Ya, tautan beritanya saya sertakan pada posting kemarin (di bawah), dan 
seingat saya 3 tahun lalu sudah kita obrolkan soal konsistensi Jokowi ini waktu 
dia dikritik masyarakat/ormas karena melanjutkan proyek yang sudah dia batalkan 
3 minggu sebelumnya. Jokowi cuma bisa bilang, dia mau kerja bukan berdebat. 
Padahal jelas dia tidak punya argumen kenapa bersedia jadi boneka RRC yang 
mengincar 3 KEK di Indonesia bagian utara. Jadi, tidak bisa dibantah bahwa 
banyak langkah Jokowi yang dipuji pendukungnya sebagai langkah kuda itu 
sesungguhnya memang langkah kuda troya. Ditunggangi, dikendalikan, mengangkut 
banyak kepentingan politik asing. Contoh mutakhir, membiarkan mahalnya harga 
tiket pesawat supaya maskapai asing masuk dan swasta ikut berjualan avtur 
(dengan menumpang fasilitas Rakyat / Pertamina).
Nah, semua ini tidak lepas dari kiprah nekolim dalam amandemen UUD'45. Kenapa 
nekolim menunjuk SBY sebagai aktor utama skenario UUD neolib, masih misteri. 
Banyak analisa yang panjang-panjang dan saling bertabrakan mengenai ini, 
termasuk misteri tentang kenapa Wiranto atau Megawati yang saat itu punya 
pendukung kuat masing-masing hanya kebagian pemeran pembantu (sampai sekarang). 
Kenapa justru Gus Dur yang menyeruak di hari-hari pertama reformasi? Hanya 
untuk menyingkirkan Habibiekah? Ya, kelihatannya seperti itu karena toh 
gebrakan kekuatan Rakyat melalui Gus Dur segera dipadamkan koalisi 
gendruwo-Wiranto-Mega dengan bantuan penuh dari Amien Rais cs. SBY? Diam-diam 
menjahit pakaian kebesaran dan menyiapkan riasan spesial untuk tampil sebagai 
presiden pertama RI yang genap 2 kali masa jabatan... dan tampaknya ini akan 
dijadikan tradisi mulai 2024 dengan selingan boneka 2014-2019-2024. 

Pemimpin / presiden yang genap masa jabatan serta pergantiannya yang damai 
memang ideal sebagai simbol stabilitas suatu negara. Tetapi di Indonesia 
stabilitas dengan landasan UUD neolib tentu gampang sekali membaca untuk 
kepentingan siapa stabilitas itu. 

   --- jetaimemucho1@... wrote:
Malah saya ingat Jokowi sendiri pernah bilang bahwa KA itu sebenarnya bukan 
prioritas..Herannya, sudah bilang begitu, kok masih juga diteruskan...Jadi, 
seperti juga bandara Kertajati, dibelakang ini ada kepentingan politik dan 
dorongan pemodal asing yang memang butuh untuk memutar modalnya justru di 
bidang infrastruktur...bukan di bidang produktif yang membangun ekonomi 
nasional...Sudah bolak balik diberitakan tentang apa sebetulnya motivasi dan 
kepentingan yang dikejar Tkk yang dengan agresif mencari ruang untuk menanamkan 
modalnya. bukan saja karena modal memang harus ditanam, kalau tidak ya jadi 
busuk! Tapi juga merupakan solusi untuk overcapacity/ overproduction Tkk 
misalnya dalam baja yang tak terjual. Makanya salah satu pasal dari perjanjian 
utang yang menyangkut pembangunan infrastruktur, adalah digunakannya 
mesin-mesin dan baja dari Tkk. Ditambah lagi pasal yang menyangkut tenaga kerja 
Tkk. Ini sudah menjadi pengetahuan umum di dunia. Hanya pengekor remo yang tak 
mau mengakuinya...
    On Sunday, June 16, 2019, 5:17:59 PM GMT+2, ajeg wrote:
     Tidak mesti / harus, karena kan cuma proyek hiburan, atau semacam "mahar" 
dari target strategis sesungguhnya yakni, KEK di Sumatra-utara, KEK 
Kalimantan-utara, dan KEK Sulawesi-utara. Ketiganya merupakan pintu masuk 
pelayaran internasional melintasi wilayah laut Indonesia (ALKI). 

Soal kereta pura-pura cepat itu Jokowi sendiri sempat membatalkan kok. Waktu 
itu (2015) para pengekor kan tepuk tangan gembira memuji-muji pembatalan ini.
Alasan Jokowi Batalkan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

--- ilmesengero@... wrote:
Mengapa mesti ada kereta supercepat antara Bandung dan Jakarta. Apakah dengan 
kereta cepat bisa diangkut barang-barang produk industri dan pertanian dari Bdg 
ke Jakarta atau sebaliknya, ataukah khusus untuk transport penumpang? 

  

Kirim email ke