Ada agama2 yang tidak bertuhan (nontheism) diantaranya Buddhism, Jainisme, dan 
kepercayaan lokal.Apakah kemudian tidak boleh jadi pejabat? atau bahkan bukan 
orang Indonesia?
Kenapa kok yg muslim bersumpah sedang non muslim berjanji? Apakah tuhannya non 
muslim dianggap bukan tuhan?

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Mestinya boleh selama si calon pejabat bertuhan (Sila Ketuhanan). Beragama 
adalah cara termudah untuk menunjukkan bertuhan.
Di Indonesia calon pejabat yang muslim bersumpah, yang non-muslim berjanji.

--- djiekh@... wrote:
Di Nederland, pejabat yang diangkat yang beragama bersumpah.Yang tidak 
beragama, berjanji.Kalau di Indonesia apa boleh pejabat tidak beragama?
Pada tanggal Jum, 2 Agu 2019 pukul 17.06 Jonathan Goeij menulis:


Kesimpulannya mereka yang naturalisasi tidak perlu diragukan kesetiaannya pada 
NKRI, Pancasila, Konstitusi dll karena sudah bersumpah, sedangkan yang native 
born citizen perlu diragukan kesetiaannya karena tidak pernah bersumpah setia.
Eh... apakah pejabat waktu dilantik jadi presiden, menteri, dlsb tidak ada 
sumpah?

--- ajegilelu@... wrote :

Tudingan Jokowi cs soal anti-Pancasila dan anti-UUD'45 jadi bumerang ketika 
masyarakat menanyakan kapan Jokowi cs pernah mengucapkan sumpah setianya kepada 
Pancasila, UUD'45, dan NKRI, dengan lantang di ruang publik. Cepatnya bumerang 
berbalik membuat mendagri buru-buru mengelak, kelompoknya bukan mau membubarkan 
ormas yang dituding.

Warganegara biasa tidak harus mengucapkan sumpah, apalagi kalau tidak dituding 
'anti'. Lain cerita untuk warga naturalisasi. Setiap negara tentu punya aturan 
sendiri-sendiri soal ini.
--- jonathangoeij@... wrote:
 Tidak jadi dibubarkan toh????Ealah!!!!!!
Pertanyaan ini menarik "kapan Jokowi pernah melantangkan sumpah setia kepada 
NKRI, Pancasila, dan UUD'45?" 
Saya rasa yang mengucapkan sumpah itu mereka yang naturalisasi atau dipaksa 
naturalisasi walaupun sudah beberapa keturunan ada disini.
--- ajegilelu@... wrote :

Selain mengundang kecaman dari Kontras, YLBHI dll. kekacauan berpikir Jokowi 
tentang ideologi dan keamanan negara saat wawancara dengan AP juga menggugah 
orang untuk bertanya, "kapan Jokowi pernah melantangkan sumpah setia kepada 
NKRI, Pancasila, dan UUD'45?" 

Pertanyaan sederhana ini rupanya sangat sulit dijawab. Apabolehbuat, mendagri 
pun buru-buru menyelamatkan Jokowi dan kelompoknya bahwa mereka bukan mau 
membubarkan FPI tapi hanya memperingatkan.

sumpah dan janji setia


| 
| 
|  | 
setia kepada pancasila,riziq,somad - YouTube


 |

 |

 |





| 
| 
|  | 
setia kepada pancasila,riziq,somad - YouTube
 |

 |

 |



Kapan giliran Jokowi?


-

Bukan Mau Membubarkan, Presiden Jokowi Hanya Memperingatkan FPI

Selasa, 30 Juli 2019, 18:50 WIB | Laporan: Aprilia Rahapit

RMOL.ID - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan Presiden Joko Widodo 
hanya memperingatkan Front Pembela Islam (FPI) untuk taat pada ideologi negara.

"Pak Jokowi memberikan warning saja, menyangkut ideologi negara itu sudah final 
dan sudah mengikat seluruh ormas yang ada," kata Tjahjo di Gedung Ombudsman 
Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (30/7).

Menurut Tjahjo, Presiden mempersilakan keberadaan ormas, termasuk FPI namun 
tetap sesuai dan taat pada ideologi negara. Hal itu tidak bisa ditawar.

"Silakan ormas, mau ormas keagamaan, mau sifatnya sosial, apapun juga harus 
menerima ideologi negara secara konsisten," ujarnya.

Soal izin perpanjangan FPI yang hingga kini belum disetujui, Mendagri Tjahjo 
menjelaskan, pihaknya masih menunggu hasil evaluasi pihak Direktorat Jenderal 
Politik dan Pemerintahan Umun Kemendagri terkait pengajuan surat keterangan 
terdaftar (SKT) baru maupun perpanjangan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi membuka kemungkinan tidak memperpanjang izin SKT 
untuk FPI jika tidak tunduk pada Pancasila. Hal itu diungkapkan Jokowi dalam 
wawancaranya dengan Associated Press (AP) pada Jumat (27/7).

Menurut Jokowi, pemerintah mungkin saja tidak memperpanjang SKT FPI bila ormas 
pimpinan Habib Rizieq Shihab tersebut dinilai tidak sejalan dengan ideologi 
bangsa dan mengancam keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


"Jika pemerintah meninjau dari sudut pandang keamanan dan ideologis menunjukkan 
bahwa mereka (FPI) tidak sejalan dengan bangsa," kata Jokowi kala itu, Minggu 
(28/7).

Editor: Azairus Adlu



Kirim email ke