Presidential threshold itu peraturan hasil utak-atik SBY untuk memenangkan 
pilpres 2009 dalam satu putaran - sampai pilpres 2014 ambang batasnya 25% kalau 
tidak salah. Noraknya, PD ikut-ikutan walk out ketika koalisi Jokowi di DPR 
menurunkan ambang batas jadi 20%. Rekonsiliasi togog, terutama rekonsiliasi 
nasi goreng, tidak ada artinya kalau tidak membahas penyingkiran SBY dari 
cawe-cawe politik, dari merusak Indonesia.
Pemilihan presiden melalui MPR masih memungkinkan tokoh non partai untuk 
diangkat. 

--- jonathangoeij@... wrote:
Saya kira problem pilpres kali ini terletak pada presidential threshold 20% dan 
partai2 yg mengajukan capres hasil pemilu 2014. 
Seandainya melalui MPR, Megawati akan 2x jadi presiden, SBY dan Jokowi tidak 
akan jadi presiden.

--- ajegilelu@... wrote :


Kelihatannya UUD amandemen memang dirancang untuk itu, pasang boneka.



--- jonathangoeij@... wrote:

Seandainya MPR memlih presiden, Jokowi tidak pernah jadi presiden.

--- ajegilelu@... wrote :

Ya bagus saja kalau pilpres 2019 yang belanjut dengan "pertemuan Togog-Semar" 
di restoran lonte (lontong sate, hehe) bikin pendukung Jokowi menyalahkan 
pemilihan langsung. Apa ini berarti Anda juga menyesali hasil pilpres 2014?
--- SADAR@... wrote:
Menurut saya, KESALAHAN UTAMA pilpres bukan pada KPU, tapi harus dilihat dari 
awalnya, ditentukan Pemilihan Langsung yg dimulai 2001 itu! Dimana kenyataan 
setelah berlangsung 4X,  jelas kesadaran masyarakat Indonesia BELUM bisa 
menempuh pemilihan langsung, ... TIDAK membuktikan itulah "DEMOKRASI" yg jurdil 
kecuali bikin gaduuuh dan menghabiskan energi dan biaya sangat besar! Jadinya 
yaaa, ... masih saja demokrasi kebablasan yang amburadul! Celakaya, hasil pahit 
ini tetap harus ditelan oleh rakyat sendiri!
Sudah begitu, yang keluar sebagai pemenangnya juga SULIT bisa dikatakan adalah 
tokoh pimpinan yang PALING BAIK dan IDEAL, karena akhirnya juga TIDAK TERHINDAR 
dengan jalankan dagang sapi, bagi-bagi kursi! Yang terjadi, BUKAN memilih 
menteri-menteri yang profesional dan bisa membawa bangsa dan negara ini maju 
lebih baik, ....
Jauh akan lebih baik kembali jalankan DEMOKRASI atas dasar musyawarah 
perwakilan saja, Presiden dipilih dan ditentukan oleh MPR dan bertanggungjawab 
penuh pada MPR! Anggota MPR dari anggota DPR + Gubernur Propinsi dan Ketua & 
Wakil DPRD yg dipilih langsung oleh masyarakat! Perwakilan rakyat inilah yg 
masih bisa diharapkan lebih bertanggungjawab dalam memeilih dan menentukan 
capres-capres yg keluar menjadi PRESIDEN RI!

Kenyataan yang dipilih langsung itu TIDAK selalu adalah tokoh yg paling baik! 
Yang PASTI, bagaimana mungkin ratusan juta rakyat bisa mengenal baik 
capres-capres yang diajukan??? TIDAK MUNGKIN BISA!!! Lalu, bagaimana mereka 
bisa menentukan mana capres yang lebih baik??? Yang bisa kasih amplop, ... yang 
bisa memberi janji-nanji manis atau yang simpatik saja???

  

Kirim email ke