akarnyalah yang harus 
dihilangkan yang menjadi sumber dari penyakit sosial itu. Orang tidak 
dilahirkan untuk menjadi drug-addict atau pemabuk, atau penjahat, pelacur, 
dsb...Mengapa dulu, di masyarakat sosialis Mao, pelacuran, pencandu, dan segala 
macam penyakit sosial dapat dilenyapkan dalam waktu tidak lama??? Sekarang 
muncul kembali semua penyakit sosial itu dengan dibongkarnya sistim sosialis 
dan diganti dengan kapitalisme yang menempatkan kaum buruh dan tani di tingkat 
paling bawah dari piramid dan dihisap untuk menghasilkan kekayaan yang hanya 
dinikmati oleh kelas-kelas borjuasi Tiongkok!!!

 

On Monday, June 10, 2019, 11:49:46 PM GMT+2, [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected]> wrote: 

 

 

  

Kita mengetahui keadaan seperti ini di kota2 besar di Amerika. Namun, yg harus 
disalahkan bukan pemerintah nya saja, tetapi rakyat nya yg miskin (homeless) yg 
"malas" dan tidak mau "berdipsiplin". Mereka, tidak sedikit atau kebanyakan, 
adalah para "pemabuk dan drug addict". Angka pengangguran di Amerika adalah 
rendah sekali, barangkali satu yg paling rendah di dunia sekarang ini yaitu 
3.6%. Banyak perusahaan2 atau tempat2 yg memerlukan pekerja2 tetapi tidak bisa 
mendapatnya. Dan tempat2 kerja yg kosong ini di isi oleh imigran2, yg legal 
maupun yg tidak legal. Misal, di tempat2 pekebunan buah2 an dan sayur2 an, 
hampir semua pekerjanya orang dari Mexico. Orang2 Amerika sendiri tidak mau 
bekerja di tempat2 begini dan malas atau tidak mau "bekerja kasar" dan lebih 
baik mendapat social welfare atau menjadi "homeless people".

 

Saya sendiri bukan orang/WN Amerika dan juga tidak mau dikasih atau mengambil 
WN Amerika walaupun bisa mendapat dgn mudah sebab banyak point2 yg saya tidak 
senang atau tidak setuju dgn Amerika. Namun, banyak fasilitas2 pekerjaan dan 
akademik yg nomor wahid di dunia sekarang ini adalah di Amerika. Sampai baru2 
ini saya bekerja di Amerika (tetapi keluarga tidak saya pindah ke AS tetapi 
saya sering pulang balik ke dan dari AS). Sistim "survival of the fittest" yg 
berlaku di AS adalah prinsip yg ada segi positif nya, misal, yg sangat 
mendorong kemajuan. 

 

Kalau orang AS bisa menjadi homeless adalah "salahnya mereka sendiri" dimana 
imigran2 atau orang LN saja bisa mendapatkan pekerjaan apa saja dan bisa 
mendapat posisi tinggi di AS dimana angka penganguran sangat rendah disana 
seperti tsb diatas. Dulu saya belajar di Jerman dan bekerja di Jerman, tetapi 
utk kemajuan utk orang LN (Auslaender) lebih baik di AS daripada di Jerman.

 

Salam, 

BH Jo

 

 



Kirim email ke