Agama Budha di Indonesia memang membuat argumen yang sesuai dengan Ketuhanan 
dalam Pancasila.Ya bisa saja kalau mau lha wong memang Budha bilang "devas do 
exist", tetapi.........
Wikipedia:
Existence of godsSee also: God in BuddhismThe Buddha said that devas 
(translated as "gods") do exist, but they were regarded as still being trapped 
in samsara,[3] and are not necessarily wiser than we. In fact, the Buddha is 
often portrayed as a teacher of the gods,[4] and superior to them.[5]
Since the time of the Buddha, the denial of the existence of a creator deity 
has been seen as a key point in distinguishing Buddhist from non-Buddhist 
views.[6] The question of an independent creator deity was answered by the 
Buddha in the Brahmajala Sutta. The Buddha denounced the view of a creator and 
sees that such notions are related to the false view of eternalism, and like 
the 61 other views, this belief causes suffering when one is attached to it and 
states these views may lead to desire, aversion and delusion. At the end of the 
Sutta the Buddha says he knows these 62 views and he also knows the truth that 
surpasses them.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Apa pernah mempelajari Buddhisme ? Dari mana disimpulkan Buddhisme tidak ber 
Tuhan ?Ini tulisan eman dari milis lain:Banyak orang berpikir bahwa agama 
Buddha tidak mengenal Tuhan alias atheis. Benarkah begitu? Dalam "Wairocana" 
Buddhazine ada artikel yang menjelaskan hal itu lebih lanjut.

Memang Buddha tidak pernah menjelaskan secara detail tentang Tuhan apalagi 
mempersonifikasi Tuhan seperti agama lain, tapi bukan berarti tidak ada Tuhan 
dalam agama Buddha.

Dalam Udana disebutkan bahwa Buddha membahas tentang Tuhan, yaitu:
Ketahuilah para Bhikku bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak 
Menjelma, Yang tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikku, apabila tidak 
ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Dicpitakan, Yang 
Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, 
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikku, karena ada 
Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, 
maka untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari 
sebab yang lalu menjadi mungkin.

Ungkapan diatas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta 
Pitaka, Udana VIII:3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama 
Buddha. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Bahasa Pali adalah Atthi Ajatam

Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak 
Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang 
Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta}, yang tidak dapat 
dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi 
dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak terkondisi (asankhata} maka manusia yang 
berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan 
(samsara) dengan cara bermeditasi.

Kaum Mahayana zaman dulu di Jawa (ada dalam Kitab Sanghyangkamahayanikan) dan 
juga Kaum Tantra menyebut Tuhan sebagai Sanghyang Adi Buddha.

Ada juga yang menggambarkan Tuhan sebagai Dharmakaya, yaitu perwujudan Dharma 
(Kebenaran) yang absolut, esa, ada dengan sendirinya, kekal, tidak dibatasi 
oleh ruang dan waktu, senantiasa ada di mana saja. Tubuh kebenaran ini berada 
dalam segala sesuatu karena tubuh ini melampaui bentuk dan ruang. Kadang-kadang 
kita menangkap sekilas realitas yang menakjubkan ini ketika kita ada dalam 
damai dan menyatu dengan segala sesuatu.

Dharmakaya bukan realtas personifikasi, sekalipun sebagian orang mencoba 
mengungkapkannya dalam bentuk simbol-simbol dan mengimajinasikan atau 
memvisualisasikannya.

Setelah merealisasi Pencerahan Sempurna, Buddha menyadari Kebenaran Absolut 
(Asankhata Dhamma), dan disamakan dengan Kebenaran. Walaupun ada banyak Buddha, 
semua Buddha adalah satu dan sama, tidak berbeda satu dengan yang lain dalam 
Dharmakaya, yang merupakan kemanunggalan Kebenaran.

Banyak yang sudah tahu bahwa salah satu kisah terbaik untuk menjelaskan konsep 
keTuhanan Jawa, yaitu “manunggaling kawula gusti”, menyatunya manusia (kawula) 
dan Tuhan (Gusti) ada dalam pewayangan Dewa Ruci. Uniknya dalam naskah aslinya, 
Sri Wairocana (Werocana) adalah tokoh penting, mewujud dalam diri Dewa Ruci 
yang sedang berdiskusi falsafah ajaran spiritual dengan Bhima. Tidak hanya itu, 
susastra Kunjarakarna dan Angling Dharma (Aridharma) juga menceriterakan bahwa 
Wairocana bertindak layaknya “Tuhan” yang membimbing umatNya. Kita dapat 
menyaksikan bahwa Buddha Wairocana menjadi figure personal yang mengintervensi 
langsung para lakon utama kisah-kisah di negeri Nusantara ini.

Di Tiongkok, Jepang dan Korea, Dharmakaya Wairocana adalah pusat keyakinan 
sekaligus realisasi yang ingin dicapai, meskipun mereka tidak membuat 
kisah-kisah interaktif antara Wairocana dan para umatNya. Agaknya di 
negara-negara Asia Timur ini, porsi impersonal Wairocana lebih banyak 
ditekankan. Jika anda bingung bagaimana bisa Nirwana atau Dhrmakaya diajarkan 
dalam wujud personal. Thich Nhat Hahn mungkin bisa menjawabnya untuk Anda: 
“Mengapa membuang waktu Anda untuk berdiskusi tentang apakah Tuhan itu seorang 
manusia atau bukan, atau apakah Nirwana itu sesuatu yang personal atau 
impersonal? Apakah Tuhan itu sesosok pribadi atau bukan pribadi, merupakan 
pertanyaan dari banyak orang. Mengapa kita harus memenjarakan Tuhan ke dalam 
satu atau dua idee? Dalam pandangan Buddhis tidak ada garis pemisah antara 
keduanya. “Manusia/pribadi mengandung unsur bukan manusia/pribadi dan bukan 
manusia/pribadi mengandung unsur manusia/pribadi. Nirwana adalah hakekat kita 
yang sejati seperti air adalah hakekat sejati dari ombak. Kita berlatih untuk 
menyadari bahwa Nirwana adalah hakekat kita. Tuhan adalah fondasi keberadaan”.
Nibbana atau Nirwana dalam Bahasa Sanskerta adalah kebahagiaan tertinggi 
(Dhammapada 203): bebas dari perubahan, bebas dari kematian, bebas dari segala 
keterbatasan. Itu sebabnya Buddha mengajarkan jalan supaya orang dapat 
menemukan kebahagiaan tanpa syarat.

Kirim email ke