Sudah pasti kesalahannya di orang-orang KPU. Situng yang dibanggakan sebagai hitung-cepat versi resmi nyatanya molor gila-gilaan. Lagi-lagi Rakyat dibohongi a/n kegiatan resmi. Ditambah 600an petugas KPPS yang meninggal (dalam tugas resmi) dan banyaknya komisioner KPU yang kena sanksi DKPP, jelas KPU menjadikan pemilu 2019 sebagai pemilu terburuk sepanjang sejarah. Lantas apa reaksi pemerintah atas buruknya penyelenggaraan pesta Rakyat ini? Tidak ada. Pemerintah, yang kebetulan ikut kontes sebagai petahana justru berpihak pada KPU dalam sidang MK. Pemerintah kelihatan begitu menikmati "kemenangan" di atas rusaknya KPU, kematian ratusan nyawa, dan mengerasnya keterbelahan di masyarakat. Padahal dengan pemilu seburuk ini kemenangan capres / caleg ya ikut cacatlah. Buktinya, sang "presiden terpilih" sampai harus mencari penyangga legitimasinya dengan ngemis rekonsiliasi. --- SADAR@... wrote: Lho, ... KPU secara resmi menetapkan pemenang PILPRES 2019 hasil hitungan manual berjejang, ... BUKAN hasil hitungan SITUNG! Sedang yang belum selesai sampai sekarang adalah hitungan situng berdasarkan C1 yg masuk di KPU! Sekalipun patut dipertanyakan, mengapa dan dimana masalahnya SITUNG yg mestinya bisa lebih cepat dari hitungan manual, ternyata sudah lewat 2 bulan lebih masih belum juga selesai???
ajeg 於 26/7/2019 23:17 寫道: Dua bulan yl. KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang dengan meraup 85.607.362 suara. Padahal sampai hari ini, Jumat 26 Juli 2019, penghitungan suara pilpres masih berlangsung. Norak sekali, penghitungan suara belum selesai tapi Jokowi sudah ditetapkan sebagai pemenang dengan 85 juta suara! Hitung suara pilpres hingga 26 Juli 2019 pukul 21:00:03 WIB Wajarlah Jokowi-Mega-PDIP mengemis rekonsiliasi. Sementara, rekan sekoalisi 01 mulai gerah dan berbalik mencela sang junjungan. Bodohlah Prabowo kalau bersedia menempatkan partainya dalam kabinet Jokowi.
